Bumi Sudah Melampaui Daya Dukungnya, Batas Aman Manusia Kian Menyempit

Author: Qoo Media

Populasi manusia dinilai sudah berada di atas batas aman yang bisa ditopang Bumi dalam jangka panjang. Temuan ini menguatkan peringatan bahwa tekanan terhadap pangan, air, energi, dan lahan terus meningkat seiring jumlah penduduk dunia yang terus bertambah.

Studi terbaru yang dipimpin Corey Bradshaw dari Flinders University menganalisis lebih dari 200 tahun data populasi global. Hasilnya menunjukkan manusia hidup jauh di atas daya dukung Bumi atau carrying capacity, yaitu jumlah maksimum individu yang bisa bertahan secara berkelanjutan dengan sumber daya yang tersedia.

Bumi Makin Tertekan oleh Konsumsi Manusia

Dalam ekologi, daya dukung tidak hanya ditentukan oleh jumlah penduduk. Faktor lain seperti ketersediaan air, pangan, ruang hidup, dan stabilitas lingkungan ikut menentukan apakah suatu populasi masih bisa ditopang dalam jangka panjang.

Namun manusia mendorong batas itu lewat pola konsumsi yang tinggi dan ketergantungan besar pada teknologi serta bahan bakar fosil. Lonjakan penggunaan energi fosil sejak abad ke-20 ikut mempercepat pertumbuhan populasi dan produksi, tetapi sekaligus menambah beban lingkungan.

Saat ini, populasi dunia telah mencapai sekitar 8,3 miliar orang. Menurut studi tersebut, angka itu sudah jauh melampaui kapasitas optimal Bumi jika standar hidup layak ingin tetap terjaga untuk semua orang.

Angka Kapasitas yang Diperkirakan Peneliti

Berikut ringkasan angka penting dari temuan studi tersebut:

  1. Populasi dunia saat ini: sekitar 8,3 miliar orang.
  2. Perkiraan jumlah manusia yang masih berkelanjutan dengan standar hidup layak: sekitar 2,5 miliar orang.
  3. Proyeksi puncak populasi dunia: 11,7-12,4 miliar pada akhir 2060-an atau 2070-an.
  4. Batas maksimum absolut yang masih bisa ditopang planet ini: sekitar 12 miliar orang.

Data itu menunjukkan tekanan terhadap Bumi sudah terjadi sebelum populasi global mencapai puncaknya. Artinya, risiko krisis sumber daya tidak lagi bersifat jauh di depan, melainkan sedang berlangsung.

Pertumbuhan Tidak Lagi Menjadi Jaminan Kesejahteraan

Peneliti mencatat pertumbuhan penduduk mulai melambat sejak 1960-an. Meski begitu, jumlah manusia tetap bertambah dan kebutuhan sumber daya ikut naik.

Situasi ini disebut sebagai fase demografi negatif, yaitu kondisi ketika penambahan penduduk tidak lagi menghasilkan pertumbuhan yang lebih cepat. Sebaliknya, tambahan populasi justru menambah tekanan pada lingkungan, sistem pangan, dan ketersediaan air.

Dampak dari tekanan itu sudah terlihat di berbagai sektor. Perserikatan Bangsa-Bangsa sebelumnya menyebut dunia mengalami kebangkrutan air, sementara populasi satwa liar terus menurun karena kalah bersaing dengan aktivitas manusia.

Dampak Lingkungan Sudah Terlihat Nyata

Ketergantungan pada bahan bakar fosil juga mempercepat perubahan iklim. Pemanasan global memicu cuaca ekstrem, gangguan ekosistem, serta ancaman bagi produksi pangan dan ketersediaan air bersih.

Studi tersebut menemukan kenaikan suhu global, jejak ekologis, dan total emisi lebih banyak dipicu oleh pertumbuhan populasi daripada konsumsi per kapita. Temuan itu menegaskan bahwa jumlah manusia dan cara hidup yang boros sama-sama memberi dampak besar terhadap planet ini.

Bradshaw mengatakan, “Bumi tidak dapat mengikuti cara kita menggunakan sumber daya. Kita mendorong planet ini lebih keras daripada yang mampu ditanggungnya,” dikutip dari Science Alert.

Jalur yang Masih Bisa Ditempuh

Meski terlihat mengkhawatirkan, para peneliti menilai situasi belum sepenuhnya terlambat. Perubahan pada sistem energi, pangan, lahan, dan air masih bisa mengurangi risiko krisis yang lebih parah.

Bradshaw juga menekankan bahwa populasi yang lebih kecil dengan konsumsi lebih rendah akan menghasilkan hasil yang lebih baik bagi manusia dan planet. Namun, ia menilai jendela untuk bertindak semakin sempit dan membutuhkan kerja sama lintas negara.

Dalam studi itu, para penulis juga mengingatkan bahwa model global memiliki keterbatasan karena terlalu banyak variabel yang sulit diprediksi. Selain itu, konsep daya dukung memunculkan pertanyaan etika karena akses terhadap sumber daya tidak merata di seluruh dunia.

Pada akhirnya, peringatan ini bukan sekadar soal jumlah manusia, melainkan soal bagaimana peradaban memakai sumber daya yang tersisa. Jika pola konsumsi dan ketergantungan pada energi fosil tidak berubah, tekanan terhadap Bumi akan terus meningkat dan mempersempit ruang hidup generasi berikutnya.

Baca selengkapnya mengenai topik ini di: www.cnbcindonesia.com
Terbaru