ASEAN Foundation bersama Google.org baru-baru ini merilis laporan ASEAN Digital Outlook dan riset AI Ready ASEAN yang mengungkap ketimpangan kesiapan adopsi kecerdasan buatan (AI) di Asia Tenggara. Meski penggunaan AI terus meningkat, kesiapan institusi dan masyarakat untuk mengelola teknologi ini masih belum merata di seluruh negara.
Laporan ini dipaparkan dalam forum AI Ready ASEAN: 3rd Regional Policy Convening di Manila, Filipina, dengan tujuan memperkuat tata kelola digital di kawasan. ASEAN Digital Senior Officials’ Meeting (ADGSOM) turut berperan dalam penyusunan laporan tersebut sebagai langkah strategis memperbaiki ekosistem AI di wilayah ini.
Kesenjangan Kesiapan Infrastruktur dan Tata Kelola AI
Direktur Eksekutif ASEAN Foundation, Dr. Piti Srisangnam, menegaskan bahwa perkembangan pemanfaatan AI di ASEAN lebih pesat dibandingkan dengan kesiapan regulasi dan sistem pendidikan. Ia menyatakan, “Pertanyaannya bukan lagi apakah AI digunakan, tetapi apakah sistem pendidikan, institusi, dan kebijakan kita benar-benar siap.”
Dalam laporan ASEAN Digital Outlook, kawasan Asia Tenggara dievaluasi dari sisi infrastruktur digital, tata kelola AI, dan keamanan siber. Hasil kajian menunjukkan beberapa negara mencatat kemajuan yang signifikan. Namun, kesenjangan digital dan kapasitas institusional antarnegara masih sangat lebar, terutama dalam menghadapi tantangan literasi digital dan kepercayaan publik terhadap teknologi baru.
Tantangan Literasi Digital dan Keamanan Siber
Secara khusus, riset menyoroti rendahnya tingkat literasi digital serta kesiapan keamanan siber yang masih menjadi masalah utama. Hal ini dianggap menghambat adopsi AI yang etis dan bertanggung jawab. Ketidakpastian keamanan data dan kurangnya kepercayaan masyarakat terhadap teknologi AI memerlukan penanganan melalui kebijakan lintas negara yang komprehensif.
Fokus Pada Sektor Pendidikan
AI Ready ASEAN mengkhususkan penelitian pada sektor pendidikan dengan melibatkan tiga aktor utama: siswa, pendidik, dan orang tua. Penelitian ini menyoroti kesenjangan nyata antara tingkat penggunaan AI dan kesiapan literasi serta pemahaman etika di kalangan para pemangku kepentingan.
Di Indonesia, survei mencatat 95,25 persen siswa telah menggunakan AI generatif. Sementara itu, hanya 46,20 persen pendidik dan 62,19 persen orang tua yang mengadopsi teknologi ini. Kesenjangan penggunaan ini menandakan perlunya pendekatan yang berbeda antar generasi untuk meningkatkan pemahaman dan kapasitas memanfaatkan AI secara optimal.
Lebih dari separuh pendidik juga menyatakan bahwa institusi mereka belum menyediakan kebijakan AI, pelatihan, atau dukungan keamanan siber yang memadai. Kondisi ini menunjukkan bahwa kesiapan institusional belum berjalan seiring dengan cepatnya adopsi teknologi di lapangan.
Literasi AI dan Etika Penggunaan yang Berperan Penting
Kepala Google.org Asia Pasifik, Marija Ralic, menekankan bahwa kesiapan AI bukan hanya soal akses teknologi semata. Ia menyatakan, “Literasi AI, pemahaman etika, dan penggunaan yang bertanggung jawab menjadi kunci agar teknologi ini benar-benar membawa manfaat inklusif.”
Pernyataan ini menekankan pentingnya pendidikan dan pelatihan tentang AI yang tidak hanya fokus pada kemampuan teknis, tapi juga etika dan dampak sosialnya. Hal ini menjadi landasan bagi pengembangan kebijakan yang mendukung transformasi digital yang aman dan adil.
Dampak Ekonomi Digital ASEAN
ASEAN Foundation menggarisbawahi bahwa temuan dalam laporan ini sangat penting di tengah proyeksi pertumbuhan ekonomi digital kawasan yang diperkirakan melonjak dari 300 miliar menjadi 1 triliun dolar AS pada 2030. Hal ini menunjukkan kebutuhan mendesak untuk membangun ekosistem AI yang mendukung inovasi dan pertumbuhan ekonomi secara berkelanjutan.
Laporan ASEAN Digital Outlook dan AI Ready ASEAN diharapkan menjadi referensi utama bagi pemerintah dan pemangku kepentingan. Dengan data tersebut, kebijakan AI yang inklusif, aman, dan berkelanjutan dapat dirancang untuk menghadapi transformasi digital di masa depan.
Ketimpangan kesiapan adopsi AI di Asia Tenggara menunjukkan perlunya kolaborasi lintas-negara dalam meningkatkan literasi digital, memperkuat tata kelola, dan mengembangkan kebijakan yang mendukung pemanfaatan teknologi secara bertanggung jawab. Upaya bersama ini akan menentukan sejauh mana kawasan dapat memanfaatkan potensi ekonomi dan sosial dari revolusi AI.
Baca selengkapnya di: id.mashable.com