Jeff Kaplan, sosok yang selama bertahun-tahun identik dengan Overwatch, akhirnya mengungkap alasan utama di balik keputusannya meninggalkan Blizzard. Dalam percakapan di podcast Lex Fridman, ia menyebut ada tekanan bisnis yang menurutnya sudah melampaui batas dan ikut mengubah arah pengembangan gim.
Pernyataan yang paling menyita perhatian datang dari kisah sebuah pertemuan dengan petinggi keuangan Activision Blizzard. Kaplan mengatakan ia diberi target pendapatan besar, lalu diperingatkan bahwa jika angka itu tidak tercapai, “kami akan memberhentikan 1.000 orang dan itu akan jadi tanggung jawabmu.”
Kaplan buka suara soal momen yang memicu kepergian
Kaplan dikenal sebagai figur publik utama Overwatch sejak gim itu meluncur pada Maret. Ia rutin tampil untuk menjelaskan hero baru, pembaruan, dan arah pengembangan game kepada komunitas.
Dalam wawancara terbaru itu, Kaplan menjelaskan bahwa masalah tidak muncul dalam semalam. Menurut dia, titik balik mulai terasa ketika Overwatch League diluncurkan dan ambisi bisnis di sekelilingnya tumbuh terlalu cepat.
Ia menilai liga esports tersebut dipasarkan secara berlebihan kepada calon investor tim. Dalam kutipannya di podcast, Kaplan mengatakan ada roadshow penjualan yang menggambarkan masa depan Overwatch League seolah bisa melampaui popularitas NFL.
Pernyataan itu penting karena menunjukkan jurang antara ekspektasi bisnis dan realitas produk. Kaplan menilai janji besar kepada investor kemudian berimbas langsung ke prioritas tim pengembang.
Fokus pengembangan disebut bergeser
Alih-alih memusatkan tenaga pada konten inti game, tim Overwatch disebut harus mengerjakan kebutuhan pendukung liga. Kaplan menyebut fokus tim bergeser ke alat spectating, integrasi Twitch, dan skin tim.
Menurut Kaplan, perubahan itu membuat rencana konten utama berantakan. Ia mengatakan tim tidak lagi benar-benar fokus pada event dunia baru atau pengembangan Overwatch 2, melainkan hanya “bertahan di tempat.”
Gambaran itu memberi konteks mengapa banyak pemain saat itu merasa laju pembaruan Overwatch melambat. Saat sumber daya dipakai untuk menopang ekosistem esports, konten yang langsung dirasakan pemain reguler menjadi terdorong ke belakang.
Model bisnis liga dinilai cepat menemui batas
Kaplan juga menyoroti model bisnis awal Overwatch League yang sangat mengandalkan event luring, penjualan tiket, dan merchandise. Menurutnya, rencana itu sejak awal sulit diwujudkan secara konsisten karena liga memiliki tim dari kota-kota global seperti London dan Shanghai.
Ia menjelaskan bahwa penyelenggaraan penuh secara tatap muka cepat terbukti tidak sederhana. Dalam penilaiannya, kondisi itu membuat fondasi bisnis yang dijanjikan kepada investor tidak berjalan sesuai bayangan awal.
Notebookcheck merangkum bahwa penjualan tiket pay-per-view dan event langsung tidak mencapai level yang sebanding dengan liga olahraga besar seperti NBA atau NFL. Penjualan merchandise disebut membantu, tetapi belum cukup untuk memenuhi harapan investor.
Pertemuan dengan CFO jadi titik pecah
Bagian paling tajam dari pengakuan Kaplan adalah cerita tentang pertemuan dengan CFO perusahaan saat itu. Ia mengatakan diberi target pendapatan untuk Overwatch pada 2020, yang kemudian bergeser ke 2021, beserta target recurring revenue untuk tahun-tahun berikutnya.
Kaplan lalu mengutip ucapan eksekutif tersebut secara langsung. Menurut dia, jika target itu gagal dicapai, perusahaan akan melakukan PHK terhadap 1.000 karyawan dan tanggung jawab moralnya dibebankan kepadanya.
Kaplan menyebut momen itu sebagai pengalaman paling menghantam dalam kariernya di Blizzard. Ia menggambarkannya sebagai situasi yang terasa tidak masuk akal, sekaligus menjadi titik yang “mematahkan” hubungannya dengan perusahaan.
Mengapa pernyataan ini relevan bagi penggemar Overwatch
Pengakuan Kaplan menambah lapisan baru dalam diskusi lama soal perubahan arah Blizzard dan tekanan korporasi terhadap studio game besar. Selama ini, banyak pemain hanya melihat hasil akhirnya berupa perlambatan konten, transisi ke sekuel, dan perubahan strategi live service.
Kini, publik mendapat penjelasan langsung dari salah satu tokoh kunci di balik franchise tersebut. Pernyataan itu juga memperlihatkan bagaimana target pendapatan dan ekspansi esports bisa berbenturan dengan ritme kreatif pengembangan game.
Berikut poin utama yang muncul dari pengakuan Kaplan:
- Overwatch League dinilai dipasarkan terlalu agresif kepada investor.
- Tim pengembang disebut terdorong mengutamakan fitur pendukung liga.
- Konten inti game dan fokus ke Overwatch 2 ikut terdampak.
- Target pendapatan internal menjadi sumber tekanan besar.
- Ancaman PHK massal disebut disampaikan langsung dalam pertemuan internal.
Kaplan meninggalkan Blizzard pada April, sebelum Overwatch 2 akhirnya dirilis. Ia juga mengatakan bahwa dulu ia berharap bisa bekerja di Blizzard hingga pensiun, namun arah perusahaan dan tekanan yang ia hadapi membuat harapan itu tidak terwujud.
Source: www.notebookcheck.net






