Usai Guncangan Claude ke Saham SaaS, Wipro Pasang Taruhan Besar lewat Unit AI Baru

Wipro mengambil langkah besar di bidang kecerdasan buatan dengan membentuk divisi khusus bernama AI-Native Business and Platforms. Unit baru ini disiapkan untuk mengembangkan solusi agentic AI tingkat enterprise di tengah tekanan besar yang sedang dihadapi industri software-as-a-service atau SaaS.

Langkah itu muncul hanya beberapa pekan setelah gejolak pasar yang disebut “SaaSpocalypse”, ketika pembaruan Claude dari Anthropic memicu kekhawatiran baru terhadap prospek saham perusahaan SaaS. Dalam konteks itu, keputusan Wipro menunjukkan bahwa perusahaan tidak memilih bertahan pasif, melainkan mempercepat reposisi bisnis ke arah AI.

Wipro susun unit AI terpusat

Wipro menyatakan unit AI-native ini akan menyatukan berbagai aset platform perusahaan dalam satu payung. Aset tersebut mencakup platform vertikal seperti NetOxygen untuk layanan pinjaman berbasis AI, CROAMIS untuk kargo penerbangan, serta platform kesehatan IHS dan HPS.

Dengan struktur baru ini, Wipro ingin mempercepat pengembangan produk dan layanan AI yang lebih terintegrasi. Fokus utamanya adalah membangun aliran bisnis baru yang digerakkan AI, sekaligus menawarkan solusi yang lebih spesifik untuk kebutuhan perusahaan besar.

Nagendra Bandaru ditunjuk sebagai CEO

Perusahaan menunjuk Nagendra Bandaru sebagai CEO unit AI tersebut. Bandaru merupakan eksekutif senior yang telah menghabiskan hampir tiga dekade di Wipro dan akan melapor langsung kepada CEO dan Managing Director Wipro, Srini Pallia.

Sebelum penugasan baru ini, Bandaru menjabat sebagai President and Managing Partner of Technology Services Global Business Lines. Posisi lamanya kini diisi Kanwar Singh, mantan eksekutif Accenture, yang masuk untuk memimpin peran tersebut.

Penunjukan Bandaru memberi sinyal bahwa Wipro memilih sosok internal yang memahami struktur bisnis perusahaan secara mendalam. Ini penting karena unit AI baru tidak hanya berfungsi sebagai laboratorium inovasi, tetapi juga sebagai mesin komersial yang harus terhubung dengan bisnis inti.

Apa yang akan dikerjakan unit AI Wipro

Secara garis besar, unit baru Wipro akan bergerak di beberapa area utama berikut:

  1. Mengintegrasikan aset platform yang sudah dimiliki Wipro.
  2. Mengembangkan solusi agentic AI untuk kebutuhan enterprise.
  3. Menciptakan lini bisnis baru berbasis AI.
  4. Bekerja sama dengan Wipro Ventures dan ekosistem mitra.

Agentic AI merujuk pada sistem AI yang dapat menjalankan tugas lebih mandiri, termasuk mengambil langkah lanjutan berdasarkan tujuan yang ditetapkan. Bagi perusahaan teknologi layanan, kemampuan semacam ini dinilai penting karena dapat mengotomatisasi proses kerja yang sebelumnya bergantung pada banyak tenaga manusia.

Tekanan pasar setelah pembaruan Claude

Pembentukan unit baru ini juga tidak bisa dilepaskan dari perubahan sentimen investor terhadap sektor SaaS. Alat-alat AI generatif dan AI agentik kini dipandang mampu mengambil alih berbagai tugas yang selama ini menjadi fondasi model bisnis SaaS.

Artikel referensi menyebut pembaruan Claude Cowork dari Anthropic ikut memicu kekhawatiran tersebut. Dampaknya, sejumlah saham perusahaan SaaS mengalami tekanan karena pasar mulai menilai ulang seberapa tahan model bisnis lama terhadap gelombang otomatisasi baru.

Anthropic sendiri menjadi simbol kuat perubahan itu. Menurut data dalam artikel referensi, perusahaan yang baru berdiri lima tahun tersebut kini memiliki kapitalisasi pasar sebesar $380 billion, lebih tinggi daripada gabungan nilai Infosys, Wipro, TCS, dan HCL.

Angka itu menunjukkan skala perubahan yang sedang terjadi di industri teknologi global. Bagi perusahaan jasa TI seperti Wipro, AI bukan lagi sekadar fitur tambahan, melainkan area strategis yang bisa menentukan daya saing jangka menengah.

Wipro tidak memulai dari nol

Wipro telah memiliki sejumlah kerja sama AI sebelum pembentukan unit baru ini. Perusahaan sebelumnya bermitra dengan Microsoft untuk memanfaatkan alat generative AI melalui Azure OpenAI.

Di saat yang sama, Capco yang merupakan anak usaha Wipro juga menandatangani kesepakatan dengan OpenAI pada tahun lalu. Rekam jejak ini menunjukkan bahwa Wipro telah menyiapkan fondasi kolaborasi teknologi sebelum akhirnya memilih membangun struktur AI yang lebih terfokus.

Langkah Wipro juga sejalan dengan arah industri TI India yang semakin agresif di AI. TCS, misalnya, telah mengonfirmasi bahwa perusahaan sedang membangun AI-native operating system untuk bisnis pada awal tahun ini.

Perubahan lain di tubuh Wipro

Di tengah restrukturisasi AI, Wipro juga mengonfirmasi pengunduran diri Suzanne Dann, CEO Americas-2 Strategic Market Unit. Unit Americas-2 menyumbang sekitar sepertiga pendapatan Wipro dan mencakup pasar Kanada serta bisnis perbankan, jasa keuangan, dan energi di Amerika Serikat.

Suzanne Dann disebut meninggalkan perusahaan untuk mengejar peluang pribadi. Perubahan kepemimpinan di salah satu unit penghasil pendapatan terbesar ini menambah perhatian pasar terhadap arah transformasi Wipro, terutama saat perusahaan berupaya menyeimbangkan penataan organisasi dengan dorongan ekspansi AI yang semakin agresif.

Source: www.indiatoday.in
Exit mobile version