Peneliti dari Universitas Tsinghua, Tiongkok, berhasil mengembangkan teknologi AI revolusioner bernama ASTERIS untuk mendeteksi galaksi yang terbentuk hanya 200 juta tahun setelah Big Bang. Model ini menggabungkan optik komputasional dan algoritma AI canggih untuk mengekstraksi sinyal astronomi sangat lemah dari jarak lebih dari 13 miliar tahun cahaya.
Teknologi ASTERIS membuka lompatan besar dalam pencitraan luar angkasa dengan menghasilkan citra terdalam yang pernah dibuat. Associate professor Cai Zheng menekankan bahwa ini merupakan peluang baru untuk mempelajari evolusi awal alam semesta.
ASTERIS telah diterapkan pada data teleskop James Webb Space Telescope (JWST) dengan teknik self-supervised spatiotemporal denoising. AI ini memperluas pengamatan mulai dari cahaya tampak hingga inframerah menengah, meningkatkan kualitas dan jangkauan data astronomi.
Keunggulan teknis ASTERIS meliputi:
1. Peningkatan kedalaman deteksi sebesar 1,0 magnitudo.
2. Deteksi objek 2,5 kali lebih redup dibanding metode konvensional.
3. Identifikasi lebih dari 160 kandidat galaksi pada periode Cosmic Dawn.
4. Tiga kali lipat hasil temuan pada area observasi yang sama dibanding metode biasa.
ASTERIS juga mengatasi tantangan derau kosmik yang selama ini mengganggu pengamatan galaksi jauh. Berbeda dengan teknik tradisional yang menganggap derau seragam, ASTERIS memodelkan derau sebagai fenomena yang bervariasi secara waktu dan ruang. Sistem ini menggunakan rekonstruksi citra tiga dimensi untuk memisahkan sinyal galaksi dari derau secara akurat.
Profesor Dai Qionghai dari Departemen Otomasi Tsinghua menjelaskan bahwa objek redup yang sebelumnya tidak terdeteksi kini bisa direkonstruksi dengan tingkat akurasi tinggi. Pendekatan ini mampu mengidentifikasi fluktuasi derau halus sekaligus menjaga keaslian sinyal astronomi.
Selain dapat diterapkan pada data JWST, ASTERIS kompatibel dengan berbagai platform teleskop ruang angkasa dan dapat mengolah data dalam jumlah besar secara efisien. Teknologi ini berpotensi menjadi platform universal untuk peningkatan mutu data observasi luar angkasa.
Ke depan, ASTERIS diharapkan membantu penelitian pada teleskop generasi berikutnya dalam menjawab misteri ilmiah utama. Fokusnya mencakup studi energi gelap, materi gelap, asal-usul kosmik, serta pemeriksaan mendalam eksoplanet yang bisa mendukung pengembangan ilmu astronomi global.
Regulator jurnal Science memberikan apresiasi tinggi terhadap riset ini, menilai temuan ASTERIS sangat relevan dan memiliki potensi dampak besar secara global di bidang astronomi dan astrofisika. Inovasi ini menandai kemajuan signifikan dalam memahami alam semesta yang jauh dan awal terbentuknya galaksi.
Baca selengkapnya di: mediaindonesia.com






