India disebut berpeluang melahirkan robot buatan dalam negeri yang mampu menandingi pemain global dalam waktu tiga hingga lima tahun. Keyakinan itu disampaikan Managing Director Bidyut Innovation, Rahul Shah, saat berbicara di forum India Today Conclave.
Rahul Shah juga menilai robot buatan India nantinya tidak hanya kompetitif, tetapi bisa hadir dengan biaya lebih rendah. Pernyataan itu menarik perhatian karena disampaikan ketika industri robotika global sedang bergerak cepat menuju otomasi di sektor pendidikan, industri, dan layanan.
Target 3-5 tahun untuk robot India
Dalam sesi tersebut, dua robot yang tampil di panggung diketahui dibuat di China. Menurut Shah, kehadiran robot itu bukan untuk menunjukkan ketergantungan pada produk luar, melainkan untuk memicu semangat pelajar dan kampus di India agar mampu menciptakan versi mereka sendiri.
Ia mengatakan tujuan utamanya adalah memastikan robot semacam itu bisa ditanamkan ke institusi pendidikan agar siswa terinspirasi membangun teknologi serupa. Fokusnya, menurut dia, bukan sekadar memamerkan perangkat, tetapi mendorong lahirnya ekosistem inovasi lokal.
Saat ditanya kapan India dapat memiliki robot yang sanggup bersaing dengan produk asing, Shah menyampaikan proyeksi yang optimistis. “Within 3 to 5 years, I’m very confident that Indian robots will take over any other robots in the world,” ujarnya.
Pernyataan tersebut menunjukkan ambisi besar sektor robotika India. Namun, klaim itu juga datang di tengah tantangan nyata, mulai dari pengembangan perangkat keras, sensor, aktuator, kecerdasan buatan, hingga kesiapan manufaktur skala besar.
Strategi: mulai dari kampus dan inspirasi siswa
Shah menekankan bahwa pendidikan menjadi pintu masuk utama. Model ini sejalan dengan pendekatan banyak negara teknologi, yakni membangun talenta sejak dini lewat laboratorium, kompetisi teknik, dan akses pada perangkat prototipe.
Bila strategi ini berjalan, kampus dan sekolah teknik dapat menjadi pemasok ide, prototipe, dan tenaga ahli. Dalam jangka menengah, pendekatan itu bisa membantu India mengurangi ketergantungan pada robot impor untuk kebutuhan riset dan pelatihan.
Beberapa poin penting dari pandangan Shah adalah sebagai berikut:
- Robot yang dipamerkan dipakai sebagai alat pemicu inspirasi.
- Institusi pendidikan dinilai penting untuk membangun basis talenta.
- India diyakini bisa mengejar bahkan melampaui robot global.
- Harga robot buatan India diproyeksikan lebih terjangkau.
Klaim harga lebih murah
Shah juga menautkan optimisme itu dengan rekam jejak India dalam efisiensi teknologi. Ia menyinggung keberhasilan misi Chandrayaan yang selama ini sering dipuji karena biaya pengembangannya lebih rendah dibanding banyak program sejenis di tingkat global.
Menurut dia, India dikenal mampu memangkas biaya sambil tetap membangun teknologi yang sesuai kebutuhan masa depan. “India is very well known for cost-cutting, and for building something the future wants,” kata Shah.
Pandangan tersebut mengarah pada satu keunggulan yang sering diasosiasikan dengan industri teknologi India, yakni kemampuan menghasilkan solusi frugal engineering. Dalam konteks robotika, pendekatan itu dapat berarti penggunaan desain modular, komponen lokal, dan pengembangan perangkat lunak yang efisien.
Momentum dan tantangan industri robotika
Komentar Shah muncul setelah Galgotia University mendapat sorotan karena mengklaim telah membuat robot anjing yang ternyata diproduksi perusahaan China. Kasus itu memperlihatkan bahwa dorongan membangun robot lokal memang tinggi, tetapi verifikasi atas klaim teknologi tetap menjadi faktor penting.
Di sisi lain, minat terhadap robot humanoid terus meningkat secara global. Elon Musk, misalnya, beberapa kali menyatakan keyakinannya bahwa robot Tesla Optimus pada akhirnya dapat mengotomatisasi banyak tugas, bahkan berpotensi mengambil porsi besar pekerjaan rutin manusia.
Kondisi tersebut membuat persaingan robotika tidak lagi terbatas pada perusahaan perangkat keras. Industri ini kini bergantung pada kombinasi AI, visi komputer, model bahasa, kontrol gerak presisi, serta kemampuan produksi massal dengan biaya masuk akal.
Berikut gambaran singkat posisi India dalam peluang robotika:
| Faktor | Peluang India |
|---|---|
| Talenta teknik | Besar, didukung banyak institusi pendidikan |
| Biaya pengembangan | Berpotensi lebih rendah |
| Ekosistem manufaktur | Masih perlu penguatan |
| Kemandirian komponen | Menjadi tantangan utama |
| Pasar domestik | Luas untuk pendidikan dan otomasi |
Dalam acara itu, dua robot yang tampil juga sempat menari di atas panggung. Shah menyebut proses pengodean koreografi untuk penampilan singkat tersebut memakan waktu 10 hari, sebuah detail yang menunjukkan bahwa demonstrasi robot tetap membutuhkan pekerjaan teknis yang tidak sederhana.
Robot yang tampil juga melontarkan komentar humor ketika ditanya apakah menyukai manusia. Jawaban itu diprogram untuk menghibur audiens, tetapi sekaligus memperlihatkan bagaimana robot modern kini semakin menggabungkan gerak, respons bahasa, dan interaksi sosial dalam satu paket demonstrasi teknologi.
Bagi India, pernyataan Shah menempatkan robotika sebagai arena strategis berikutnya setelah keberhasilan di sejumlah bidang teknologi lain. Jika target tiga hingga lima tahun itu ingin tercapai, faktor penentu utamanya kemungkinan terletak pada investasi riset, kemitraan industri-kampus, dan kemampuan mengubah inspirasi di panggung menjadi produk robot lokal yang benar-benar siap dipakai.
