Tinder sedang menguji fitur baru yang memberi kecerdasan buatan akses ke seluruh galeri foto pengguna. Tujuannya adalah membantu menyusun profil kencan dengan memilih foto yang dinilai paling relevan, terang, dan menarik.
Informasi ini mencuat setelah Android Authority mengutip laporan 404 Media tentang uji coba fitur tersebut. Tinder disebut mulai menyiapkan perilisan akses awal di Australia pada bulan ini.
Bagi pengguna, tawaran ini terdengar praktis karena proses mengisi profil sering dianggap merepotkan. Namun, kemudahan itu memunculkan kekhawatiran besar soal privasi karena AI tidak hanya melihat foto selfie yang memang disiapkan untuk profil.
Apa yang sedang diuji Tinder
Berdasarkan laporan yang dikutip Android Authority, AI Tinder akan memindai galeri penuh untuk membaca tema dan minat pengguna. Sistem itu disebut mencari petunjuk dari foto hewan peliharaan, aktivitas, makanan, dan elemen lain yang bisa membantu membentuk identitas profil.
AI juga dirancang untuk menilai kualitas visual foto. Dengan cara itu, Tinder dapat memberi saran gambar mana yang lebih baik untuk diunggah ke profil.
Hal yang paling banyak disorot adalah pengguna tidak bisa memilih foto mana yang boleh atau tidak boleh dianalisis. Artinya, ketika izin diberikan, sistem akan memeriksa seluruh galeri yang tersedia, selain foto yang sudah dihapus dan konten dalam folder tersembunyi.
Situasi itu membuat cakupan analisis menjadi sangat luas. Foto keluarga, dokumen sensitif, hingga gambar yang bersifat pribadi berpotensi ikut terbaca oleh sistem sebelum pengguna memutuskan apa yang akhirnya akan dibagikan ke profil publik.
Penjelasan Tinder soal privasi
Menanggapi pertanyaan soal keamanan data, Kepala Produk Tinder Mark Kantor mengatakan AI akan berusaha menyaring gambar eksplisit. Ia juga menyatakan data yang ditarik dari foto tidak akan disimpan di server Tinder.
Menurut Kantor, pemrosesan tersebut berlangsung di perangkat pengguna. Ia mengatakan, “It’s purely on your device,” dan menambahkan bahwa apa pun yang tidak masuk ke profil publik akan dihapus.
Pernyataan itu penting karena menunjukkan Tinder ingin menenangkan kekhawatiran soal penyimpanan data terpusat. Namun, kekhawatiran belum sepenuhnya hilang karena akses awal ke seluruh galeri tetap dianggap sebagai bentuk izin yang sangat luas.
Kantor juga menegaskan bahwa keputusan akhir tetap ada pada pengguna. “It’s up to you to figure out what you’re comfortable sharing back with Tinder,” ujarnya kepada 404 Media seperti dikutip Android Authority.
Mengapa fitur ini dianggap sensitif
Di banyak aplikasi, izin akses foto biasanya dibatasi pada file tertentu yang dipilih pengguna. Model seperti itu memberi kontrol lebih besar dan mengurangi risiko analisis terhadap konten yang tidak relevan.
Dalam kasus Tinder, justru aspek itu yang menjadi sorotan utama. Pengguna tidak diberi opsi untuk menunjuk beberapa foto saja agar diproses oleh AI.
Secara praktis, fitur ini memang bisa menghemat waktu. Banyak orang kesulitan memilih foto profil yang menampilkan kepribadian tanpa terlihat berlebihan, sehingga rekomendasi otomatis dapat terasa membantu.
Namun, dari sisi perlindungan data, pendekatan ini menuntut tingkat kepercayaan yang tinggi kepada platform. Terlebih, isi galeri ponsel biasanya jauh lebih pribadi dibanding informasi yang sengaja diunggah ke media sosial.
Potensi pengembangan fitur AI Tinder
Tinder tampaknya tidak berhenti pada rekomendasi foto tunggal. Perusahaan juga disebut mempertimbangkan fitur yang bisa mengubah koleksi gambar menjadi kolase yang lebih besar untuk profil.
Kantor memberi gambaran bahwa Tinder tidak akan menyederhanakan galeri ekstrem dari puluhan ribu foto menjadi hanya beberapa gambar. Sistem akan mencoba membaca pola minat berdasarkan kumpulan foto yang benar-benar konsisten.
Ia mencontohkan bahwa satu foto anjing dari puluhan ribu gambar tidak otomatis membuat seseorang terlihat sebagai pecinta anjing. Pendekatan ini menunjukkan AI akan mencari tema yang berulang sebelum menarik kesimpulan tentang minat pengguna.
AI makin besar perannya di Tinder
Laporan tersebut juga menyoroti bahwa Tinder sangat serius mengadopsi AI. Disebutkan lebih dari setengah kode aplikasi kini melibatkan AI.
Tren ini sejalan dengan penggunaan AI yang makin luas di industri teknologi. Android Authority juga menyinggung pernyataan co-CEO Spotify Gustav Söderström dalam panggilan kinerja kuartalan, yang mengatakan pengembang terbaik di perusahaannya tidak menulis satu baris kode pun sejak Desember karena terbantu sistem AI internal.
Bagi Tinder, pemakaian AI jelas bukan hanya soal efisiensi internal. Perusahaan kini mendorong AI masuk lebih dalam ke pengalaman pengguna, termasuk ke area yang sangat pribadi seperti galeri foto.
Dari sudut pandang produk, langkah ini bisa membuat pembuatan profil menjadi lebih cepat dan lebih terarah. Dari sudut pandang pengguna, keputusan untuk mengaktifkannya akan sangat bergantung pada seberapa besar kenyamanan mereka memberi akses luas ke isi ponsel demi mendapatkan saran profil yang lebih cerdas.
Source: www.androidauthority.com






