Pengujian awal terhadap Snapdragon X2 Elite memberi sinyal kuat bahwa chip terbaru Qualcomm ini bukan sekadar peningkatan kecil. Di sejumlah review independen, performanya tampil sangat kencang untuk kerja komputasi berat, tetapi masih menghadapi batasan besar saat dipakai bermain game.
Sorotan terbesar datang dari hasil CPU dan efisiensi dayanya. Sejumlah penguji menilai chip ini sebagai “beast” karena skor benchmark-nya menonjol di kelas laptop berbasis Arm, sementara daya tahan baterainya juga dilaporkan berada di kisaran 10-12 jam dalam penggunaan nyata.
Performa CPU yang sangat kompetitif
Uji awal menunjukkan Snapdragon X2 Elite mampu menekan banyak rival dari kubu x86 maupun Apple di beberapa skenario. Qualcomm sebelumnya sudah menarik perhatian lewat hasil Geekbench yang disebut melampaui kompetitor laptop x86 lebih dari 30% pada single-core, dan pengujian pihak ketiga kemudian memperkuat kesan bahwa chip ini memang cepat.
PC Mag mencatat hasil Cinebench yang sangat tinggi, hanya kalah dari Ryzen AI Max + Pro 395, lalu menempatkannya di posisi teratas pada Geekbench Pro 6. Hardware Canucks juga menempatkannya jauh di atas Panther Lake, Lunar Lake, dan MacBook Air berbasis M5 dalam uji multicore Cinebench.
Pada pengujian single-core, chip ini tetap berada di papan atas. Hardware Canucks menyebut hasilnya hanya kalah tipis dari M5 MacBook Air, yang menunjukkan bahwa Qualcomm tidak hanya mengejar efisiensi, tetapi juga mulai serius bersaing di performa mentah.
Gaming masih jadi pekerjaan rumah
Meski kuat di CPU, performa gaming Snapdragon X2 Elite belum sepenuhnya matang. Tom’s Hardware menilai chip ini impresif di atas kertas, tetapi memberi catatan bahwa pengalaman bermain sangat dipengaruhi kesiapan software, driver, dan emulasi Windows on Arm.
Masalah kompatibilitas masih terasa. Tom’s Hardware bahkan melaporkan kesulitan membuka Resident Evil Requiem, dan hal itu mereka kaitkan dengan emulasi Microsoft Prism. Engadget juga mencatat Arc Raiders tidak bisa dibuka pada pengujian mereka, meski Cyberpunk 2077 masih bisa berjalan hingga 80 fps pada setting medium 1080p dengan bantuan FSR frame generation.
Berikut ringkasan hasil awal gaming yang menonjol:
- 3DMark Steel Nomad: lebih tinggi dari M5 MacBook Air dan Intel Core Ultra 7 355 di Dell XPS 14, tetapi masih di bawah Intel Core Ultra X7 358H pada Acer Swift.
- Cyberpunk 2077: Hardware Canucks mencatat rata-rata sekitar 60 fps, sekitar 10 fps di bawah Ultra X9 388H dan X7 258H, tetapi masih di atas Ryzen AI 9 HX 370 dan Intel Ultra 9 288V.
- Baldur’s Gate 3: performanya mendekati chip Panther Lake dan melampaui Lunar Lake serta chip AMD tertentu.
- Dota 2: hasilnya lebih tidak stabil, dengan selisih besar antara average frame rate dan 1% lows.
Hardware Canucks merangkum kondisi ini dengan menyebut bahwa saat perangkat lunak dan optimasi game selaras, Snapdragon X2 Elite bisa mencapai frame rate yang berada di antara beberapa kompetitor penting. Namun mereka juga menulis bahwa pada banyak skenario “the best is yet to come” untuk gaming di Snapdragon.
Windows on Arm mulai matang, tetapi belum selesai
Review awal juga menegaskan bahwa ekosistem tetap menjadi kunci. Windows Central menilai Zenbook A16 berbasis X2 Elite memperlihatkan kemajuan besar Windows on Arm64, dan pandangan itu sejalan dengan hasil benchmark yang menunjukkan lompatan performa cukup besar.
Namun, dukungan game masih tertinggal dari kecepatan hardware-nya. Situasi ini penting karena Arm semakin serius masuk ke ranah PC gaming, sementara laporan terbaru menunjukkan industri juga mulai menyiapkan langkah yang bisa mempercepat adopsi lebih luas.
Gambaran awal yang muncul dari review
- Snapdragon X2 Elite sangat kuat untuk tugas CPU berat.
- Efisiensi daya dan baterai juga terlihat kompetitif.
- Gaming masih dibatasi dukungan Arm, emulasi, dan optimasi game.
- Performa paling baik muncul saat software, driver, dan game sudah cocok dengan arsitektur ini.
Dengan hasil awal seperti ini, Snapdragon X2 Elite terlihat seperti chip yang sudah siap untuk banyak kebutuhan komputasi harian dan profesional, tetapi belum sepenuhnya siap menggantikan laptop gaming berbasis x86. Dukungan game yang lebih luas, optimasi emulasi yang lebih matang, dan kerja sama yang lebih erat antara Qualcomm, Microsoft, serta pengembang game akan menentukan seberapa cepat chip ini bisa berubah dari sekadar sangat kencang menjadi benar-benar lengkap di pasar PC modern.
