Korea Selatan mengirimkan satelit mini pengukur radiasi bernama K-RadCube ke luar angkasa dalam misi Artemis 2 NASA. Satelit ini telah tiba di Kennedy Space Center, Florida, sebagai bagian persiapan peluncuran misi berawak mengelilingi Bulan pada tahun 2026.
K-RadCube merupakan cubesat tiga unit berbobot sekitar 19 kilogram yang dirancang khusus untuk mengukur tingkat radiasi di luar angkasa. Fokus utama pengukuran berada pada sabuk radiasi Van Allen, sebuah wilayah berbahaya yang mengelilingi Bumi dan berpotensi membahayakan astronaut.
Fungsi Utama K-RadCube
Satelit tersebut dilengkapi dengan dosimeter berbahan khusus yang meniru jaringan tubuh manusia. Alat ini bertujuan mencatat paparan radiasi yang bisa diterima astronaut selama perjalanan menuju Bulan maupun saat berada di luar orbit rendah Bumi.
Selain fungsi pengukuran radiasi, K-RadCube membawa komponen semikonduktor dari produsen teknologi besar Korea Selatan, seperti chip dari Samsung Electronics dan SK Hynix. Komponen-komponen tersebut akan diuji ketahanannya dalam kondisi radiasi ekstrem di luar angkasa yang dapat merusak perangkat elektronik.
Manfaat Data Radiasi bagi Misi Masa Depan
Hasil pengujian dan data paparan radiasi yang dikumpulkan akan membantu pengembangan teknologi antariksa lebih lanjut. Informasi ini sangat penting terutama untuk menjamin keamanan astronaut dalam misi penerbangan berawak yang melampaui orbit Bumi, terutama menuju Bulan dan seterusnya.
Kolaborasi Internasional dalam Artemis 2
Selain Korea Selatan, badan antariksa Jerman (DLR) juga berkontribusi dengan mengirimkan cubesat TACHELES dalam misi yang sama. Meski Fokus utama Artemis 2 adalah membawa empat astronaut mengelilingi Bulan dengan wahana Orion, cubesat ini menjalankan misi ilmiah independen yang saling melengkapi untuk penelitian luar angkasa.
Proses Peluncuran dan Pelepasan K-RadCube
Setelah peluncuran dengan roket Space Launch System (SLS), K-RadCube akan dilepaskan di orbit tinggi Bumi. Pelepasan dilakukan melalui adaptor penghubung antara Orion dan roket sebelum satelit tersebut melaksanakan misinya secara mandiri.
Ambisi Jangka Panjang Korea Selatan di Antariksa
Partisipasi K-RadCube dalam Artemis 2 merupakan bagian dari strategi Korea Selatan membangun kapasitas eksplorasi antariksa. Pemerintah negara tersebut menargetkan pendaratan wahana robotik di Bulan pada 2032 dan membangun pangkalan Bulan pada 2045.
Keterlibatan dalam misi Artemis 2 mengukuhkan posisi Korea Selatan sebagai salah satu negara aktif dalam eksplorasi ruang angkasa. Mereka fokus pada pemahaman risiko radiasi luar angkasa demi keselamatan penerbangan manusia di masa depan.
Data dan fakta ini berasal dari informasi resmi Korea AeroSpace Administration (KASA) dan liputan antariksa internasional, termasuk dari Space.com. Dengan riset ilmiah yang kuat, K-RadCube menjadi tonggak penting dalam kolaborasi global untuk ekspansi manusia ke Bulan dan menjajaki ruang angkasa lebih jauh.
