Mark Cuban Ungkap Kesalahan Karier Terbesar Saat Ini, Saat AI Dipakai untuk Kabur dari Belajar

Mark Cuban menilai blunder karier terbesar saat ini bukanlah memakai AI, melainkan memakainya untuk menghindari proses belajar. Menurut investor tersebut, pekerja yang hanya ingin “melewati” pekerjaan dengan bantuan AI justru berisiko tertinggal dalam jangka panjang.

Cuban melihat dunia kerja mulai terbelah menjadi dua kelompok. Di satu sisi ada orang yang memakai AI untuk memperdalam pengetahuan, sementara di sisi lain ada yang memakai teknologi itu agar tidak perlu belajar lebih jauh.

Ia menyampaikan pandangan itu dalam Big Technology Podcast pada ajang Dallas Regional Chamber’s Convergence AI. Dalam pandangannya, perbedaan cara memakai AI akan menentukan seberapa besar peluang seseorang bertahan di pasar kerja yang berubah cepat.

“Orang yang memakai AI supaya tidak perlu belajar apa pun dan orang yang memakai AI supaya bisa belajar segalanya,” kata Cuban, menggambarkan dua kubu pengguna AI. Ia menilai jarak antara keduanya akan makin terlihat dari kualitas hasil kerja dan kemampuan beradaptasi.

Bahaya saat AI hanya jadi jalan pintas

Cuban memperingatkan bahwa AI bisa menjadi alat yang sangat membantu untuk tugas rutin. Namun, ketika dipakai asal-asalan, teknologi itu justru bisa membuat seseorang bergantung pada “asisten” yang tidak pernah lelah tanpa benar-benar memahami pekerjaannya.

Ia bahkan menyamakan penggunaan AI yang buruk seperti mempercayakan pekerjaan pada “drunk intern”. Menurut Cuban, cara seperti itu akan membuat pekerja kesulitan karena mereka tidak ikut membangun pemahaman dasar yang dibutuhkan untuk berkembang.

Peringatan Cuban sejalan dengan kekhawatiran yang lebih luas di kalangan peneliti AI. Sejumlah studi dan pakar menyebut ketergantungan berlebihan pada AI dapat menurunkan kemampuan berpikir kritis, terutama saat pengguna terlalu percaya pada jawaban sistem tanpa memeriksanya lagi.

Sebuah studi dari peneliti Microsoft dan Carnegie Mellon University pada 2025 menemukan bahwa orang yang percaya diri menggunakan AI seperti ChatGPT justru lebih sedikit memakai keterampilan berpikir kritis. Para peneliti juga menyebut ada biaya tersembunyi, yakni pengguna bisa kehilangan “otot” kebiasaan untuk menjalankan tugas-tugas rutin secara mandiri.

Dalam laporan tersebut, para peneliti menulis bahwa teknologi yang dipakai secara tidak tepat dapat menyebabkan penurunan kemampuan kognitif yang seharusnya dijaga. Kekhawatiran serupa juga muncul dari Vivienne Ming, chief scientist di Possibility Institute.

Ancaman jangka panjang bagi kemampuan berpikir

Ming mengatakan kepada Business Insider bahwa AI sedang memperlebar jarak di dunia kerja antara orang yang memakai teknologi itu untuk memperkuat cara berpikir dan orang yang membiarkannya berpikir untuk mereka. Ia menilai ketergantungan semacam itu dapat meninggalkan dampak yang bertahan lama.

Menurut Ming, penggunaan AI yang berlebihan berpotensi melemahkan kemampuan menalar, menganalisis, dan memecahkan masalah. Dalam pandangannya, kebiasaan itu bisa berujung pada penurunan fungsi kognitif seiring waktu.

Ia membandingkannya dengan navigasi GPS. Teknologi itu memang membuat hidup lebih praktis, tetapi ketergantungan yang terlalu besar bisa perlahan mengikis kemampuan mental yang tidak lagi sering dipakai.

Cuban sendiri melihat masa depan kerja tetap terbuka bagi mereka yang tahu cara memanfaatkan AI secara tepat. Ia mengatakan orang yang belajar memakai alat ini sambil tetap berpikir kritis dan terus penasaran akan selalu memiliki pekerjaan.

“Jika Anda belajar menggunakan alat-alat ini, dan Anda tahu cara berpikir kritis, Anda penasaran, jadi Anda selalu belajar, Anda akan selalu punya pekerjaan karena AI tidak tahu konsekuensi dari tindakannya,” kata Cuban. Pandangan itu menegaskan bahwa nilai utama di era AI bukan sekadar kecepatan, melainkan kemampuan manusia untuk tetap memahami, menilai, dan mengarahkan teknologi.

Terkait