Nokia 9 PureView dan Sony Xperia Pro-I sama-sama lahir dari ambisi besar: membawa pengalaman fotografi serius ke ponsel. Saat dibandingkan khusus pada pemotretan Raw, duel ini tidak hanya soal usia perangkat, tetapi juga soal pendekatan teknologi yang sangat berbeda.
Sony datang dengan perangkat keras yang lebih modern dan alur kerja yang jauh lebih cepat. Namun, Nokia justru memunculkan kejutan pada kualitas file Raw, terutama pada detail halus dan karakter gambar yang lebih tegas.
Dua pendekatan berbeda untuk fotografi mobile
Sony Xperia Pro-I mengandalkan sensor besar, lensa Zeiss berbahan kaca, dan lapisan Zeiss T coating. Kombinasi ini dirancang untuk menekan flare saat kamera diarahkan ke sumber cahaya yang kuat.
Nokia 9 PureView tidak membawa lapisan optik secanggih itu. Meski begitu, sistem lima kamera atau penta-lens miliknya dinilai tetap kuat menghadapi flare berkat rancangan optik yang presisi.
Perbedaan ini penting karena hasil foto Raw sangat dipengaruhi kualitas cahaya yang masuk ke sensor. Dalam praktiknya, Sony unggul pada pendekatan optik modern, sementara Nokia menunjukkan bahwa desain lama belum tentu kalah efektif.
Spesifikasi bukan satu-satunya penentu
Di sisi performa, Xperia Pro-I jelas berada di atas kertas yang lebih kuat. Ponsel ini ditenagai Snapdragon 888 dengan RAM 12GB, sehingga proses membidik dan menyimpan gambar terasa jauh lebih instan.
Nokia 9 PureView masih bertumpu pada Snapdragon 835, sebuah platform yang kini tergolong lawas. Namun kekuatan utamanya bukan di chipset utama, melainkan pada cip pemrosesan gambar khusus dari Light yang menggabungkan data dari lima sensor 12MP sekaligus.
Proses komputasi itu sangat berat. Dalam referensi pengujian, penggunaan kamera Nokia bahkan disebut bisa membuat aplikasi tidak stabil bila beban kerja terlalu tinggi, sampai pengguna kadang perlu menyambungkan perangkat ke pengisi daya saat memotret.
Yang terjadi saat file Raw dibuka
Di sinilah Nokia 9 PureView masih terasa relevan. Berdasarkan data dari artikel referensi, file Raw Nokia mampu menampilkan detail yang sedikit lebih tajam dan lebih bersih dari noise dibandingkan Xperia Pro-I.
Hasil ini menarik karena secara usia dan performa umum, Nokia seharusnya tertinggal jauh. Namun, gabungan lima sensor 12MP memberi keuntungan unik dalam pengumpulan cahaya dan informasi detail.
Sony Xperia Pro-I tetap tampil kuat, tetapi karakternya berbeda. Hasil Raw dari perangkat ini cenderung lebih natural dan lebih dekat dengan warna serta tonal khas kamera Sony Alpha.
Bagi sebagian pengguna, pendekatan Sony terasa lebih aman untuk proses editing profesional. Sementara itu, file dari Nokia memberi kesan lebih kontras dan lebih berkarakter sejak awal.
Poin pembanding utama
-
Detail Raw
Nokia 9 PureView dinilai sedikit unggul dalam ketajaman detail dan kontrol noise pada file Raw. -
Karakter warna dan kontras
Nokia menghasilkan kontras yang lebih kuat. Sony memberi hasil yang lebih natural dan netral. -
Kecepatan kerja
Sony menang jauh berkat chipset modern dan respons kamera yang lebih cepat. -
Autofokus
Xperia Pro-I unggul dengan sistem autofokus cepat, termasuk Eye-AF untuk manusia dan hewan. - Fokus dekat
Nokia justru disebut lebih mudah mendapatkan fokus tajam pada jarak dekat atau macro dalam kondisi tertentu.
Mengapa Nokia masih dianggap “sakti”
Nokia 9 PureView adalah contoh bahwa inovasi fotografi mobile tidak selalu dinilai dari megapiksel besar. Perangkat ini mengandalkan pemrosesan multi-kamera yang pada masanya sangat berani, dan hasilnya masih bisa bersaing ketika yang diuji adalah kualitas dasar file Raw.
Dalam konteks fotografi, file Raw penting karena menyimpan data gambar yang lebih luas untuk proses editing. Jika sebuah ponsel mampu memberi detail baik, noise terjaga, dan rentang tonal yang fleksibel, perangkat itu masih punya nilai tinggi meski usianya tidak muda lagi.
Sony Xperia Pro-I tetap lebih masuk akal untuk kebutuhan harian dan produksi konten cepat. Antarmukanya lebih modern, performanya lebih stabil, dan sistem fokusnya jauh lebih cocok untuk subjek bergerak.
Namun pengujian ini menunjukkan bahwa Nokia 9 PureView belum habis. Untuk pengguna yang mengejar kualitas file Raw murni dan siap menerima proses kerja yang lebih lambat, ponsel ini masih mampu memberi hasil yang sulit diabaikan.
Di tengah pasar yang kini ramai dengan kamera beresolusi besar dan pemrosesan agresif, duel ini mengingatkan bahwa fotografi mobile juga soal karakter gambar. Pada titik itu, Nokia 9 PureView masih bisa berdiri sejajar dengan Sony Xperia Pro-I, terutama ketika tolok ukurnya adalah kualitas Raw yang paling siap diolah lebih lanjut.
