Desain dunia dalam game Mirror’s Edge dikenal karena lanskap putih bersih dengan aksen merah yang ikonik. Namun, desain tersebut sebenarnya lahir dari kebutuhan praktis, bukan semata-mata visi artistik murni. Para pengembang mengungkapkan bahwa konsep awal game ini sangat berbeda dan mengalami perubahan signifikan selama tahap pengembangan.
Pada awalnya, Mirror’s Edge dirancang menyerupai kota dystopian berwarna coklat gelap dengan banyak detail, mirip dengan banyak game Unreal Engine pada zamannya. Desain ini dirasa terlalu berat bagi pemain. Pengujian awal menunjukkan bahwa gerakan cepat dalam lingkungan yang sangat detil menyebabkan mual dan rasa tidak nyaman yang tajam, serupa dengan gejala motion sickness saat menggunakan headset VR.
Owen O’Brien, produser senior game ini, mengungkapkan bahwa masalah motion sickness menjadi alasan utama perubahan desain. Dunia game yang lebih bersih dan minim detail secara signifikan mengurangi efek mual tersebut. “Kami menemukan bahwa ketika pemain bergerak sangat cepat melalui dunia, rasa mual muncul dengan cepat. Namun, hal ini berkurang dengan membuat dunia menjadi lebih bersih dan kurang rinci,” jelas O’Brien.
Sementara itu, Johannes Söderqvist, art director Mirror’s Edge, menambahkan bahwa prototipe awal game tersebut cukup generik dan berwarna coklat seperti game-game pada era konsol generasi ketujuh lainnya. “Desain itu tidak buruk, bahkan terlihat bagus, tapi tidak memiliki gaya yang kuat,” ujarnya. Karena itu, tim pengembang mulai bereksperimen untuk menciptakan ciri khas yang unik agar game ini mudah dikenali.
Perubahan desain dilakukan dengan cara menghilangkan sebagian besar warna pada tekstur, menciptakan ruang liminal yang luas dan dominan dengan warna putih yang bersih. Warna merah, biru, hijau, dan kuning digunakan secara selektif sebagai indikator jalan, elemen interaktif, dan detail yang membentuk estetika khas yang kuat. Strategi ini bukan hanya memberikan suasana visual yang unik, tetapi juga membantu mengurangi ketegangan visual dan meningkatkan kenyamanan pengalaman bermain.
Perubahan ini juga menjadi keuntungan artistik, mengubah Mirror’s Edge menjadi game yang mudah dikenali oleh penggemar dan media. Hal ini sesuai dengan tujuan Owen O’Brien yang ingin game ini memiliki identitas visual kuat yang bisa langsung dikenali dari sekadar satu screenshot dalam majalah.
Mirror’s Edge, yang dirilis di konsol PlayStation 3 dan Xbox 360, berhasil menjual lebih dari 2,5 juta kopi. Game ini mendapatkan pujian luas untuk inovasi gameplay parkour dan desain dunianya yang unik. Akan tetapi, cerita dalam game tersebut dianggap kurang menarik sehingga menjadi salah satu kekurangan utamanya.
Pada tahun berikutnya, game ini mendapat reboot dengan judul Mirror’s Edge Catalyst yang mengusung desain dunia terbuka. Meski begitu, versi ini tidak banyak menambah konten yang bisa dilakukan oleh pemain dan tetap menghadapi kritik atas cerita yang monoton. Namun, Mirror’s Edge Catalyst tetap memengaruhi desain game parkour seperti Dying Light, terutama dalam hal mekanisme gerakan dan navigasi.
Berikut adalah faktor-faktor kunci yang mempengaruhi perubahan desain Mirror’s Edge:
- Motion sickness saat pengujian awal: Gerakan cepat di lingkungan detil membuat pemain mual.
- Desain generik dan kurang gaya pada prototipe awal: Dunia coklat gelap tidak memberikan identitas kuat.
- Eksperimen artistik: Penggunaan ruang putih bersih dengan warna aksen unik.
- Tujuan menciptakan game yang mudah dikenali secara visual: Membuat screenshot game langsung menarik perhatian.
- Pengaruh positif terhadap kenyamanan pemain: Mengurangi ketegangan mata dan rasa mual saat bermain.
Dengan latar belakang perubahan desain yang diinformasikan oleh kebutuhan teknis dan kenyamanan pemain, Mirror’s Edge kini dipandang sebagai contoh berhasil bagaimana batasan teknis dapat memicu inovasi artistik yang ikonik. Jika tidak ada masalah motion sickness, mungkin dunia game ini tidak akan memiliki tampilannya yang bersih dan minimalis seperti sekarang.
Perubahan ini membuka peluang baru bagi pengembang game lain untuk mempertimbangkan keterbatasan fisik pemain sebagai bagian dari proses desain visual. Hal ini menjadikan Mirror’s Edge sebagai pijakan penting dalam sejarah desain game, bukan hanya karena gameplay, tetapi juga karena pendekatan kreatifnya dalam menyelesaikan masalah praktis.





