Pencurian iPhone kini makin sulit menghasilkan uang bagi pelaku. Polisi Metropolitan London menyebut peningkatan sistem keamanan Apple mulai membuat perangkat curian jauh lebih susah diaktifkan kembali untuk dijual.
Perubahan ini penting karena nilai jual kembali adalah mesin utama di balik pencurian ponsel. Saat iPhone curian tidak bisa di-reset dan dipakai lagi, harga jualnya turun tajam dan dorongan untuk mencurinya ikut melemah.
Kepolisian London mengatakan mereka kini berbagi data dengan Apple untuk memahami apa yang terjadi pada perangkat setelah dicuri. Kerja sama itu difokuskan pada pelacakan apakah ponsel curian masih bisa diaktifkan ulang, sekaligus mencari cara baru untuk menekan nilai jualnya di pasar gelap.
Komisioner Polisi Metropolitan Sir Mark Rowley mengatakan data awal menunjukkan hanya sejumlah kecil iPhone curian yang kini berhasil diaktifkan kembali dibanding beberapa bulan sebelumnya. Menurut dia, Apple meyakini telah menutup masalah penting yang sebelumnya memungkinkan pencuri melakukan factory reset lalu menjual perangkat sebagai ponsel yang masih berfungsi, sering kali ke pasar luar negeri.
Rowley menegaskan bahwa ketika ponsel curian tidak bisa diaktifkan ulang, nilainya anjlok. Dalam kondisi itu, insentif ekonomi untuk mencuri perangkat juga ikut runtuh.
Dampak mulai terlihat
Kepolisian Metropolitan menyebut pengaruhnya sudah mulai tampak pada angka kejahatan. Pencurian yang melibatkan ponsel dilaporkan turun 18 persen pada periode Juni 2025 hingga Mei 2026 dibanding tahun sebelumnya.
Polisi mengakui penurunan itu tidak hanya dipengaruhi oleh faktor teknologi. Langkah penegakan hukum juga berperan, tetapi otoritas menilai perlindungan perangkat yang lebih kuat ikut mengurangi daya tarik pencurian smartphone.
Masalah pencurian ponsel memang menjadi isu besar di banyak kota di dunia. Aparat menilai banyak perangkat hasil curian diekspor dan dijual kembali setelah di-reset, karena smartphone tetap memiliki harga tinggi di pasar internasional.
Dalam konteks itulah langkah Apple dinilai mengubah permainan. Dengan membuat proses reaktivasi jauh lebih sulit, perusahaan secara langsung menekan sisi bisnis dari kejahatan ini, bukan hanya memperumit pelacakan setelah pencurian terjadi.
Fitur yang mengubah situasi
Salah satu pendorong utama perubahan ini adalah fitur Stolen Device Protection milik Apple. Fitur itu baru-baru ini diaktifkan secara default melalui iOS 26.4.
Fitur tersebut dirancang untuk mencegah pencuri langsung mengambil alih iPhone sesaat setelah perangkat dirampas. Saat iPhone berada jauh dari lokasi yang dikenal, seperti rumah atau tempat kerja pemilik, sistem akan menambahkan lapisan pemeriksaan keamanan sebelum tindakan penting bisa dilakukan.
Tindakan penting itu mencakup perubahan kata sandi Apple Account, penghapusan Face ID atau Touch ID, mematikan Find My, menghapus perangkat, hingga mengubah pengaturan keamanan utama. Dalam banyak kasus, sistem juga menambahkan jeda waktu dan meminta autentikasi tambahan sebelum perubahan diizinkan.
Skema ini memberi pemilik waktu yang sangat berharga untuk bereaksi. Dengan perangkat lain, pemilik bisa menandai iPhone sebagai hilang dan mengamankan akun mereka sebelum pelaku sempat menghapus data atau menyiapkan ponsel untuk dijual kembali.
Bagi pelaku pencurian, jeda dan pemeriksaan tambahan itu mengganggu langkah paling penting setelah perangkat diambil. Tanpa kemampuan untuk segera menghapus perangkat dan mengaktifkannya lagi, ponsel curian menjadi jauh kurang menarik di pasar penjualan ulang.
Bukan sekadar perlindungan data
Efek dari sistem ini bukan hanya soal menjaga informasi pribadi pengguna. Tujuan yang lebih besar adalah membuat perangkat curian kehilangan nilai komersial sehingga model bisnis pencurian ponsel ikut terpukul.
Jika sebuah iPhone tidak bisa dipakai kembali sebagai ponsel yang berfungsi, nilainya bagi jaringan penadah dan pembeli akan menyusut. Itu berarti rantai keuntungan yang biasanya mendorong pencurian menjadi lebih lemah.
Polisi London kini mencoba memahami lebih rinci bagaimana perangkat curian bergerak setelah diambil dari pemiliknya. Data yang dibagikan kepada Apple diharapkan membantu memetakan apakah ada celah baru yang dipakai pelaku untuk mengaktifkan ulang perangkat atau memindahkannya ke pasar lain.
Arah kerja sama ini menunjukkan bahwa perang melawan pencurian ponsel tidak hanya berlangsung di jalanan, tetapi juga di tingkat sistem operasi dan keamanan perangkat. Saat reaktivasi berhasil ditekan, iPhone curian tidak lagi mudah berubah menjadi barang dagangan yang bernilai tinggi.
Bagi pengguna, perubahan ini berarti peluang lebih besar untuk mengamankan akun setelah perangkat hilang. Bagi pelaku, iPhone yang tidak bisa dihidupkan ulang kini makin mendekati barang yang sulit dijual.
