Hari-hari terakhir Ramadan menjadi waktu yang paling dicari banyak umat Islam untuk menyempurnakan ibadah sebelum Idul Fitri tiba. Pada fase ini, doa akhir Ramadan yang dinisbahkan kepada Rasulullah SAW kembali banyak diamalkan karena berisi harapan agar puasa diterima dan rahmat Allah SWT tetap menyertai setelah bulan suci berakhir.
Rujukan yang sering dikutip berasal dari kitab Lathaif Al-Ma’arif karya Ibnu Rajab Al-Hanbali. Dalam kitab itu dijelaskan, para sahabat dan generasi salaf terbiasa berdoa selama berbulan-bulan setelah Ramadan agar amal mereka diterima, menunjukkan bahwa penerimaan ibadah menjadi perhatian utama, bukan sekadar selesainya puasa.
Doa akhir Ramadan yang banyak diamalkan
Doa yang populer dibaca pada penghujung Ramadan berbunyi: Allahumma laa taj’alhu aakhiral ‘ahdi min shiyaamina iyyaahu, fa in ja’altahu faj’alnii marhuuman wa laa taj’alnii mahruuman. Doa ini berarti permohonan agar puasa Ramadan bukan menjadi yang terakhir dalam hidup, dan jika memang itu yang ditetapkan, seorang hamba memohon agar tetap mendapat kasih sayang Allah, bukan terhalang dari rahmat-Nya.
Isi doa tersebut memuat dua pesan penting. Pertama, ada kerinduan untuk kembali bertemu Ramadan pada masa mendatang, dan kedua, ada kesadaran bahwa umur manusia berada dalam ketetapan Allah SWT.
Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ Fatawa menekankan pentingnya penutup amal atau khatimah. Karena itu, hari-hari terakhir Ramadan dipandang sangat menentukan kualitas keseluruhan ibadah yang telah dijalani sejak awal bulan.
Mengapa akhir Ramadan sangat penting
Dalam tradisi Islam, sepuluh malam terakhir Ramadan memiliki posisi istimewa. Pada fase inilah umat Islam dianjurkan meningkatkan kesungguhan ibadah, termasuk i’tikaf, qiyamul lail, doa, tilawah, dan sedekah.
Aisyah RA meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW meningkatkan ibadahnya pada sepuluh malam terakhir melebihi malam-malam lainnya. Riwayat ini dikenal luas dalam hadis sahih dan menjadi dasar kuat mengapa penghujung Ramadan dipandang sebagai momentum puncak.
Amalan penting menjelang Idul Fitri
Berikut amalan yang banyak dianjurkan ulama berdasarkan hadis sahih dan atsar sahabat. Daftar ini relevan dilakukan menjelang Idul Fitri selama tetap menyesuaikan kemampuan masing-masing.
-
Memperbanyak i’tikaf di masjid
Rasulullah SAW disebut rutin beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir Ramadan hingga wafat. Riwayat ini termuat dalam Shahih Bukhari No. 2026 dan menjadi landasan utama amalan i’tikaf. -
Membaca doa ampunan pada malam-malam ganjil
Doa yang diajarkan kepada Aisyah RA adalah: Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘annii. Hadis riwayat Tirmidzi No. 3513 ini sangat populer dibaca saat mengharap Lailatul Qadar. -
Menunaikan zakat fitrah
Zakat fitrah berfungsi menyucikan orang yang berpuasa dari perkataan sia-sia dan kotor. Hadis dari Ibnu Abbas RA dalam riwayat Abu Daud No. 1609 juga menjelaskan fungsi sosial zakat fitrah sebagai makanan bagi orang miskin. -
Menghidupkan malam dengan shalat lail
Dalam Shahih Muslim No. 759, Nabi SAW bersabda bahwa siapa yang mendirikan shalat pada malam Lailatul Qadar dengan iman dan mengharap pahala, dosa-dosanya yang telah lalu diampuni. Pesan ini membuat shalat malam menjadi salah satu amalan paling ditekankan pada akhir Ramadan. -
Memperbanyak sedekah
Dalam Shahih Bukhari disebutkan Rasulullah SAW adalah orang yang paling dermawan, dan kedermawanan beliau semakin besar pada Ramadan. Nilai ini sering dijadikan teladan untuk memperbanyak bantuan kepada fakir miskin, keluarga, dan lingkungan sekitar menjelang hari raya. -
Mengkhatamkan dan mentadaburi Al-Qur’an
Riwayat Bukhari No. 1902 menerangkan bahwa Jibril menyimak bacaan Al-Qur’an Nabi SAW setiap malam di bulan Ramadan. Dari sini, ulama menilai penghujung Ramadan sangat tepat digunakan untuk menuntaskan tilawah sekaligus memperdalam maknanya. - Mempersiapkan diri untuk shalat Id
Atsar tentang Ibnu Umar RA dalam Al-Muwatha’ karya Imam Malik menyebut beliau mandi sebelum pergi ke tempat shalat Idul Fitri. Praktik ini dipahami sebagai bentuk menjaga kebersihan dan memuliakan syiar hari raya.
Fokus utama bukan hanya akhir puasa
Ulama mengingatkan bahwa nilai Ramadan tidak berhenti saat takbir Idul Fitri berkumandang. Yang lebih penting adalah kesinambungan amal setelah Ramadan, karena tanda diterimanya ibadah sering dikaitkan dengan kemampuan menjaga ketaatan di hari-hari berikutnya.
Karena itu, doa akhir Ramadan tidak hanya dibaca sebagai ungkapan sedih berpisah dengan bulan suci. Doa itu juga menjadi isyarat agar seorang Muslim tetap berada dalam rahmat Allah SWT, menjaga kualitas ibadah, serta menyambut Idul Fitri dengan hati yang bersih, amal yang matang, dan kepedulian sosial yang nyata.









