Acer Predator 21X kembali jadi sorotan setelah diuji ulang hampir satu dekade sejak pertama kali mencuri perhatian publik. Laptop gaming raksasa ini dulu terkenal karena dua GPU Nvidia GTX 1080, layar lengkung 21 inci, dan banderol $10,000 yang membuatnya lebih mirip eksperimen ekstrem daripada produk massal.
Perangkat ini memang lahir dari era ketika produsen masih berani mendorong batas desain laptop gaming. Kini, saat laptop gaming kelas atas sudah jauh lebih ringan, lebih tipis, dan lebih efisien, Predator 21X menjadi patokan menarik untuk melihat seberapa jauh teknologi mobile gaming berkembang.
Laptop yang datang seperti koper
Ukuran Predator 21X langsung membedakannya dari laptop modern. Saat unit dibawa ke rumah penguji, perangkat itu hadir dalam kemasan mirip koper tebal dengan bantalan besar, lalu memperlihatkan bobot 8,5kg tanpa dua adaptor dayanya.
Sebagai pembanding, beberapa laptop gaming besar masa kini seperti Alienware 16 Area-51 dan MSI Titan 18 HX AI masing-masing berbobot 3,4kg dan 3,6kg. Dengan dua power brick, total bawaan Predator 21X bisa melewati 10kg, sesuatu yang sulit dibayangkan untuk perangkat portabel.
Dimensinya juga ekstrem, dengan bodi hampir dua kaki panjangnya, sekitar satu kaki dalam, dan lebih dari tiga inci tebalnya. Di tengah tren laptop tipis di bawah 10cm dan berbobot kurang dari satu kilogram, kontras ini terasa sangat mencolok.
Desain yang sengaja dibuat berlebihan
Acer memang ingin memberi kebebasan penuh pada tim desain Predator 21X. Hasilnya adalah tampilan yang sangat identik dengan estetika gamer era lama, lengkap dengan pencahayaan RGB, garis agresif, dan panel yang menonjolkan kesan “gokil” secara visual.
Port yang tersedia juga masih sangat lengkap. Di sisi bodi ada empat USB-A 3.0, headphone jack, dan mic jack, sementara bagian belakang menyediakan HDMI, dua DisplayPort, Gigabit Ethernet, dan USB-C.
Bagian dalamnya bahkan lebih unik. Area keyboard hanya mengisi sekitar separuh alas bawah, sementara bagian atas dipakai untuk sistem pendingin dan jendela segitiga yang memperlihatkan kipas.
Spesifikasi yang dulu sangat buas
Berikut spesifikasi inti Predator 21X berdasarkan data referensi:
| Komponen | Spesifikasi |
|---|---|
| CPU | Intel Core i7-7820HK 2,90 GHz |
| GPU | 2 x Nvidia GTX 1080 8GB GDDR5, SLI |
| RAM | 64GB DDR4 2400Hz |
| Layar | 21 inci, FHD+ 2.560 x 1.080 IPS LED |
| Penyimpanan | 1TB HDD SATA 3, 1TB SSD, 2 x PCIe 512GB RAID 0 |
Kombinasi dua GTX 1080 desktop-class dalam konfigurasi SLI dulu menjadikannya salah satu laptop gaming paling ambisius di pasaran. Prosesornya juga mendukung overclock, meski Acer membatasi potensi perangkat agar tetap stabil.
Keyboard mekanis Cherry MX Brown RGB menjadi salah satu fitur paling ikonik. Trackpad di sebelah kanan bisa dibalik untuk menjadi numpad fisik, dan itu menegaskan bahwa Predator 21X dirancang tanpa kompromi terhadap ukuran.
Kinerja gaming masih hidup, tapi tidak lagi relevan untuk semua game
Pengujian terbaru menunjukkan bahwa Predator 21X masih sanggup menjalankan game era yang sesuai dengan masanya. Far Cry 5 mencatat rata-rata 73fps pada 2560×1080, lalu naik ke 77fps saat overclock, sementara di 4K masih mencapai 58fps.
Dirt Rally juga tampil sangat baik dengan 99fps pada 2560×1080 dan 46fps di 4K. Hitman menghasilkan 87fps pada 2560×1080 lewat DirectX 12, sedangkan Rise of the Tomb Raider bertahan di 73fps pada pengaturan maksimal di resolusi native.
Namun, performa game modern menunjukkan batas yang jelas. Cyberpunk 2077 mencatat 37fps pada 2560×1080 di preset Ultra, lalu naik ke 48fps dengan FSR 2.1 Quality, sedangkan 4K tetap berat di 12fps.
Game yang lebih baru seperti Returnal dan Black Myth Wukong juga memperlihatkan bahwa hardware ini masih bisa digunakan dengan banyak penyesuaian. Rainbow Six Extraction justru memberi hasil paling menyenangkan, dengan 82fps pada 2560×1080 dan 64fps di 4K.
Tolok ukur yang menunjukkan jarak dengan laptop modern
Tes sintetis menegaskan perbedaan generasi yang sangat lebar. Geekbench 6 mencatat skor 1.555 single-core dan 5.296 multi-core, sedangkan laptop modern pembanding ada di kisaran 3.000-an single-core dan 20.000-an multi-core.
Di 3DMark Fire Strike, Predator 21X meraih 18.023 poin, sementara laptop terbaru di pengujian itu melampaui 37.000 poin. Pada Time Spy, hasil 9.435 juga tertinggal jauh dari perangkat modern yang menembus 21.000 lebih.
Meski begitu, laptop ini tetap menarik bukan karena efisiensi, melainkan karakter. Predator 21X menjadi pengingat bahwa industri pernah memberi ruang bagi perangkat gaming yang besar, berani, dan sangat tidak praktis, tetapi justru menghadirkan identitas yang kuat di era ketika banyak laptop kini terlihat seragam.
