
Meta kembali mengambil langkah efisiensi dengan memutus hubungan kerja ratusan karyawan di berbagai unit, di tengah dorongan besar perusahaan untuk mengalihkan lebih banyak sumber daya ke pengembangan kecerdasan buatan. Kebijakan ini menegaskan bahwa prioritas baru Meta kini makin bergeser dari ekspansi lama ke arah AI, sementara masa depan metaverse kembali dipertanyakan.
Keputusan tersebut datang saat perusahaan masih berusaha menjaga keseimbangan keuangan di tengah belanja infrastruktur teknologi yang sangat besar. Di saat yang sama, pemangkasan ini memunculkan pertanyaan baru tentang arah bisnis Meta, khususnya bagi divisi Reality Labs yang selama ini menjadi simbol taruhan besar Mark Zuckerberg pada dunia virtual.
PHK di saat investasi AI membesar
Menurut laporan Engadget yang dikutip Kamis, Meta mengonfirmasi pemangkasan ratusan pekerja. Jumlah itu memang lebih kecil dari rumor sebelumnya yang sempat menyebut potensi pengurangan tenaga kerja hingga 20 persen, tetapi tetap menjadi sinyal bahwa perusahaan masih menekan biaya operasional.
Hingga akhir tahun lalu, Meta tercatat memiliki sekitar 79.000 karyawan. Dengan skala sebesar itu, pemangkasan ratusan orang mungkin terlihat terbatas, namun para analis menilai langkah ini bisa menjadi awal dari efisiensi yang lebih luas jika belanja AI terus meningkat.
Reality Labs kembali terkena dampak
Divisi Reality Labs disebut sebagai salah satu area yang paling terdampak dalam gelombang PHK terbaru. Divisi ini menjadi rumah bagi proyek virtual reality dan metaverse Meta, dua inisiatif yang dulu diposisikan sebagai masa depan perusahaan.
Sejak awal 2021, Reality Labs telah mencatat kerugian kumulatif lebih dari $70 miliar. Angka itu menggambarkan betapa mahalnya ambisi Meta membangun ekosistem virtual, sementara hasil bisnisnya belum mampu menutup biaya pengembangan yang terus membengkak.
Pemangkasan terbaru ini juga menyusul hilangnya 1.000 pekerjaan di divisi yang sama pada Januari. Pola tersebut menunjukkan bahwa tekanan terhadap bisnis metaverse tidak lagi bersifat sementara, melainkan semakin struktural di dalam perusahaan.
Meta semakin condong ke AI
Arah baru Meta terlihat dari besarnya investasi yang disiapkan untuk AI. Perusahaan dikabarkan merencanakan belanja hingga $600 miliar untuk pembangunan pusat data global sampai akhir 2028.
Untuk menopang rencana itu, manajemen disebut telah meminta para manajer di berbagai lini, termasuk perekrutan, penjualan, dan operasional global, menyusun pemangkasan biaya. Langkah ini menandakan bahwa infrastruktur AI memerlukan modal jauh lebih besar daripada yang selama ini dibayangkan pasar.
Berikut gambaran perubahan prioritas Meta dalam beberapa tahun terakhir:
- Fokus besar pada metaverse dan virtual reality saat rebranding besar dilakukan pada 2021.
- Kerugian besar terus menumpuk di Reality Labs.
- Investasi AI dan pusat data kini dipercepat.
- Pegawai di sejumlah divisi mulai terkena imbas efisiensi.
- Meta makin diposisikan sebagai pemain utama AI, bukan lagi semata perusahaan metaverse.
Pernyataan Mark Zuckerberg pada Januari lalu juga menambah gambaran arah baru itu. Ia menyebut era AI dapat membuat proyek besar yang dulu membutuhkan banyak orang kini bisa diselesaikan oleh satu talenta kuat dengan bantuan teknologi.
Kontras tajam di level eksekutif
Di tengah kabar PHK, perhatian publik juga tertuju pada paket kompensasi baru untuk enam eksekutif puncak Meta. Berdasarkan dokumen yang diajukan ke SEC, sejumlah petinggi seperti CTO Andrew Bosworth, CFO Susan Li, COO Javier Olivan, dan CPO Chris Cox berpotensi meraih keuntungan hingga $2,7 miliar per orang jika target kinerja perusahaan tercapai.
Kontras antara pengurangan tenaga kerja dan skema bonus besar di level atas memicu kritik soal etika manajemen perusahaan teknologi. Situasi ini juga memperlihatkan bagaimana perusahaan sedang berusaha keras mempertahankan daya saing di era AI, meski harus mengambil keputusan sulit di internal organisasi.
Bagi pasar, langkah Meta ini memberi sinyal bahwa perang investasi AI belum menunjukkan tanda mereda. Bagi proyek metaverse, kabar PHK terbaru justru memperkuat kesan bahwa masa depannya kian berada di ujung tanduk, terutama jika divisi Reality Labs terus dipangkas sementara modal perusahaan semakin diarahkan ke pembangunan infrastruktur AI skala besar.
Source: id.mashable.com








