PHK Menggila Di Raksasa Teknologi, AI Kini Jadi Alasan Utama Pemangkasan Karyawan

Perusahaan teknologi di Amerika Serikat sedang mengubah wajah pasar kerja dengan cara yang keras: memangkas ribuan karyawan sambil tetap memburu tenaga baru. Di saat investasi untuk kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) semakin agresif, gelombang PHK di sektor ini justru mencatat level tertinggi dalam hampir dua tahun terakhir.

Data Challenger, Gray & Christmas menunjukkan perusahaan teknologi mengumumkan rencana penghapusan 38.242 posisi pekerjaan sepanjang Mei. Itu menjadi angka PHK bulanan terbesar sejak Agustus 2024 dan mempertegas bahwa AI kini bukan lagi sekadar tema investasi, tetapi juga faktor langsung yang memengaruhi struktur tenaga kerja.

AI jadi alasan utama PHK

Secara kumulatif, industri teknologi telah mengumumkan PHK terhadap 123.653 pekerja sepanjang tahun ini. Angka itu melonjak lebih dari 65% dibandingkan periode yang sama tahun lalu, menunjukkan laju pengurangan tenaga kerja yang jauh lebih cepat di sektor tersebut.

Chief Revenue Officer Challenger, Andy Challenger, menilai teknologi sedang membentuk ulang pasar tenaga kerja secara langsung. Ia mengatakan AI kini menjadi alasan utama yang diberikan perusahaan untuk memangkas tenaga kerja, termasuk di sejumlah perusahaan besar yang sudah mengumumkan pengurangan karyawan terkait implementasi AI seperti Meta Platforms, Intuit, dan Cisco Systems.

Pola itu menunjukkan tekanan efisiensi di perusahaan teknologi tidak berdiri sendiri. Banyak perusahaan terlihat menyesuaikan struktur organisasi mereka agar selaras dengan penggunaan AI yang lebih luas di proses bisnis dan operasional.

PHK besar, tapi pasar tenaga kerja lain masih stabil

Menariknya, gelombang PHK di teknologi terjadi di tengah kondisi yang relatif tenang di pasar tenaga kerja swasta secara umum. Total pengumuman PHK sektor swasta justru turun 7% dalam lima bulan pertama tahun ini dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Kondisi tersebut menandakan sebagian besar industri lain masih berada dalam lingkungan pasar tenaga kerja yang stabil. Perekrutan dan PHK sama-sama rendah, sehingga tekanan paling besar justru terkonsentrasi di sektor teknologi.

Dampak PHK teknologi juga belum terlihat besar pada klaim tunjangan pengangguran di AS. Sebagian besar pemutusan hubungan kerja menyasar pekerja kantoran atau white-collar, sehingga efek langsungnya ke klaim pengangguran belum menonjol.

Aneh tapi nyata: teknologi juga paling agresif merekrut

Di tengah gelombang pemangkasan karyawan, sektor teknologi ternyata juga mencatat rencana perekrutan tertinggi dibandingkan sektor lainnya. Laporan Challenger menunjukkan perusahaan-perusahaan AS telah mengumumkan rencana perekrutan sebanyak 80.472 pekerja sepanjang tahun ini.

Jumlah itu lebih tinggi dibandingkan 2024 dan 2025, meski masih berada di bawah capaian periode yang sama pada 2019-2023. Artinya, perusahaan teknologi tidak sepenuhnya menekan ekspansi tenaga kerja, melainkan menata ulang jenis pekerjaan yang mereka butuhkan.

Kombinasi PHK besar dan rencana perekrutan tinggi mengisyaratkan pergeseran prioritas di industri ini. Perusahaan tampaknya memangkas peran yang dianggap kurang relevan, lalu mengarahkan rekrutmen ke bidang yang lebih selaras dengan strategi AI dan transformasi digital.

Pasar menunggu sinyal berikutnya

Perhatian pasar kini juga tertuju pada laporan ketenagakerjaan bulanan pemerintah AS yang dijadwalkan terbit Jumat waktu setempat. Ekonom memperkirakan perusahaan-perusahaan AS menambah sekitar 85.000 lapangan kerja pada Mei.

Jika proyeksi itu tepat, maka AS akan mencatat pertumbuhan lapangan kerja selama tiga bulan berturut-turut. Periode tersebut akan menjadi salah satu fase terkuat dalam lebih dari satu tahun terakhir, meski di saat yang sama sektor teknologi masih menjalani restrukturisasi besar-besaran.

Situasi ini memperlihatkan dua wajah pasar kerja AS yang berjalan bersamaan. Di satu sisi, ekonomi masih mampu menambah pekerjaan; di sisi lain, perusahaan teknologi sedang bergerak cepat memangkas tenaga kerja dan menyesuaikan diri dengan era AI.

Source: www.cnbcindonesia.com
Exit mobile version