Harga minyak mentah yang terus melonjak menekan pasar aset berisiko, sementara крипто justru tertahan di level yang lemah. Bitcoin tercatat berakhir di bawah $67,000 U.S., sedangkan Ethereum turun ke sekitar $2,000 U.S. per token ketika sentimen pasar global memburuk.
Pergerakan ini menunjukkan bahwa investor masih memilih aset yang dianggap lebih aman saat ketegangan geopolitik meningkat. Lonjakan West Texas Intermediate (WTI) ke $111 U.S. per barrel ikut memperkuat tekanan jual di saham dan aset digital karena pasar memperhitungkan gangguan yang lebih lama terhadap pasokan energi.
Tekanan dari perang dan lonjakan minyak
Pasar global melemah setelah pidato Presiden U.S. Donald Trump yang menyebut perang Iran akan berlangsung beberapa minggu lagi. Pernyataan itu memicu kekhawatiran baru karena harga minyak naik lebih dari 10% dalam satu hari, lalu memukul minat terhadap aset berisiko.
Kenaikan harga energi sering membuat investor menahan eksposur pada aset spekulatif. Dalam kondisi seperti ini, cryptocurrency biasanya menjadi salah satu aset pertama yang dilepas karena volatilitasnya tinggi dan belum memiliki daya lindung yang dianggap sekuat komoditas energi.
Bitcoin dan altcoin ikut terkoreksi
Bitcoin bertahan di bawah level psikologis penting saat tekanan jual meluas di pasar. Ethereum juga melemah ke sekitar $2,000 U.S. per token, menandakan bahwa tekanan tidak hanya terjadi pada aset digital utama, tetapi juga merambat ke pasar kripto secara keseluruhan.
Altcoin besar seperti Solana dan XRP juga ikut tertekan. Pelemahan ini terjadi seiring penurunan saham dan aset berisiko lain, sehingga pasar kripto tampak lebih mengikuti arus makro daripada dipengaruhi oleh katalis internal.
Faktor lain yang ikut membebani sentimen kripto
Beberapa perkembangan lain turut menekan kepercayaan pasar terhadap aset digital. Daftar berikut merangkum berita yang relevan dari sumber referensi:
- Kanada bergerak untuk melarang donasi politik memakai cryptocurrency melalui legislasi integritas pemilu baru.
- Elon Musk memposting soal Bitcoin di platform X untuk pertama kalinya dalam sekitar enam bulan, tanpa komentar tambahan.
- Google induk Alphabet memperingatkan bahwa $100 billion U.S. dari Ethereum berisiko terhadap serangan komputer kuantum.
- CoinShares turun 25% pada hari pertama perdagangannya di Nasdaq setelah masuk bursa lewat merger SPAC.
- Drift, platform DeFi berbasis Solana, menyebut kehilangan $250 million U.S. dalam dugaan peretasan.
- Sejumlah perusahaan yang sebelumnya menimbun Bitcoin di neraca mulai melepas kepemilikan karena pelemahan harga yang berkepanjangan.
Berbagai kabar itu memperlihatkan bahwa pasar kripto tidak hanya dipengaruhi oleh harga Bitcoin semata. Risiko regulasi, keamanan jaringan, dan tekanan neraca perusahaan kini ikut menentukan arah sentimen investor.
Mengapa minyak mahal bisa menahan laju kripto
Kenaikan harga minyak biasanya memperkuat kekhawatiran inflasi dan mempersempit ruang bagi investor untuk masuk ke aset berisiko. Saat biaya energi naik tajam, pasar sering memperkirakan suku bunga yang lebih tinggi atau setidaknya kebijakan yang tetap ketat lebih lama.
Dalam situasi itu, kripto kehilangan daya tarik jangka pendek karena banyak pelaku pasar memilih bertahan di aset yang lebih likuid dan stabil. Hubungan ini tidak selalu terjadi setiap saat, tetapi pada fase ketegangan geopolitik, korelasi antara energi mahal dan tekanan pada aset digital cenderung menguat.
Level yang masih diawasi pelaku pasar
Bagi Bitcoin, level di bawah $67,000 U.S. menjadi sinyal bahwa pasar masih rapuh. Selama harga minyak tetap tinggi dan konflik belum mereda, dorongan beli pada kripto kemungkinan tetap terbatas.
Ethereum berada di sekitar $2,000 U.S. per token, sementara altcoin besar belum berhasil menunjukkan pemulihan yang meyakinkan. Selama investor lebih fokus pada risiko geopolitik dan guncangan pasar energi, kripto kemungkinan masih akan bergerak tertinggal dibanding aset yang lebih defensif.
