Pembahasan Clarity Act di Washington kembali melambat, namun pelaku industri menilai arah akhirnya sudah cukup jelas. Di tengah tarik-menarik soal yield stablecoin, industri kripto justru melihat lobi bank sebagai upaya menahan perubahan yang dianggap tak bisa dibendung.
Zachary Townsend, CEO perusahaan asuransi kripto Meanwhile, menyebut upaya bank tradisional untuk memblokir stablecoin berbunga sebagai “fighting a sideshow”. Ia menilai penundaan pembahasan tidak akan mengubah hasil akhir karena perpindahan dana dari rekening bank ke produk keuangan digital sudah berlangsung.
Stabilcoin, bank, dan sumber konflik utama
Inti perdebatan ada pada fitur bunga atau imbal hasil stablecoin. Di satu sisi, kelompok perbankan menilai stablecoin yang menawarkan return kompetitif bisa menguras simpanan dari rekening bank konvensional.
Kekhawatiran itu muncul karena stablecoin disokong cadangan penuh, bukan model pinjaman fraksional seperti bank. Para pengkritik menilai kondisi tersebut bisa menekan kapasitas bank untuk menyalurkan kredit ke ekonomi riil.
Namun, aturan yang sudah berlaku lewat Genius Act memberi batasan tertentu. Undang-undang yang ditandatangani Presiden Donald Trump itu mewajibkan penerbit stablecoin menjaga cadangan satu banding satu untuk menutup token yang beredar.
Cadangan tersebut bisa berupa dolar AS, federal reserve notes, simpanan berasuransi, Treasury jangka pendek, dan reksa dana pasar uang. Aturan itu juga melarang penerbit memberikan bunga atau yield secara langsung kepada pemegang stablecoin.
Meski begitu, aturan itu tidak secara tegas menutup ruang bagi afiliasi atau pihak ketiga untuk merancang produk imbal hasil di sekitar stablecoin. Sebagian rancangan Clarity Act justru ingin menutup celah tersebut sepenuhnya.
Pesan pasar berbeda dari kekhawatiran bank
Townsend berpendapat bahwa perdebatan tentang yield lebih bersifat simbolis daripada menentukan arah pasar. Menurutnya, perpindahan simpanan dari bank ke aset digital bukan lagi ancaman teoritis, melainkan proses struktural yang sudah berjalan.
Ia mengatakan, “The banks are fighting a sideshow while the real deposit displacement is already underway.” Dalam pandangannya, lobi dan penundaan hanya memperlambat proses politik, bukan menghentikan perubahan perilaku nasabah.
Sikap optimistis itu juga bertumpu pada pandangan bahwa produk keuangan yang lebih baik pada akhirnya akan menarik permintaan pasar. Townsend menilai bank pada dasarnya selalu melawan inovasi yang mengancam model lama, tetapi hasil akhirnya tetap ditentukan oleh adopsi pengguna.
Data yang meredam argumen soal kerugian bank
Analisis ekonomi White House yang terbit pada April memberikan gambaran yang berbeda dari narasi alarmis bank. Dengan model dasar, penghapusan yield stablecoin hanya menambah pinjaman bank sebesar $2.1 miliar, setara sekitar 0.02% dari total lending, sambil menimbulkan biaya kesejahteraan bersih $800 juta.
Dalam model itu, bank besar menyumbang 76% dari kenaikan pinjaman yang sangat kecil tersebut. Bank komunitas hanya mendapatkan tambahan sekitar $500 juta, atau kenaikan 0.026% pada penyaluran kredit mereka.
Bahkan pada asumsi terburuk yang disusun dalam model itu, hasilnya tetap tidak menunjukkan guncangan besar. Saat stablecoin diasumsikan tumbuh enam kali lipat sebagai porsi simpanan dan cadangan terkunci seluruhnya dalam kas yang tidak bisa dipinjamkan, pinjaman bank agregat naik 4.4%.
Pada skenario ekstrem itu, pinjaman bank komunitas naik 6.7%. Data tersebut membuat argumen bahwa pembatasan yield akan menyelamatkan kapasitas kredit tampak kurang meyakinkan bagi sebagian pengamat industri.
Tekanan waktu terhadap Clarity Act
Meski perdebatan substantif terus berlangsung, jadwal politik justru ikut menekan kemungkinan kompromi. Komite Perbankan Senat gagal menjadwalkan markup April untuk Clarity Act, sehingga pembahasan bergeser ke Mei.
Ada tiga titik gesekan yang masih muncul, yakni ketentuan desentralisasi, upaya mengamankan suara Partai Republik, dan isu yield pada stablecoin. Republican Senator Thom Tillis juga meminta lebih banyak waktu untuk berkonsultasi dengan bank soal isu yield dan untuk merilis draf teks lanjutan.
Presiden Donald Trump disebut telah menyatakan kepada pemegang memecoin di Mar-a-Lago bahwa dia ingin rancangan itu lolos dan akan menandatanganinya segera. Namun, dukungan politik di tingkat atas belum otomatis mempercepat proses di legislatif.
Alex Thorn, kepala riset di Galaxy Digital, memperingatkan bahwa jika markup mundur melewati pertengahan Mei, peluang pengesahan akan turun tajam. Ia mengatakan peluang Clarity disahkan pada 2026 berada di sekitar 50-50, dan mungkin lebih rendah.
Sentimen pasar juga mencerminkan penurunan optimisme itu. Taruhan di Polymarket menempatkan peluang Clarity Act lolos pada 2026 di level 47%, turun dari 82% pada Februari.
Tarungan yang dinilai lebih besar dari satu pasal
Di luar debat teknis soal yield, para pelaku industri melihat pertarungan ini sebagai bagian dari perubahan yang lebih luas dalam sistem pembayaran dan simpanan. Standard Chartered pada Januari memperkirakan bank bisa kehilangan hingga $1.5 triliun deposito ke stablecoin pada 2028, terlepas dari aturan yield.
Angka itu memperkuat keyakinan bahwa ancaman utama bukan pada satu pasal di undang-undang, melainkan pada arah migrasi dana yang lebih luas. Karena itu, bagi pendukung stablecoin, penahanan Clarity Act hanya menunda penyesuaian yang pada akhirnya tetap harus dihadapi bank.
Sementara itu, bagi bank, setiap celah yang memungkinkan stablecoin memberi imbal hasil tetap dipandang sebagai risiko langsung terhadap dana simpanan. Pertarungan regulasi ini pun bergerak di antara dua narasi yang berbeda: satu pihak melihat perubahan struktural yang sudah berjalan, pihak lain melihat perlindungan terhadap model bisnis perbankan yang lama.
