Sony disebut akan mengakhiri produksi cakram fisik pada 2028, dan reaksi dari gamer serta pengamat pelestarian game langsung besar. Di saat yang sama, pertanyaan lama soal nilai sebuah konsol makin keras terdengar ketika media fisik yang bisa dimiliki, dipinjamkan, dan dijual kembali perlahan hilang.
Perubahan itu membuat banyak orang menilai konsol mulai kehilangan pembeda terbesarnya. Jika isi perpustakaan game sepenuhnya digital, konsol kian mirip PC tertutup yang bergantung pada satu toko, biaya langganan untuk bermain online, dan kontrol perangkat lunak yang tetap berada di tangan pemilik platform.
Nilai jual konsol mulai menyempit
Masih ada dua alasan utama yang membuat Xbox dan PlayStation relevan, yaitu kemudahan penggunaan dan hambatan masuk yang rendah. Namun, keunggulan itu ikut tergerus ketika konsol tidak lagi punya ekosistem fisik yang kuat, sementara isu pelestarian game terus membayangi.
Masalahnya bukan hanya soal nostalgia terhadap cakram. Pada ekosistem digital, hak milik pemain juga terasa lebih rapuh karena ada risiko pencabutan lisensi, penutupan toko, dan hilangnya akses ke game tertentu saat layanan berubah.
PC justru makin terlihat masuk akal
Di sisi lain, PC gaming terlihat semakin kuat karena menawarkan lebih banyak kebebasan. Microsoft lewat Xbox Mode di Windows 11 sudah mengarah ke pengalaman PC yang terasa seperti konsol, sementara SteamOS dari Valve juga dinilai selancar antarmuka konsol di banyak perangkat.
Keunggulan PC tidak berhenti pada tampilan antarmuka. Platform ini memberi akses ke toko mana pun, multiplayer online gratis, diskon besar untuk game lama maupun baru, fungsi komputer biasa, dan kemampuan emulasi yang kuat untuk memainkan game lawas.
PC juga punya sisi kepemilikan yang dianggap lebih jelas oleh sebagian pemain. GOG, misalnya, menegaskan bahwa jika sebuah game hilang dari etalase toko, game itu tetap ada di pustaka pengguna, dan banyak cara juga tersedia untuk menjalankan game Steam tanpa Steam.
Harga ikut mengubah perhitungan
Masalah terbesar konsol generasi berikutnya bukan cuma fitur, tetapi harga. Komponen PC yang membentuk sebuah perangkat gaming disebut masih mahal, dan situasi itu belum diperkirakan membaik sampai awal 2028.
Karena itu, konsol generasi baru dari Microsoft dan Sony dinilai sulit tampil murah seperti dulu. Perkiraannya, harga peluncuran bisa menembus $1.000, sehingga pembeli mungkin membayar setara harga PC untuk pengalaman yang tetap membawa batasan khas konsol.
Bahkan ketika perangkat seperti Steam Machine hadir, harganya tetap mencerminkan tekanan pasar tersebut. Model dasarnya dibanderol $1.049 dan disebut sebagai gaming PC yang lebih rapi untuk ruang keluarga, tetapi Valve juga menjelaskan bahwa harga itu dipengaruhi oleh kelangkaan komponen dan tidak adanya subsidi seperti di pasar konsol.
Pasar tetap bergerak, tetapi arah berubah
Steam Machine sempat habis terjual dengan cepat, dan itu menunjukkan ada audiens kuat untuk PC ringkas bergaya konsol. Fenomena itu juga mendorong munculnya pasar baru untuk compact gaming PC di kisaran $1.000 dan proyek SFF kustom.
Minat itu lahir dari kenyataan sederhana: banyak pemain PC rela mengeluarkan uang lebih demi tetap bisa bermain. Itulah yang membuat pasar PC tetap bertahan saat kondisi sulit, sementara sebagian gamer konsol mulai mempertimbangkan pindah ke PC.
Meski begitu, pasar konsol belum hilang dalam waktu dekat. Sony dan Xbox masih diperkirakan menjual banyak perangkat sebelum generasi berikutnya tiba, dan fitur eksklusif tetap akan menjadi senjata penting untuk menarik pembeli.
Masalahnya, jika eksklusif makin sering hadir di PC dan media fisik benar-benar lenyap, alasan membeli kotak tertutup di ruang tamu akan semakin sulit dijelaskan. Xbox sendiri sudah memberi sinyal bahwa perangkat berikutnya akan lebih mirip gaming PC berbasis Windows 11, dengan dukungan untuk game Xbox, game lawas, dan software PC.
