FBI Ungkap Lonjakan Penipuan Kripto 2026, Kerugian Tembus $11,36 Miliar

Laporan terbaru FBI menunjukkan kerugian akibat penipuan berbasis kripto naik tajam dan mencapai $11.36 miliar, atau melonjak 22% dibandingkan tahun sebelumnya. Angka itu menegaskan bahwa aset digital masih menjadi sasaran utama para pelaku kejahatan siber karena proses transaksi yang cepat, lintas batas, dan sulit dipulihkan setelah dana berpindah.

Data dari Internet Crime Complaint Center (IC3) juga memperlihatkan bahwa total kerugian kejahatan siber secara keseluruhan naik 26% dan menembus $20.87 miliar. Dari jumlah itu, penipuan terkait investasi menjadi penyumbang terbesar dengan kerugian $8.6 miliar, sementara penipuan investasi kripto sendiri diperkirakan menyumbang $7.2 miliar.

Penipuan investasi kripto masih jadi pendorong utama

FBI menilai skema investasi kripto tetap menjadi mesin utama di balik lonjakan kerugian. Modusnya sering dimulai dari interaksi di media sosial, aplikasi pesan instan, atau platform kencan, lalu korban diarahkan ke situs investasi palsu yang terlihat meyakinkan.

Dalam banyak kasus, pelaku membangun kepercayaan secara bertahap agar korban merasa aman sebelum menambah setoran dana. Pola ini membuat banyak korban baru menyadari penipuan setelah saldo tidak bisa ditarik dan pelaku menghilang.

Skala kerugian makin besar, laporan makin banyak

Kripto disebut dalam lebih dari 181.000 laporan pada 2025, menjadikannya salah satu elemen paling sering muncul dalam kasus kejahatan siber. Data transaksi juga menunjukkan bahwa kripto tetap menjadi metode pembayaran dominan dalam banyak kasus penipuan, terutama pada skema investasi.

Secara lebih luas, kejahatan siber berbasis penipuan menyumbang 85% dari seluruh kerugian yang dilaporkan, atau sekitar $17.7 miliar. Kategori ini mencakup bukan hanya penipuan kripto, tetapi juga business email compromise, penipuan dukungan teknis, dan pemalsuan identitas.

Jejak jaringan lintas negara dan pola yang semakin canggih

FBI menyebut operasi penipuan kripto kerap terhubung dengan kelompok kejahatan terorganisasi di Asia Tenggara. Pusat-pusat penipuan itu disebut menggunakan tenaga kerja paksa dan naskah komunikasi yang dirancang rapi untuk meyakinkan korban di berbagai negara.

Pola kerja yang terstruktur membuat penipuan terasa seperti layanan investasi legal. Pada praktiknya, para pelaku memanfaatkan psikologi korban, janji keuntungan tinggi, dan tekanan untuk segera menyetor dana tambahan.

Langkah yang paling sering dipakai pelaku penipuan kripto

Berikut pola umum yang ditemukan dalam kasus-kasus tersebut:

  1. Menjalin kontak lewat media sosial, pesan instan, atau aplikasi kencan.
  2. Membangun relasi dan kepercayaan dengan komunikasi yang intens.
  3. Mengarahkan korban ke platform investasi palsu dengan tampilan profesional.
  4. Menampilkan keuntungan semu untuk memancing setoran lebih besar.
  5. Menghambat penarikan dana dengan alasan teknis atau biaya tambahan.

Upaya penegakan hukum belum sebanding dengan laju kerugian

FBI menyebut Operation Level Up telah membantu menyelamatkan korban dengan nilai estimasi $500 juta sejak 2024. Namun, skala fraud yang terus berkembang masih melampaui kemampuan pencegahan dan pemulihan kerugian.

Peringatan FBI juga menyoroti peran teknologi baru, termasuk kecerdasan buatan, yang dapat membuat pesan penipuan terdengar lebih natural dan sulit dibedakan dari komunikasi asli. Kondisi ini berpotensi memperluas jangkauan penipu dan meningkatkan tingkat keberhasilan mereka dalam menjebak korban yang kurang waspada.

Di tengah adopsi kripto yang terus meluas, laporan FBI memperlihatkan bahwa pertumbuhan ekosistem digital sering diikuti oleh peningkatan penyalahgunaan oleh jaringan penipuan. Data IC3 menempatkan kripto bukan hanya sebagai aset investasi, tetapi juga sebagai komponen penting dalam lanskap kejahatan siber yang kini semakin terorganisasi dan semakin sulit dilacak.

Berita Terkait

Back to top button