Windows K2, Jurus Besar Microsoft untuk Menyelamatkan Windows 11 dari Kejatuhan

Author: Qoo Media

Microsoft disebut sedang menyiapkan langkah besar untuk merapikan Windows 11 lewat inisiatif internal bernama Windows K2. Fokus utamanya bukan sekadar menambah fitur baru, melainkan memperbaiki keluhan yang paling sering dilontarkan pengguna, mulai dari performa, reliabilitas, hingga pengalaman antarmuka yang dinilai makin jauh dari fondasi Windows.

Dorongan ini muncul setelah Windows 11 disebut memicu sentimen negatif karena terlalu agresif mengejar AI dan berbagai tambahan lain, sementara hal dasar seperti kecepatan dan stabilitas justru tertinggal. Pavan Davuluri, presiden Windows, pada Maret mengakui adanya “pain points” serius yang perlu ditangani, dan Microsoft kini tampak ingin membalik arah pengembangan itu.

Windows K2 bukan rilis baru, melainkan perubahan arah

Windows K2 bukan paket pembaruan tunggal atau versi OS terpisah. Berdasarkan informasi yang beredar, K2 adalah inisiatif berkelanjutan yang dirancang agar kualitas Windows tetap tinggi dan konsisten di versi sekarang maupun mendatang.

Strategi ini disebut mulai disusun pada paruh kedua tahun lalu. Targetnya jelas, yaitu membuat Windows 11 menjadi platform yang lebih layak dibanggakan pengguna, dengan perbaikan yang terasa hingga menjelang akhir 2026 dan masuk ke 2027.

Tiga pilar utama: performa, craft, dan reliabilitas

Microsoft menempatkan tiga fokus inti dalam K2, yaitu performance, craft, dan reliability. Ketiganya dipandang sebagai fondasi pengalaman Windows, karena jika salah satu melemah, seluruh produk ikut terdampak.

Untuk mencapai itu, Microsoft mengandalkan umpan balik pengguna dan Windows Insider, data telemetry, serta diskusi kelompok fokus dengan pelanggan. Langkah ini menunjukkan bahwa perusahaan tidak hanya membaca keluhan publik, tetapi juga mencoba memetakan masalah secara teknis dan langsung dari perilaku pemakaian.

Budaya kerja internal juga ikut dirombak

Perubahan besar K2 tidak hanya menyentuh produk, tetapi juga cara tim Windows bekerja. Selama ini, tim disebut sangat mengejar kecepatan rilis fitur, namun model itu dinilai mengorbankan kualitas dan membuat pengguna terus berhadapan dengan bug dan ketidakstabilan.

Kini, prioritasnya bergeser ke kualitas. Fitur baru disebut tidak bisa mendekati build pratinjau publik sebelum lolos standar internal yang lebih ketat, sehingga Microsoft berusaha memastikan perubahan yang masuk benar-benar matang sebelum dilihat pengguna luas.

Performa menjadi area yang paling disorot

Dokumentasi internal yang dilihat Windows Central menyebut Microsoft mengakui penurunan performa pada File Explorer, game, dan elemen antarmuka sistem seperti context menu. Dalam beberapa benchmark, Windows 10 bahkan kerap terlihat lebih cepat dibanding Windows 11, dan kondisi itu ingin dibalik.

Microsoft juga menaruh perhatian pada gaming. SteamOS disebut menjadi tolok ukur, dan perusahaan menargetkan performa gaming Windows bisa setara di perangkat keras yang sama melalui perubahan fondasional yang sedang disiapkan.

File Explorer, Windows Update, dan efisiensi sistem ikut dibenahi

Salah satu area yang akan menerima peningkatan besar adalah File Explorer. Microsoft ingin mempercepat navigasi file, pemrosesan, dan pencarian di dalam aplikasi itu, termasuk kemampuan “instant filename search” yang disinggung sebagai bagian dari pembaruan.

Windows Update juga masuk daftar prioritas. Targetnya adalah sistem yang cukup andal sehingga restart hanya dibutuhkan sekitar sebulan sekali, sambil membuat proses pembaruan lebih mulus, misalnya dengan menunda pembaruan driver display dan audio hingga restart, bukan saat perangkat sedang aktif digunakan.

Di sisi lain, Microsoft juga berupaya memangkas beban Windows 11. Fokusnya adalah mengurangi penggunaan memori saat idle dan menekan jejak sistem agar lebih ringan di perangkat kelas bawah, sekaligus lebih mulus di perangkat kelas atas dan handheld gaming.

Antarmuka ikut dipoles, dari Taskbar sampai Start menu

K2 juga membidik aspek craft atau kualitas visual dan interaksi. Salah satu perubahan yang paling banyak diminta pengguna, yaitu kemampuan memindahkan dan mengubah ukuran Taskbar, sudah dikonfirmasi akan kembali.

Microsoft juga memperkuat penggunaan WinUI 3 sebagai fondasi antarmuka internal. Dengan System Compositor baru untuk WinUI 3, Windows diarahkan agar elemen seperti Start menu dan Taskbar tetap responsif meski sistem sedang terbebani berat.

Start menu bahkan sedang dibangun ulang dari nol memakai WinUI 3. Versi baru ini diklaim bisa hingga 60% lebih cepat dan lebih responsif, serta menawarkan opsi kustomisasi seperti mengubah ukuran dan menyembunyikan bagian tertentu.

Upaya merespons kritik soal iklan dan konten bawaan

Windows K2 juga menyentuh masalah yang kerap disebut pengguna sebagai bentuk enshittification. Microsoft disebut akan menghapus iklan dari Start menu, langkah yang tentu tidak kecil dari sisi bisnis.

Di Widgets Board, konten MSN juga tidak lagi akan muncul sebagai tampilan default. Fokusnya dipindahkan ke Widgets Panel, sementara MSN diposisikan sebagai fungsi sekunder, bukan lagi pusat pengalaman.

Windows K2 tidak punya tanggal selesai yang pasti, namun arah besarnya sudah terlihat jelas. Microsoft ingin mengembalikan Windows 11 ke posisi yang lebih kuat melalui perbaikan fondasi, dan sejumlah perubahan dari inisiatif ini sudah mulai dirilis, dengan lebih banyak lagi dijadwalkan muncul dalam pratinjau dalam beberapa bulan mendatang.

Terbaru