Pendiri OnePlus Pete Lau Diduga Rekrut Ilegal, Surat Penangkapan Dikeluarkan

Pihak berwenang Taiwan telah menerbitkan surat perintah penangkapan terhadap Pete Lau, pendiri OnePlus, setelah tuduhan serius terkait perekrutan karyawan di wilayah tersebut. Tuduhan yang diarahkan kepadanya mengindikasikan dugaan pelanggaran undang-undang keamanan nasional Taiwan, yang memang melarang investasi serta aktivitas perekrutan oleh perusahaan Tiongkok tanpa izin resmi.

Penyelidikan dari Kejaksaan Negeri Shilin mengungkap bahwa kasus ini bermula sejak akhir 2014, ketika Pete Lau secara pribadi melakukan perjalanan ke Taiwan. Tujuannya untuk mendiskusikan pembentukan tim teknik lokal dengan seorang manajer setempat. Selanjutnya, pada tahun berikutnya, cabang perusahaan didirikan di Taiwan untuk memuluskan rencana ekspansi OnePlus di pasar teknologi setempat.

Strategi Terselubung dan Peran Perusahaan Cangkang

Untuk menyamarkan aktivitas yang dilakukan, OnePlus mengganti nama cabang lokalnya menjadi "Sonar", yaitu Hong Kong Sonar Consultant Co., Ltd., pada Mei empat tahun lalu. Berdasarkan dokumen resmi, selama periode 2015 hingga 2021, terdapat aliran dana lebih dari 2,3 miliar dolar Taiwan ke dalam negeri melalui mekanisme ini. Uang tersebut dialihkan lewat perantara bernama Hong Kong Dasheng International Trading Company dan diklaim sebagai pendapatan dari proyek penelitian.

Namun menurut keterangan pihak peradilan Taiwan, dana itu tidak digunakan untuk tujuan penelitian seperti diklaim, melainkan sepenuhnya untuk pembayaran gaji, perlengkapan, serta mendukung operasional tim teknik. Informasi dan data keuangan langsung diarahkan ke kantor pusat perusahaan di Shenzhen, Tiongkok.

Fokus pada Pengembangan Perangkat Lunak Eksklusif

Fakta penting terungkap dari pernyataan saksi, yaitu bahwa cabang "Sonar" di Taiwan tidak pernah memiliki klien sendiri. Seluruh tenaga kerja teknis yang direkrut hanya mengembangkan perangkat lunak untuk OnePlus serta merek Oppo, keduanya berada di bawah payung BBK Electronics. Setiap laporan kehadiran dan laporan keuangan pun selalu dikirim langsung ke markas besar group.

Dua eksekutif Taiwan yang ikut didakwa dalam kasus ini berusaha membela diri dengan beragam cara. Direktur utama "Sonar" menyatakan dirinya hanya dipakai sebagai nama formal untuk keperluan pajak. Sementara direktur R&D menegaskan seluruh pengambilan keputusan strategis adalah tanggung jawab Pete Lau secara pribadi.

Upaya Proteksi Teknologi Domestik Taiwan

Konteks hukum di Taiwan mengatur ketat aktivitas investasi dan perekrutan oleh perusahaan asal Tiongkok, akibat khawatir terjadinya alih teknologi dan sumber daya manusia secara ilegal. Pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Lai Ching-te kini makin agresif menerapkan aturan untuk melindungi industri teknologi lokal, terutama sektor semikonduktor yang menjadi jantung ekonomi Taiwan.

Kasus ini menjadi sorotan global karena menandakan eskalasi persaingan dan ketegangan antara industri teknologi Taiwan dan Tiongkok daratan. Pemerintah Taiwan secara terbuka menuduh bahwa praktik seperti ini bertujuan membajak talenta teknologi mereka untuk memperkuat daya saing teknologi perusahaan Tiongkok.

Kronologi dan Rincian Kasus

Berikut adalah rangkuman kronologi dan rincian utama kasus ini:

  1. Pete Lau diduga melakukan kunjungan rahasia ke Taiwan di penghujung 2014 guna membangun jaringan rekrutmen.
  2. Cabang perusahaan resmi didirikan pada 2015.
  3. Perusahaan cangkang Sonar mulai digunakan sejak 2019 untuk mengaburkan jejak keuangan.
  4. Total dana yang mengalir selama enam tahun mencapai lebih dari 2,3 miliar dolar Taiwan.
  5. Seluruh aktivitas dan hasil kerja tenaga teknis difokuskan untuk kebutuhan OnePlus dan Oppo.

Sampai saat ini, pihak OnePlus menyatakan operasional bisnis mereka tetap berjalan seperti biasa dan belum memberikan komentar rinci atas tuduhan yang ada. Proses hukum diperkirakan akan terus berlanjut dan pengamat memandang perkembangan kasus ini sebagai titik krusial dalam peta persaingan teknologi Asia Timur. Pemerintah Taiwan menegaskan komitmennya melindungi industri domestik dari praktik poaching oleh entitas asing yang berpotensi melemahkan daya saing teknologi nasional.

Exit mobile version