Ledakan industri AI mulai memberi dampak tak terduga pada pasar konsol genggam. Kenaikan kebutuhan pusat data terhadap RAM dan media penyimpanan membuat pasokan komponen mengetat, lalu menekan lini produksi perangkat gaming portabel.
Dampaknya tidak berhenti pada keterlambatan produksi. Harga perangkat naik, beberapa model dibatalkan, dan produsen kecil kehilangan ruang gerak karena harus bersaing dengan raksasa teknologi yang menyerap pasokan komponen dalam jumlah besar.
AI menyedot RAM dan storage dari pasar
Laporan yang dirujuk ETA Prime menyebut permintaan RAM dan storage melonjak karena ekspansi pusat data AI milik perusahaan besar seperti Nvidia, Microsoft, dan Google. Komponen yang sama juga dipakai oleh produsen handheld gaming, sehingga tekanan pasokan langsung terasa di segmen ini.
Dalam rantai pasok semikonduktor, pelanggan skala enterprise biasanya mendapat prioritas lebih tinggi. Akibatnya, produsen perangkat konsumen, terutama yang volumenya lebih kecil, harus menerima harga lebih mahal dan waktu pengiriman lebih lama.
Kondisi ini sangat krusial karena handheld modern tidak lagi mengandalkan komponen sederhana. Perangkat kelas baru membutuhkan RAM berkapasitas besar dan penyimpanan cepat agar mampu menjalankan game PC, emulasi, serta sistem operasi yang semakin berat.
Produsen kecil menjadi pihak yang paling terpukul
Perusahaan seperti AYANEO dan Retroid disebut termasuk yang paling terdampak. Keduanya tidak memiliki daya beli sebesar perusahaan teknologi besar, sehingga posisi tawarnya dalam mengamankan komponen menjadi lebih lemah.
AYANEO, menurut data pada artikel referensi, menangguhkan penjualan Neo Next 2 setelah biaya produksi naik dari $2,000 menjadi hampir $4,000. Lonjakan ini menunjukkan bahwa kenaikan harga komponen bukan lagi sekadar penyesuaian kecil, melainkan bisa mengubah kelayakan bisnis sebuah produk.
Retroid juga melakukan penyesuaian serius. Varian 12GB dari Pocket 6 dihentikan, sementara produksi Pocket G2 sempat ditunda karena tekanan biaya dan ketersediaan komponen.
Dampaknya menjalar ke perangkat yang semula menyasar kelas harga lebih ramah. Retroid Pocket Classic dan AYN Odin 3 dilaporkan ikut mengalami kenaikan harga, sehingga akses konsumen terhadap handheld terjangkau makin terbatas.
Pemain besar pun tidak kebal
Masalah ini bukan hanya milik merek kecil. Valve dan Lenovo juga disebut menghadapi gangguan produksi serta kenaikan biaya dalam pengembangan produk andalan mereka.
Valve dilaporkan mengurangi produksi Steam Deck dan menghentikan model LCD. Artikel referensi juga menyebut peluncuran Steam Machine ditunda tanpa kepastian waktu, menggambarkan bahwa tekanan biaya dan suplai telah memengaruhi strategi perusahaan yang lebih mapan.
Lenovo menghadapi tantangan serupa pada Legion Go 2. Perangkat tersebut masih diposisikan sebagai produk inovatif, tetapi ekspektasi harganya bergerak ke level premium karena ongkos produksi ikut naik.
Asus dengan ROG Ally X juga menjadi contoh bagaimana inovasi tetap berjalan, tetapi makin mahal. Situasi ini membuat handheld kelas atas berpotensi hanya menjangkau segmen penggemar tertentu, bukan pasar massal.
Efek berantai ke harga, inovasi, dan jadwal rilis
Krisis komponen tidak hanya menaikkan harga jual. Produsen juga harus memilih antara mempertahankan spesifikasi, memangkas fitur, atau menunda peluncuran sampai biaya lebih terkendali.
Artikel referensi menambahkan bahwa keterlambatan chip dari pemasok besar seperti Intel dan Qualcomm ikut memperlambat hadirnya generasi handheld berikutnya. Ini membuat produsen menghadapi dua tekanan sekaligus, yaitu mahalnya memori dan storage serta tersendatnya pasokan prosesor.
Dalam praktiknya, kondisi itu mengubah strategi produk. Banyak merek cenderung mendorong model premium dengan margin lebih besar, karena perangkat murah semakin sulit dipertahankan ketika biaya komponen melonjak.
Perubahan perilaku konsumen mulai terlihat
Saat perangkat baru makin mahal, konsumen mencari alternatif. Pasar barang bekas menjadi tujuan utama karena model lama seperti Steam Deck generasi sebelumnya masih dinilai cukup menarik untuk bermain game dengan biaya lebih rendah.
Namun pasar secondhand pun tidak sepenuhnya aman dari tekanan harga. Ketika pasokan perangkat baru terbatas, permintaan terhadap unit bekas ikut naik dan mendorong harga tetap tinggi.
Di saat yang sama, cloud gaming dan game mobile muncul sebagai jalan lain. Keduanya menawarkan akses lebih murah dibanding membeli handheld baru yang harganya terus menanjak akibat krisis komponen.
Dampak utama yang sedang membentuk ulang pasar
- Pasokan RAM dan storage tersedot oleh pusat data AI.
- Biaya produksi handheld naik tajam di banyak merek.
- Beberapa model dibatalkan atau dihentikan penjualannya.
- Perangkat baru bergeser ke segmen premium.
- Konsumen beralih ke pasar bekas, cloud gaming, dan mobile gaming.
Menurut artikel referensi, tekanan pasokan ini diperkirakan bisa bertahan setidaknya hingga 2027. Jika tren ekspansi AI terus berlanjut, persaingan memperebutkan komponen penting akan tetap tinggi dan industri handheld gaming kemungkinan harus beroperasi dengan pilihan produk yang lebih sempit, harga yang lebih mahal, serta inovasi yang semakin selektif.
Source: www.geeky-gadgets.com