Smart TV kini menjadi arena perebutan kendali antara raksasa media dan raksasa teknologi. Disney, NBCUniversal, dan Warner Bros Discovery mendorong regulator Uni Eropa untuk membatasi dominasi Google, Apple, Amazon, dan Samsung dalam cara konten ditampilkan dan diakses di televisi pintar.
Isu ini bukan sekadar soal urutan aplikasi di layar utama. Para penyiar menilai sistem operasi smart TV dan set-top box sudah berubah dari alat netral menjadi penjaga gerbang yang menentukan apa yang muncul, mana yang dipromosikan, dan seberapa mudah pengguna menemukan layanan tertentu.
Mengapa para broadcaster menekan regulator
Menurut Reuters, sejumlah perusahaan media besar telah mendekati otoritas antimonopoli Uni Eropa agar smart TV dan set-top box dimasukkan ke dalam cakupan Digital Markets Act atau DMA. Aturan ini dirancang untuk menekan kekuatan platform besar yang menguasai akses ke pengguna dan pasar.
Kelompok penyiar itu menilai hanya sedikit operator yang kini bisa memengaruhi hasil bagi jutaan pengguna dan bisnis. Mereka menyebut kontrol atas akses audiens dan distribusi konten telah memberi posisi tawar yang terlalu besar kepada pemilik platform.
Siapa saja yang terlibat
Dorongan ini datang dari koalisi luas yang mencakup Canal+, Disney, ITV, NBCUniversal, Paramount+, RTL, Sky, TF1 Groupe, dan Warner Bros Discovery. Mereka membawa argumen yang sama, yaitu bahwa pasar distribusi konten di TV pintar makin terkonsentrasi pada segelintir perusahaan teknologi.
Berikut ringkasan pihak utama yang disorot dalam polemik ini:
| Kelompok | Contoh perusahaan | Posisi dalam sengketa |
|---|---|---|
| Penyiar dan pemilik konten | Disney, NBCUniversal, Warner Bros Discovery | Mendorong regulasi lebih ketat |
| Platform teknologi | Google, Apple, Amazon, Samsung | Dinilai memegang kendali distribusi |
| Regulator Uni Eropa | Otoritas antitrust UE | Diminta menilai smart TV di bawah DMA |
Angka yang menunjukkan besarnya pengaruh platform
Kelompok lobi mengutip data industri yang menunjukkan dominasi sistem operasi smart TV tertentu. Samsung melalui Tizen TV disebut memimpin dengan pangsa pasar 24%, disusul Android TV sebesar 23%, lalu Fire TV OS milik Amazon sebesar 13%.
Data itu memperkuat kekhawatiran bahwa sejumlah kecil platform sudah menjadi titik masuk utama ke jutaan layar rumah tangga. Dalam praktiknya, posisi itu bisa memengaruhi visibilitas aplikasi, prioritas promosi, hingga pembagian pendapatan antara pemilik platform dan penyedia konten.
Apa yang dipersoalkan para penyiar
Para broadcaster menilai platform smart TV kini tidak lagi netral dalam pengalaman menonton. Mereka berpendapat pemilik sistem operasi dapat menentukan aplikasi mana yang tampil lebih dulu, layanan mana yang lebih mudah ditemukan, dan konten mana yang lebih sering disorot.
Mereka juga khawatir soal akses ke audiens dan sistem distribusi yang makin dikendalikan platform. Dalam pernyataannya, kelompok itu menyebut bahwa “sejumlah kecil operator” punya kemampuan yang terus meningkat untuk membentuk hasil bagi pengguna dan pelaku bisnis melalui kontrol atas akses audiens dan distribusi konten.
Mengapa ini penting bagi penonton
Bagi pengguna, dampaknya bisa terasa lewat tampilan antarmuka yang berubah, rekomendasi konten yang lebih dipengaruhi platform, atau lebih sulitnya menemukan layanan tertentu. Jika permintaan penyiar disetujui, regulasi baru bisa memaksa perusahaan teknologi memberi perlakuan yang lebih adil kepada aplikasi dan layanan media.
Di sisi lain, perusahaan teknologi biasanya menilai platform mereka justru menyederhanakan akses dan membantu pengalaman menonton jadi lebih praktis. Mereka melihat integrasi aplikasi, pencarian suara, dan rekomendasi sebagai nilai tambah, bukan bentuk dominasi.
Persaingan ini juga mencerminkan benturan yang sudah lama terjadi antara pemilik konten dan distributor digital. Ketegangan itu makin terlihat setelah Disney bersengketa dengan YouTube TV dan memicu blackout selama tiga minggu pada November 2025, yang menunjukkan betapa besar pengaruh platform terhadap ketersediaan konten di layar pengguna.









