Ripple CEO Brad Garlinghouse menilai strategi Bitcoin bertumpu leverage milik Strategy justru merugikan pasar kripto. Sorotan utamanya datang dari STRC, saham preferred milik Strategy yang menurutnya sudah jauh dari gambaran aset stabil karena diperdagangkan sekitar 26% di bawah nilai par.
Garlinghouse menyampaikan kritik itu saat tampil di CNBC’s Squawk on the Street. Ia tetap bullish pada Bitcoin, tetapi menolak pendekatan finansial yang dibangun Michael Saylor di sekeliling aset tersebut.
Menurut Garlinghouse, masalahnya bukan pada Bitcoin sebagai aset, melainkan pada struktur keuangan yang dipakai untuk mengekspos investor ke Bitcoin. Ia menilai penggunaan leverage membuat keuntungan membesar saat harga naik, tetapi juga memperparah kerugian saat pasar berbalik arah.
Ia juga menyorot STRC, atau Variable Rate Series A Perpetual Stretch Preferred Stock, yang membawa dividen tahunan 11,5% dan dirancang agar diperdagangkan dekat $100. Saat komentar itu disampaikan, STRC berada di sekitar $74, sehingga jaraknya dari par disebutnya sebagai “a pretty damning indictment.”
Tekanan pada model Strategy makin besar
Kritik Garlinghouse muncul di tengah tekanan besar pada neraca Strategy. Perusahaan itu memegang lebih dari 843.000 BTC dengan harga akuisisi rata-rata sekitar $75.646 per koin, sementara Bitcoin saat ini bergerak di kisaran $59.000 hingga $60.000.
Kondisi itu membuat Strategy menanggung lebih dari $13 miliar kerugian belum terealisasi pada aset utamanya. Pada saat yang sama, kewajiban dividen tahunan atas berbagai kelas saham preferred-nya telah naik menjadi sekitar $1,2 miliar.
Ruang penyangga untuk membayar dividen juga makin sempit. Dari lebih dari tujuh tahun pada awal 2026, jendela cakupan dividen kini menyusut menjadi sekitar 14 bulan.
Garlinghouse menilai tanda paling jelas dari tekanan itu terlihat pada keputusan Strategy menjual 32 BTC pada Mei. Itu menjadi penjualan Bitcoin pertama perusahaan dalam beberapa tahun dan dilakukan khusus untuk membayar dividen STRC.
Schiff ikut menyerang klaim Saylor
Peter Schiff memperluas kritik itu dengan membawa dimensi hukum sekuritas. Dalam unggahannya pekan ini, ia menuduh Michael Saylor membuat pernyataan yang melewati batas promosi dan masuk ke wilayah yang berpotensi menyesatkan secara material.
Schiff menyorot pernyataan Saylor yang menyebut instrumen kredit digital buatan Strategy sebagai “a bank account with no stress and no volatility that pays 10%.” Ia membalas bahwa klaim itu “materially false and misleading.”
Menurut Schiff, STRC turun 18% dalam sepekan dan sempat diperdagangkan serendah 28,75% di bawah par. Ia tidak menyerukan tindakan regulator, tetapi pilihan katanya mencerminkan bahasa yang lazim dipakai dalam isu pengungkapan kepada investor dan aturan sekuritas.
Apa yang sebenarnya dibaca pasar dari diskon STRC
Diskon 25% hingga 29% pada preferred stock dengan dividen 11,5% dianggap sebagai penilaian langsung pasar atas kemampuan Strategy mempertahankan pembayaran itu. Jika suatu preferred stock diperdagangkan di par, pasar cenderung melihat dividennya aman dan syarat instrumennya akan dipenuhi.
Sebaliknya, diskon 25% menunjukkan pasar sedang menghitung risiko berarti bahwa imbal hasil 11,5% itu tidak akan dibayar penuh. Pasar juga tampaknya menuntut kondisi yang lebih kuat, terutama harga Bitcoin yang lebih tinggi, sebelum instrumen tersebut bisa dipandang lebih aman.
Itulah sebabnya STRC dinilai tidak mencerminkan gambaran seperti rekening tabungan tanpa stres atau volatilitas. Instrumen itu kini diperdagangkan hampir 29% di bawah nilai par $100, di tengah kerugian Bitcoin yang belum terealisasi, beban dividen yang besar, dan jendela cakupan yang terus menyempit.
Saylor sendiri menanggapi kritik dengan nada menantang. Ia menulis bahwa “digital credit is income for investors who believe in Bitcoin” dan menyebut penurunan tajam pasar sebagai ujian keyakinan, bukan alasan untuk mengubah pendekatan.
