Driver Ojol Tetap Antar Pesanan di Tengah Ancaman Rudal, Aplikasi Klaim Utamakan Keselamatan Mitra Namun Tuntutan Kerja Makin Berat

Di tengah situasi keamanan yang memburuk akibat serangan rudal di Uni Emirat Arab (UEA), para pengemudi layanan pesan-antar tetap melanjutkan operasional mereka di jalanan. Meskipun ancaman nyata berupa sirene peringatan dan puing-puing rudal yang berjatuhan sering terdengar, aktivitas pengantaran makanan dan kebutuhan sehari-hari tidak pernah berhenti.

Situasi ini terjadi dalam kondisi konflik bersenjata yang telah menyebabkan korban jiwa dan luka-luka. Kementerian Pertahanan UEA mencatat terdapat tiga korban meninggal dan 58 orang terluka akibat serangkaian serangan udara yang terjadi sejak akhir Februari. Meski sebagian besar rudal dan drone dapat dihentikan oleh sistem pertahanan udara, risiko puing-puing yang jatuh masih sangat mengancam keselamatan warga, termasuk para pengemudi ojol.

Dilema Keselamatan dan Kebutuhan Ekonomi

Kementerian Sumber Daya Manusia UEA mengeluarkan rekomendasi kerja dari rumah selama periode awal bulan Maret untuk sektor swasta, kecuali pekerjaan esensial. Namun, para pengemudi ojol termasuk dalam kategori pekerja yang tetap harus hadir secara fisik karena sifat pekerjaan mereka yang tidak bisa diwakilkan.

Hal ini menciptakan dilema antara menjaga keselamatan dan memenuhi kebutuhan ekonomi. Sebagian pihak menilai keputusan untuk terus beroperasi telah menempatkan nyawa pengemudi pada risiko tinggi. Banyak pengemudi, yang kebanyakan adalah pekerja migran, terpaksa mengambil risiko ini karena penghasilan mereka sangat bergantung pada jumlah pesanan yang berhasil dipenuhi.

Misalnya, seorang pengemudi Deliveroo yang diwawancara oleh media internasional mengungkapkan bahwa ia berada dalam tekanan besar. Jika menolak bekerja atau gagal memenuhi kuota harian, ia akan dikenakan denda. Sayangnya, belum ada panduan keselamatan khusus yang diberikan oleh perusahaan untuk menghadapi kondisi serangan udara ini.

Disebutkan juga bahwa model pengupahan pada aplikasi pesan-antar sangat bergantung pada performa kerja. Uber, contohnya, menghitung penghasilan mitra berdasarkan jumlah pengambilan dan pengantaran pesanan, jarak tempuh, serta tip dari pelanggan. Oleh karena itu, menolak pesanan bisa berakibat langsung pada penurunan pendapatan signifikan.

Respons Perusahaan Aplikasi Pesan-Antar

Menanggapi situasi tersebut, berbagai platform pesan-antar berusaha menyesuaikan layanan mereka dengan keadaan darurat. Careem, salah satu penyedia layanan, sempat mengalami gangguan layanan sesaat setelah serangan pertama terjadi. Namun, layanan ini segera pulih dan kembali aktif.

Careem mengklaim terus memantau keamanan wilayah operasional secara real-time dan memberikan panduan keselamatan kepada para mitranya, yang dikenal sebagai Captains. Panduan ini disebarkan melalui grup WhatsApp dan pesan SMS agar informasi bisa diterima dengan cepat. Selain itu, perusahaan menegaskan bahwa para mitra tidak diwajibkan untuk online jika merasa khawatir tentang keselamatan mereka.

Menariknya, selama periode konflik ini, Careem mencatat adanya lonjakan signifikan pada pesanan bahan pokok seperti air mineral, beras, pasta, dan produk segar. Fenomena ini menunjukkan masyarakat cenderung memesan kebutuhan mendesak secara daring untuk mengurangi keluar rumah dalam situasi risiko tinggi.

Selaras dengan itu, juru bicara Uber memastikan bahwa layanan Uber, termasuk UberEats, tetap berjalan penuh di kawasan tersebut. Uber menegaskan bahwa keselamatan para pengemudi menjadi prioritas utama mereka. Seluruh aktivitas operasional disesuaikan dengan rekomendasi serta arahan dari pemerintah setempat demi meminimalisasi risiko terhadap mitra pengemudi.

Pentingnya Keselamatan di Tengah Krisis

Kejadian di UEA ini mengilustrasikan tantangan yang dihadapi pengemudi ojol selama masa krisis keamanan. Mereka berperan penting dalam menjaga ketersediaan jasa pengantaran, yang menjadi sangat vital di saat masyarakat banyak memilih untuk tetap di rumah demi keselamatan.

Namun, aspek keselamatan pengemudi harus menjadi fokus utama dalam setiap kebijakan operasional aplikasi. Penyedia layanan harus mengedepankan instruksi dan fasilitas keselamatan yang memadai untuk mengurangi risiko kecelakaan dan bahaya lainnya yang dapat muncul akibat situasi darurat.

Masyarakat yang menggunakan jasa ojol di masa-masa genting ini juga memiliki peran penting untuk menjaga keseimbangan antara permintaan layanan dan penerapan protokol keselamatan. Dengan kolaborasi yang baik antara platform, pengemudi, dan pelanggan, operasi pesan-antar dapat terus berjalan tanpa mengabaikan faktor keamanan yang esensial bagi seluruh pihak.

Terkait