Saat AI Menulis Kode di Uber, Peran Insinyur Manusia Berubah Total

Pergeseran besar sedang terjadi di cara perusahaan teknologi membangun perangkat lunak. Di Uber, sebagian besar pekerjaan menulis kode kini semakin banyak diambil alih oleh sistem kecerdasan buatan atau AI.

Informasi ini muncul dari pernyataan Praveen Neppalli Naga, CTO Uber, yang menjelaskan bahwa AI tidak lagi sekadar membantu insinyur. Di banyak kasus, AI sudah menulis kode secara mandiri, sementara peran manusia bergeser ke pengawasan, desain, dan pengambilan keputusan.

AI kini menulis ribuan perubahan kode di Uber

Menurut Naga, Uber sudah memasuki fase yang ia sebut sebagai “agentic software engineering”. Dalam model ini, agen AI internal perusahaan dapat menghasilkan kode tanpa input langsung manusia pada tahap penulisan.

Naga mengungkapkan sekitar 1.800 perubahan kode setiap pekan kini ditulis sepenuhnya oleh agen AI internal Uber. Angka itu menunjukkan otomatisasi telah bergerak jauh melampaui fitur pelengkap seperti auto-complete atau saran potongan kode.

Pemakaian AI juga sangat luas di kalangan teknisi Uber. Sekitar 95 persen engineer di perusahaan itu disebut aktif memakai alat AI setiap bulan.

Di lingkungan pengembangan yang lebih tradisional pun, dampaknya sudah sangat besar. Hampir 70 persen kode yang dikomit kini dihasilkan oleh sistem AI, bukan ditulis manual dari awal oleh manusia.

Perubahan ini terjadi sangat cepat. Naga menyebut kontribusi agen coding internal Uber naik dari kurang dari 1 persen menjadi sekitar 8 persen dari total perubahan kode hanya dalam beberapa bulan.

Ia menggambarkan fase ini sebagai momen “reset” bagi dunia rekayasa perangkat lunak. Menurutnya, adopsi itu tidak dipaksakan dari level manajemen, melainkan tumbuh secara organik ketika para developer bereksperimen dengan alat AI dan melihat manfaatnya.

Apa yang dikerjakan engineer manusia sekarang

Meski AI menulis semakin banyak kode, peran engineer manusia tidak hilang. Fokus kerja mereka justru bergeser ke area yang lebih strategis dan membutuhkan penilaian.

Naga menjelaskan bahwa developer kini lebih banyak merancang sistem, meninjau hasil kerja AI, dan memastikan produk akhir berjalan sesuai tujuan. Tugas manusia tidak lagi berkutat pada setiap baris kode, tetapi pada arah, kualitas, dan struktur software.

Perubahan itu membuat engineer beralih dari sekadar menerima saran AI menjadi mendelegasikan tugas penuh kepada sistem tersebut. Artinya, engineer kini lebih sering memberi arahan, memvalidasi output, dan memutuskan bagaimana sebuah solusi teknis harus dibangun.

Uber juga melihat peningkatan penggunaan alur kerja berbasis agen. Sekitar 84 persen pengguna AI di internal perusahaan disebut sudah memakai workflow semacam ini, yang memungkinkan sistem bekerja lebih mandiri dalam menyelesaikan tugas teknis.

Namun unsur manusia tetap dinilai krusial. Engineer masih bertanggung jawab menentukan kebutuhan produk, menyelaraskan pekerjaan lintas tim, dan memastikan kode buatan AI tetap sesuai dengan tujuan bisnis perusahaan.

Perubahan ini juga terjadi di perusahaan teknologi lain

Uber bukan satu-satunya perusahaan yang bergerak ke arah ini. Sejumlah raksasa teknologi lain juga telah melaporkan bahwa AI kini memegang porsi nyata dalam produksi kode mereka.

Microsoft, misalnya, pernah menyebut sekitar 20 hingga 30 persen kode di repositorinya sudah ditulis oleh software. Google juga menyatakan AI menyumbang lebih dari 30 persen kode baru di perusahaan tersebut.

Di Anthropic, alat internal seperti Claude Code dilaporkan menghasilkan hampir seluruh kode perusahaan. Meski begitu, perusahaan itu tetap merekrut engineer, yang menunjukkan bahwa kebutuhan terhadap talenta teknis belum hilang, hanya bentuk pekerjaannya yang berubah.

Pandangan serupa juga datang dari sejumlah tokoh industri teknologi. Jensen Huang dan Mark Zuckerberg sama-sama menilai AI sebaiknya menangani tugas coding rutin, agar engineer manusia bisa fokus pada masalah yang lebih kompleks, inovasi, dan keputusan penting.

Dampak untuk profesi software engineer

Perubahan ini memunculkan pertanyaan besar tentang masa depan profesi engineer. Jika AI menulis kode, maka nilai utama manusia bukan lagi kecepatan mengetik sintaks, melainkan kemampuan memahami masalah dan merancang solusi yang tepat.

Dalam konteks itu, beberapa area yang justru makin penting adalah sebagai berikut:

  1. Desain arsitektur sistem.
  2. Review dan validasi kualitas kode AI.
  3. Penentuan kebutuhan produk.
  4. Koordinasi lintas tim teknis dan bisnis.
  5. Pengawasan keamanan, kepatuhan, dan keandalan sistem.

Perusahaan tetap membutuhkan engineer yang mampu membaca konteks bisnis dan risiko teknis. AI bisa mempercepat eksekusi, tetapi belum menggantikan tanggung jawab akhir atas mutu produk yang dirilis ke pengguna.

Perkembangan di Uber memperlihatkan bahwa industri software sedang bergerak ke model kerja baru. Kode semakin banyak dihasilkan mesin, sementara manusia mengambil posisi sebagai pengarah sistem, evaluator hasil, dan penentu keputusan teknis yang sulit diautomasi.

Source: www.indiatoday.in
Exit mobile version