Potongan 8% yang diterapkan Grab Indonesia dan Gojek membuat banyak pengemudi ojek online bingung. Di lapangan, sebagian driver mengaku penghasilan harian mereka tidak banyak berubah meski skema pemotongan baru sudah berlaku.
Kebijakan itu disebut mengacu pada Peraturan Presiden Nomor 27 tahun 2026 dan mulai berjalan pada 1 Juli 2026. Sehari setelah aturan berlaku, beberapa driver menilai angka yang masuk ke saldo mereka masih terasa mirip dengan sebelumnya.
Tarif minimal ikut berubah
Salah satu perubahan yang paling terasa ada pada tarif minimal. Untuk Grab, tarif minimal yang sebelumnya Rp 10.400 disebut berubah menjadi Rp 10.200.
Pada layanan hemat GrabBike, sistem potongan juga berubah. Sebelumnya, pengemudi dikenakan potongan berbayar yang bergantung pada jumlah trip paket hemat yang dijalankan, dengan kisaran Rp 3.500 untuk 1-3 penumpang dan flat Rp 20 ribu untuk 10 trip ke atas.
Seorang pengemudi Grab menjelaskan bahwa kini pendapatan total dari GrabBike Hemat dipotong 8%. Ia mencontohkan pendapatan Rp 200 ribu pada layanan hemat yang turun menjadi Rp 184 ribu setelah dipotong.
Untuk layanan reguler Grab, potongan 8% dilakukan langsung setelah trip selesai. Dalam salah satu transaksi yang ditunjukkan, penumpang membayar Rp 19.800 dan pengemudi menerima pendapatan bersih Rp 15.500.
Skema Gojek punya rincian berbeda
Pada Gojek, pengemudi juga melihat adanya perbedaan tarif minimal antara layanan hemat dan reguler. Tarif minimal layanan hemat disebut Rp 10.212, sedangkan layanan reguler Rp 10.580.
Di layanan hemat Gojek, pendapatan mitra 92% disebut sebesar Rp 10.212 dan potongan Gojek 8% sebesar Rp 818. Selain itu, ada diskon voucher yang dibayarkan Gojek sebesar Rp 2.100.
Untuk layanan reguler Gojek, komponen di dalamnya termasuk biaya aplikasi. Seorang pengemudi mengatakan biaya ini bisa berbeda pada tiap trip dan ada juga tambahan biaya asuransi perjalanan.
Banyak driver masih bertanya-tanya
Di tengah perubahan skema itu, sejumlah driver mengira potongan 8% diambil langsung dari ongkos yang dibayar penumpang. Kenyataannya, ada komponen lain yang dipotong lebih dulu sebelum aplikasi mengambil 8% lagi.
Seorang pengemudi mengaku masih bingung dengan cara hitung potongan baru itu. Ia meminta penjelasan yang lebih terperinci agar driver memahami alasan angka pendapatan bersih bisa berbeda dari dugaan awal.
“[Biaya aplikasi] bisa beda-beda, semakin jauh semakin mahal,” kata seorang pengemudi saat menjelaskan komponen yang ikut memengaruhi penghasilan.
Penghasilan harian disebut belum banyak berubah
Meski skema potongan sudah berganti, sebagian pengemudi menilai hasil akhir yang mereka terima tidak jauh berbeda dari hari-hari biasa. Seorang driver mengatakan memperoleh Rp 250 ribu dari 20 trip pada hari kemarin.
Ia menilai perubahan potongan tidak langsung terasa pada penghasilan harian. “Enggak ada bedanya sih sama biasanya,” ujarnya.
Kondisi ini membuat kebijakan potongan 8% belum sepenuhnya dipahami di level operasional. Di sisi lain, rincian komponen seperti biaya aplikasi, biaya platform, dan diskon voucher membuat pengemudi perlu melihat detail transaksi satu per satu untuk mengetahui angka bersih yang mereka terima.
