
Bitcoin kembali bergerak di dekat batas bawah rentang perdagangannya yang telah bertahan lebih dari sebulan, di tengah ketidakpastian pasar atas dampak konflik di Timur Tengah. Aset kripto terbesar ini sempat turun hingga 3,6% ke $65,709 sebelum memangkas pelemahan dalam perdagangan New York.
Tekanan pada Bitcoin terjadi saat aset kripto utama lain ikut terkoreksi. Ether sempat melemah 5,9%, sementara Solana juga turun dengan besaran yang hampir sama, menandakan sentimen risiko di pasar digital masih rapuh.
Ketegangan geopolitik menekan sentimen pasar
Pernyataan Presiden AS Donald Trump pada hari Rabu yang menegaskan kelanjutan perang terhadap Iran memicu kekhawatiran baru di pasar energi. Kondisi itu memperkuat ekspektasi bahwa harga minyak akan bertahan tinggi lebih lama, terutama karena belum ada tanda jelas mengenai pembukaan kembali Selat Hormuz dalam waktu dekat.
Harga minyak acuan AS, WTI, sempat melonjak ke atas $111 per barel. Pergerakan tersebut ikut mengguncang saham dan obligasi, karena investor menimbang risiko inflasi yang lebih persisten jika gangguan pasokan energi berlanjut.
Bitcoin bergerak di kisaran sempit
Menurut Alex Kuptsikevich, kepala analis pasar di FxPro, komentar terbaru Trump memicu aksi jual tajam di tengah minimnya tanda de-eskalasi. Ia menilai harga Bitcoin kini terkonsolidasi di kisaran antara $66,000 dan $69,000.
Caroline Mauron, co-founder Orbit Markets, menyebut Bitcoin masih banyak mengikuti arah saham. Namun, dalam beberapa pekan terakhir, menurut dia, aset ini menunjukkan sensitivitas yang lebih rendah terhadap kabar baik maupun buruk.
Performa Bitcoin masih campuran
Bitcoin sebenarnya sempat bertahan lebih baik dibanding banyak aset lain selama perang berlangsung. Pada akhir Maret, token ini naik 2% dibanding bulan sebelumnya dan memutus rentetan penurunan selama lima bulan beruntun.
Namun, kekuatan itu belum menghapus tekanan jangka menengah. Bloomberg mencatat Bitcoin masih turun 45% dari puncaknya di $126,000 yang dicapai pada Oktober, menunjukkan bahwa pemulihan harga masih rapuh dan belum didukung kekuatan beli yang konsisten.
Data on-chain belum mendukung pemulihan kuat
Laporan CryptoQuant yang dirilis pada Rabu menyebut permintaan nyata terhadap Bitcoin masih lemah. Ukuran apparent demand, yang membandingkan permintaan dengan suplai Bitcoin baru hasil penambangan, tercatat negatif sekitar 63,000 token pada akhir bulan lalu.
Kondisi itu sejalan dengan perubahan sikap pemegang besar Bitcoin atau whales. Menurut CryptoQuant, kelompok ini kini berubah menjadi penjual bersih dan telah melepas jumlah token yang signifikan selama setahun terakhir.
Jasper De Maere, trader di Wintermute, mengatakan data on-chain menguatkan sinyal dari pergerakan harga. Ia menilai belum ada keyakinan kuat di pasar saat ini.
Arus dana ETF ikut berbalik arah
Tekanan juga terlihat pada dana berbasis Bitcoin yang diperdagangkan di bursa AS. Pada Rabu, arus masuk bersih ke spot Bitcoin ETF AS berubah menjadi negatif setelah investor menarik $174 juta dari produk tersebut.
Sepanjang Maret, ETF ini masih mencatat sekitar $1.1 miliar net inflows, yang menandai stabilisasi setelah empat bulan berturut-turut mengalami net outflows. Meski begitu, data itu menunjukkan minat investor institusi masih sangat sensitif terhadap perubahan kondisi makro dan gejolak geopolitik.
Faktor yang membentuk arah Bitcoin saat ini
- Ketegangan di Timur Tengah yang mendorong volatilitas pasar.
- Harga minyak yang bertahan tinggi dan meningkatkan kekhawatiran inflasi.
- Permintaan on-chain yang masih negatif menurut CryptoQuant.
- Sinyal jual dari whales yang belum menunjukkan pembalikan.
- Arus dana ETF yang kembali keluar setelah sempat stabil.
Di tengah kombinasi faktor tersebut, Bitcoin masih bergerak dalam rentang yang sempit dan belum menunjukkan dorongan kuat untuk menembus ke atas. Selama sentimen risiko global belum membaik dan arus dana institusional belum kembali konsisten, pasar kripto kemungkinan tetap sensitif terhadap perkembangan konflik dan pergerakan harga energi.









