Wall Street Veteran Sebut Selloff Bitcoin, Emas, dan Perak Sebagai Capitulation Debasement, Harga Rumah Mandek

Pasar sedang mengirim sinyal yang tidak nyaman bagi banyak investor: Bitcoin, emas, dan perak serempak melemah di saat reli saham berbasis kecerdasan buatan terus mengangkat aset finansial. Menurut veteran Wall Street Jordi Visser, pergerakan itu mencerminkan apa yang ia sebut sebagai “debasement capitulation”, yakni peluruhan posisi pada perdagangan yang terlalu padat.

Visser menilai reli AI memang menguntungkan saham dan instrumen keuangan, tetapi tidak menjangkau rumah yang justru menjadi aset utama banyak परिवार di Amerika. Ia menyebut harga rumah “tidak bergerak”, sehingga banyak orang merasa tertinggal ketika pasar keuangan terus naik.

Pasar yang naik, rumah yang diam

Visser memimpin riset AI-makro di 22V Research dan memiliki pengalaman lebih dari 30 tahun di Wall Street. Ia mengatakan kesenjangan ini membuat kemarahan publik menguat, karena kekayaan rumah tangga lebih banyak tersimpan di perumahan daripada di saham-saham dan nama infrastruktur yang diuntungkan oleh AI.

Menurutnya, ada pemisahan yang makin lebar antara bagian ekonomi yang digerakkan informasi dan komputasi dengan investasi perumahan yang stagnan. Dampaknya, reli AI “tidak memberi manfaat dengan cara yang sama untuk semua orang”.

Bitcoin ikut terseret unwind perdagangan padat

Dalam pandangan Visser, pelemahan terbaru Bitcoin, emas, dan perak lebih banyak disebabkan oleh pembongkaran posisi pada perdagangan makro yang sudah terlalu ramai. Ia menggambarkannya sebagai perdagangan yang memasangkan posisi beli pada aset-aset itu dengan taruhan bahwa obligasi akan turun.

Ia juga menilai posisi tersebut sempat sangat banyak dipegang oleh wealth-management firms dan dana pensiun. Tekanan kemudian meningkat setelah Kevin Warsh, yang ia sebut sebagai Ketua Federal Reserve, mengambil nada yang lebih hawkish dan mendorong penguatan dolar AS.

Visser menegaskan tesis besarnya belum berubah. Ia menunjuk defisit pemerintah yang terus ada dan utang yang meningkat sebagai alasan mengapa narasi dasar di balik perdagangan itu masih hidup.

Bitcoin dinilai lemah karena arus portofolio, bukan fundamental

Visser menolak anggapan bahwa pelemahan Bitcoin berasal dari kerusakan fundamental. Ia mengatakan Bitcoin sedang “lumped in” bersama pembongkaran posisi yang lebih luas dan saham perangkat lunak yang juga sedang tertekan, padahal sampai Oktober lalu aset kripto itu masih mengungguli ekuitas dan obligasi.

Ia menilai tekanan terbaru datang dari rebalancing portofolio kuartal akhir, short-selling agresif, dan skeptisisme yang masih kuat dari banyak investor institusional. Dalam 24 jam terakhir, harga Bitcoin tercatat turun 0,5%, sementara sentimen ritel di Stocktwits bergeser ke “neutral” dari zona “bearish”.

Keyakinan pasar diuji, tetapi Visser masih melihat ruang pulih

Meski pasar sedang rapuh, Visser tetap melihat kelemahan itu sebagai fase sementara. Ia mengaitkan potensi pemulihan dengan AI agents dan tokenisasi yang, menurutnya, dapat mempercepat velocity of money dan menjadi “third wave” bagi kripto.

Ia juga menilai ratusan triliun dolar aset yang saat ini tidak likuid, termasuk real estate, bisa menjadi lebih mudah diperdagangkan seiring meluasnya tokenisasi. Dalam pandangannya, tren itu dapat mengurangi peran perantara dan mengubah aktivitas ekonomi secara lebih luas.

Sementara itu, tekanan pasar nyata mulai menguji kepercayaan investor. Satu analisis menyebut investor rata-rata BlackRock IBIT berpindah dari gain 30% menjadi loss 40% akibat penurunan Bitcoin, sedangkan tekanan pada Strategy meningkat di tengah investigasi class-action dan peringatan kebangkrutan dari Peter Schiff.

Terkait