Bitcoin kembali berada di bawah tekanan setelah turun tajam dalam enam bulan terakhir. Pada penutupan 30 Maret, harganya berada di kisaran $66.700, atau lebih dari 45% di bawah puncak Oktober, di tengah sentimen risk-off, volume perdagangan yang lemah, dan ketegangan geopolitik.
Di tengah pelemahan itu, Goldman Sachs menilai fase terburuk Bitcoin mungkin hampir selesai. Sinyal yang paling diperhatikan pasar adalah kembalinya arus dana institusional ke produk crypto, meski pertanyaan besar tetap sama: apakah kondisi saat ini sudah cukup menarik untuk mulai membeli?
Tekanan Harga Masih Nyata
Penurunan Bitcoin kali ini tidak terjadi dalam ruang hampa. Aset kripto terbesar itu ikut tertekan oleh menurunnya minat spekulatif, likuiditas yang tipis, dan kecenderungan investor untuk menghindari aset berisiko saat ketidakpastian meningkat.
Pola seperti ini juga pernah terjadi sebelumnya. Setelah reli yang digerakkan oleh euforia, Bitcoin kerap masuk ke fase konsolidasi panjang ketika narasi pasar mulai melemah.
Sinyal yang Dibaca Goldman Sachs
Dalam catatan terbarunya, analis Goldman Sachs James Yaro menyoroti dua indikator yang dinilai dapat menandai akhir dari pelemahan Bitcoin. Pertama, investor institusional mulai kembali masuk ke pasar melalui spot Bitcoin ETF.
Pada Maret, produk tersebut mencatat arus masuk sebesar $1,32 miliar setelah empat bulan mengalami arus keluar bersih. Kedua, jumlah likuidasi mulai menurun, yang penting karena penjualan paksa sering memperburuk tekanan harga saat trader memakai leverage.
Mengapa Likuidasi Penting untuk Bitcoin
Likuidasi terjadi ketika posisi dengan dana pinjaman otomatis ditutup karena harga bergerak berlawanan arah. Saat ini berlangsung bertahap dan berulang, tekanan jual tambahan bisa menahan pemulihan harga meski minat beli mulai membaik.
Data sebelumnya menunjukkan skala risikonya sangat besar. Pada Oktober, likuidasi harian sempat mencapai rekor $19 miliar, atau hampir 1% dari total kapitalisasi pasar kripto hilang dalam satu hari.
Tanda Pemulihan yang Mulai Terlihat
Pada Maret, volume perdagangan ikut naik bersamaan dengan menurunnya likuidasi. Kombinasi ini belum cukup untuk menyebut pasar telah pulih penuh, tetapi biasanya menjadi sinyal awal bahwa sentimen membaik.
Berikut beberapa indikator yang paling sering dipakai pelaku pasar untuk membaca kemungkinan dasar harga Bitcoin:
| Indikator | Makna bagi pasar |
|---|---|
| Arus masuk ETF spot | Menunjukkan institusi kembali tertarik |
| Penurunan likuidasi | Mengurangi tekanan jual paksa |
| Kenaikan volume perdagangan | Mengindikasikan partisipasi pasar membaik |
| Stabilitas harga | Memberi ruang bagi pemulihan teknikal |
Risiko yang Masih Bisa Menahan Kenaikan
Meski Goldman Sachs melihat peluang harga dasar mulai dekat, risiko makro tetap besar. Konflik di Iran dapat mendorong investor menjauh dari aset berisiko, sementara kenaikan harga energi berpotensi memicu inflasi lebih tinggi.
Jika tekanan inflasi bertahan, pemangkasan suku bunga The Federal Reserve juga bisa tertunda. Kondisi itu kurang mendukung aset seperti Bitcoin yang biasanya sensitif terhadap arah suku bunga dan selera risiko global.
Apakah Saat Ini Waktu yang Tepat untuk Membeli
Keputusan membeli Bitcoin saat ini sangat bergantung pada horizon investasi. Dalam pandangan jangka pendek, volatilitas masih tinggi dan harga masih bisa bergerak turun jika sentimen makro memburuk.
Namun untuk investor yang melihat horizon lima hingga 10 tahun, argumennya lebih kuat. Riset yang dikutip dari The Motley Fool menyebut pemerintah Amerika Serikat memiliki hampir 200.000 Bitcoin, senilai sekitar $13,5 miliar pada harga saat ini, dan keberadaan Strategic Bitcoin Reserve memberi legitimasi tambahan pada aset tersebut.
Faktor yang Perlu Dipantau Investor
- Arus dana ke spot Bitcoin ETF dalam beberapa pekan ke depan.
- Perubahan jumlah likuidasi dan volume perdagangan di pasar derivatif.
- Arah kebijakan suku bunga The Federal Reserve.
- Perkembangan geopolitik yang memengaruhi sentimen risiko global.
- Respons harga Bitcoin di level teknikal penting setelah tekanan jual mereda.
Bitcoin masih memegang porsi terbesar di pasar kripto, dengan dominasi hampir 60% dari total kapitalisasi pasar. Jika dukungan institusional terus menguat dan tekanan likuidasi terus turun, peluang pemulihan jangka menengah tetap terbuka, meski investor tetap perlu menghadapi volatilitas yang bisa berubah cepat.









