Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) sedang mengebut program untuk mencetak 9 juta talenta digital Indonesia demi menghadapi tantangan ekonomi digital global. Target ini penting untuk menjembatani kesenjangan kebutuhan industri dengan ketersediaan tenaga ahli yang saat ini baru sekitar 3 juta orang.
Potensi ekonomi digital Indonesia diperkirakan mencapai US$366 miliar pada 2030, sehingga pengembangan sumber daya manusia yang handal menjadi prioritas utama. Wakil Menteri Komdigi, Nezar Patria, menegaskan pentingnya mempercepat pelatihan talenta digital agar mampu memenuhi kebutuhan sekitar 12 juta tenaga ahli pada masa depan.
Program Pengembangan Talenta Digital
Komdigi mengoptimalkan Program Digital Talent Scholarship (DTS) yang sudah berjalan sejak 2018. Program ini menyasar berbagai kelompok seperti angkatan kerja muda, mahasiswa, dan Aparatur Sipil Negara (ASN). Selain itu, ada Digital Leadership Academy (DLA) untuk melahirkan pemimpin digital serta Gerakan Nasional Literasi Digital yang memperkuat pemahaman teknologi sampai ke akar rumput.
Upaya pengembangan juga dilakukan lewat kolaborasi dengan pemerintah daerah. Contohnya, kerja sama dengan Pemerintah Provinsi Jawa Timur yang menargetkan pengembangan 19 ribu talenta digital hingga 2026. Model ini diharapkan menciptakan ekosistem pelatihan yang terbuka dan berkelanjutan.
Pentingnya Penyelarasan Kebijakan Media Sosial
Selain fokus pada pelatihan, Komdigi menyoroti perlunya penyelarasan kebijakan terkait regulasi media sosial, terutama pembatasan usia dalam Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 (PP TUNAS). Kebijakan yang terlalu ketat dikhawatirkan menghambat pertumbuhan kreativitas dan keterampilan digital generasi muda.
Dr. Putra Pamungkas dari UNS Fintech Center and Banking mengungkapkan bahwa media sosial kini menjadi ruang belajar informal sekaligus pintu masuk ke industri kreatif. Interaksi di media digital membangun kemampuan etika, kolaborasi, dan kreativitas yang sulit diperoleh lewat pendekatan pembatasan saja.
Menurutnya, negara perlu memastikan pendampingan, literasi, dan perlindungan di dunia maya agar anak-anak mendapatkan manfaat optimal dari teknologi digital. Pendekatan edukatif yang melibatkan orang tua dan penguatan etika bermedia sosial lebih efektif dibandingkan pembatasan akses.
Tantangan dan Peluang Masa Depan
Pengembangan talenta digital ini menghadapi tantangan besar dalam mencetak SDM yang mampu bersaing pada era teknologi canggih seperti kecerdasan buatan dan ekonomi berbasis platform. Namun, melalui berbagai program dan kebijakan adaptif, pemerintah berupaya menyediakan ekosistem yang mendukung.
Perlindungan anak di dunia maya tetap menjadi prioritas utama, tetapi lebih diarahkan pada pembinaan kemampuan dan pengawasan yang konstruktif. Dengan demikian, talenta digital Indonesia diharapkan tidak hanya kuantitasnya bertambah, tetapi juga kualitas dan kesiapan menghadapi tantangan digital global semakin meningkat.
