Di saat banyak perusahaan di berbagai negara memakai AI sebagai alasan untuk merombak tenaga kerja, JD.com justru mengambil posisi berlawanan. Raksasa e-commerce China itu berjanji tidak akan memecat pekerja lini depan yang tergantikan mesin, termasuk jika otomatisasi makin luas diterapkan di perusahaannya.
Sikap itu menjadi sorotan karena adopsi AI dan robotika di dunia usaha terus melaju cepat. Di banyak tempat, teknologi otomatis memang membantu efisiensi dan produktivitas, tetapi juga memicu kekhawatiran soal gelombang PHK, perekrutan yang melambat, dan pekerjaan yang terancam hilang.
Pendiri JD.com, Liu Qiangdong, menyampaikan komitmen itu dalam pidato internal yang videonya beredar di media sosial. Menurut Economic Times, Liu bersumpah akan mencegah perusahaannya melakukan PHK massal akibat otomatisasi.
Ia juga menegaskan bahwa JD.com akan melakukan segala upaya untuk melindungi pekerjaan bagi ratusan ribu staf, termasuk pekerja kerah biru. Perusahaan ini merupakan salah satu pemberi kerja terbesar di China, dengan sekitar 900.000 pekerja yang disebut bisa bernapas lega dari ancaman PHK karena AI.
AI dan dilema tenaga kerja di China
Langkah JD.com muncul di tengah dorongan besar perusahaan-perusahaan China untuk menerapkan sistem AI. Dorongan itu sejalan dengan ambisi negara untuk mendominasi teknologi baru, tetapi pada saat yang sama menimbulkan dilema besar bagi pembuat kebijakan.
Partai Komunis China ingin menjaga stabilitas pasar tenaga kerja di tengah perlambatan ekonomi dan tingginya pengangguran kaum muda. Di sisi lain, otomatisasi terus masuk ke proses bisnis dan mengubah cara perusahaan mengelola kebutuhan kerja mereka.
JD.com sendiri sudah mempekerjakan orang untuk beragam peran, dari kurir dan petugas toko hingga pelatih AI dan teknisi perawatan robot. Perusahaan itu juga sedang bereksperimen dengan sejumlah teknologi tanpa awak di jaringan operasionalnya.
Pengajuan terbaru menunjukkan bahwa teknologi tersebut mencakup gudang tanpa awak, pengiriman drone, kendaraan otonom, stasiun pengiriman tanpa awak, dan toko serba ada. Perubahan ini memperlihatkan bahwa otomatisasi di JD.com bukan sekadar wacana, melainkan sudah masuk ke bagian inti operasional.
Pelatihan ulang, bukan pemutusan hubungan kerja
Untuk mengimbangi perubahan itu, JD.com mengatakan telah mendirikan lebih dari 80 basis pelatihan di seluruh negeri. Basis ini dipakai untuk melatih ulang pekerja agar punya keterampilan seperti pemeliharaan dan servis sistem otomatis.
Liu menyebut model itu sebagai bagian dari upaya menjaga agar pekerja tetap relevan di tengah transformasi teknologi. Dengan pendekatan tersebut, JD.com mencoba membangun jalur transisi kerja di saat banyak perusahaan lain justru mengurangi tenaga kerja.
Pernyataan Liu juga muncul setelah pengadilan China pada akhir April memutuskan bahwa perusahaan tidak bisa memberhentikan karyawan atau memotong gaji mereka hanya untuk mengganti mereka dengan sistem AI. Putusan ini menambah tekanan bagi perusahaan yang ingin bergerak cepat dalam otomatisasi tetapi tetap harus mematuhi aturan ketenagakerjaan.
Otoritas China sebelumnya juga mewajibkan perusahaan untuk melatih ulang atau menugaskan kembali pekerja sebelum mereka dapat diberhentikan. Aturan itu menjadi pengamanan awal terhadap penggantian pekerjaan oleh AI, sebuah langkah yang jarang diterapkan secara setegas itu di negara lain.
Di tengah arus otomatisasi global, janji JD.com menempatkan perusahaan itu sebagai pengecualian yang mencolok. Saat sebagian pelaku industri memakai AI untuk menekan biaya tenaga kerja, JD.com justru berusaha meyakinkan stafnya bahwa mesin tidak harus berarti pemutusan hubungan kerja.
Source: www.cnbcindonesia.com