DeFi Tak Lagi Aman di Depan Saja, Ini Titik Rawan yang Sering Dilupakan RMua Orang

Keamanan DeFi pada 2026 masih sangat ditentukan oleh kebiasaan dasar sebelum transaksi dilakukan. Banyak kerugian terjadi bukan karena protokol langsung diretas, melainkan karena tautan palsu, izin token yang dibiarkan aktif, aplikasi tiruan, perangkat yang terinfeksi, atau jalur bridge yang berisiko.

Data yang dirangkum CertiK dalam laporan 2025 menunjukkan phishing menyebabkan kerugian sekitar $722.9 juta dari 248 insiden. Pada periode yang sama, serangan rantai pasok mencatat kerugian sekitar $1.45 miliar hanya dari dua insiden, yang menegaskan bahwa ancaman terbesar tidak selalu datang dari teknik yang paling sering terlihat.

Risiko paling sering muncul sebelum dana masuk ke protokol

Pengguna DeFi kerap mengira bahaya baru muncul saat berinteraksi dengan smart contract. Padahal, serangan sering dimulai lebih awal, mulai dari link yang salah, front end palsu, hingga unduhan aplikasi wallet yang tidak resmi.

Situs palsu, ekstensi browser tiruan, dan tautan berbahaya masih sering beredar lewat X, Telegram, Discord, iklan pencarian, atau pesan langsung. Karena itu, akses ke aplikasi DeFi sebaiknya selalu dimulai dari domain resmi yang diketik manual atau disimpan sebagai bookmark.

Pisahkan wallet untuk fungsi yang berbeda

Satu wallet tidak ideal untuk semua aktivitas. Simpan aset jangka panjang di wallet yang tidak sering terhubung ke aplikasi acak, lalu gunakan wallet terpisah untuk swap, staking, dan transaksi harian.

Untuk eksperimen, airdrop farming, atau akses ke chain baru, wallet lain lebih aman dipakai agar risiko tidak menyebar ke seluruh aset. Jika saldo besar, penyimpanan berbasis hardware juga lebih disarankan, sementara wallet yang terhubung ke aplikasi cukup diisi dana secukupnya.

Izin token harus diperlakukan sebagai akses aktif

Salah satu risiko paling sering diabaikan adalah approval token. Saat wallet memberi izin ke dApp, akses itu bisa tetap aktif setelah transaksi selesai, dan sering tidak diperiksa lagi meski sudah lewat berbulan-bulan.

Pengguna perlu meninjau allowance secara berkala dan mencabut izin yang sudah tidak dipakai. Hindari juga approval tanpa batas jika tidak ada alasan yang jelas, karena disconnect wallet dari dApp tidak otomatis mencabut izin token yang sudah diberikan.

Periksa alamat kontrak, bukan hanya nama token

Token palsu masih jadi cara yang efektif untuk menjebak pengguna yang tergesa-gesa. Nama token bisa terlihat benar, tetapi alamat kontraknya berbeda dan itu cukup untuk mengubah seluruh transaksi.

Saat hendak swap, approve, atau menambahkan token ke tampilan wallet, alamat kontrak harus dicek dari sumber resmi. Label yang mirip tidak cukup aman, karena antarmuka wallet kadang membuat perbedaan itu sulit terlihat.

Jaga perangkat tetap bersih

Keamanan wallet sangat bergantung pada keamanan perangkat. Laptop atau ponsel yang terinfeksi bisa membuka sesi browser, kredensial tersimpan, ekstensi wallet, dan alur penandatanganan transaksi.

Pengguna perlu memakai perangkat yang bersih untuk aktivitas crypto, menghapus ekstensi yang tidak diperlukan, memperbarui software, keluar dari sesi lama, dan menghindari unduhan sembarangan. Dalam praktiknya, keamanan endpoint tidak bisa dipisahkan dari keamanan wallet.

Bridge dan jalur baru menuntut kehati-hatian ekstra

Cross-chain transfer membawa lebih banyak risiko dibanding swap sederhana di jaringan yang sudah familiar. Ada lebih banyak langkah, lebih banyak ketergantungan, dan lebih banyak ruang untuk salah alamat, salah jaringan, atau salah route.

Kasus Kelp DAO kembali menunjukkan bagaimana risiko bridge dapat menyebar cepat. DeFiLlama’s hacks database juga mencatat sekitar $2.907 miliar kerugian dari bridge, yang menempatkan rute lintas-chain sebagai salah satu titik lemah paling mahal di DeFi.

Sebelum memindahkan dana lewat jalur baru, kirim transaksi uji dalam jumlah kecil terlebih dahulu. Periksa jaringan tujuan, aset tujuan, dan alamat penerima sebelum memindahkan jumlah yang lebih besar.

Audit penting, tetapi bukan jaminan

Audit tetap berguna untuk memberi gambaran awal, tetapi audit tidak menjamin protokol aman sepenuhnya. Pertanyaan lain tetap penting, termasuk siapa yang memegang kontrol upgrade, apakah protokol bisa dihentikan, bagaimana insiden diumumkan, dan seberapa kuat keamanan operasional tim.

Sebelum mempercayakan dana ke protokol baru, status audit, kontrol admin, hak upgrade, dan riwayat insiden perlu diperiksa bersama. Badge audit tidak boleh menggantikan kehati-hatian dasar saat pengguna berhadapan dengan aplikasi yang belum teruji.

Tanda bahaya yang harus segera dihentikan

Beberapa sinyal sebaiknya langsung membuat transaksi dihentikan, seperti prompt wallet yang muncul terlalu cepat, permintaan approval luas tanpa alasan yang jelas, atau situs yang memaksa unduhan wallet sebelum bisa dipakai. Tanda lain juga perlu diwaspadai, termasuk token yang namanya cocok tetapi alamat kontraknya berbeda, link dari DM atau hasil sponsor, serta permintaan tanda tangan yang terasa terburu-buru dan tidak sesuai dengan niat transaksi.

Dalam praktik sehari-hari, pendekatan paling aman tetap sederhana: cek domain, cek kontrak, baca scope approval, dan pastikan route yang dipakai memang dipilih sendiri. Pada DeFi, kebiasaan kecil seperti ini sering menjadi pembeda antara transaksi yang aman dan kerugian yang sulit dibalik.

Terkait