Penjualan mobil harga terjangkau di Indonesia mulai kehilangan daya tarik di tengah tekanan ekonomi yang belum sepenuhnya reda. Segmen Low Cost Green Car atau LCGC yang lama dikenal sebagai pintu masuk kepemilikan mobil pertama kini menghadapi penurunan permintaan yang cukup tajam.
Data dari artikel referensi menunjukkan penjualan LCGC sepanjang 2025 hanya sekitar 130 ribu unit. Angka itu menyusut sekitar 30 persen dan menandai perubahan besar pada perilaku belanja konsumen, terutama dari kelompok kelas menengah.
Penurunan Pangsa Pasar LCGC
Berkurangnya penjualan tidak hanya terlihat dari jumlah unit, tetapi juga dari porsi pasar nasional. Pada 2024, kontribusi LCGC masih berada di level 20,1 persen, lalu turun menjadi 15,7 persen pada tahun berikutnya.
Penurunan ini memberi sinyal bahwa mobil murah tidak lagi otomatis menjadi pilihan utama saat kondisi ekonomi melemah. Banyak konsumen yang sebelumnya membidik LCGC justru memilih menunda pembelian karena beban kebutuhan pokok dan biaya hidup terus naik.
Pantauan di lapangan dalam artikel referensi menyebut tren ini terasa di kota-kota penyangga seperti Surabaya dan Madura. Wilayah seperti itu selama ini menjadi pasar penting bagi model LCGC karena karakter konsumennya sensitif terhadap cicilan, uang muka, dan biaya operasional.
Mengapa Daya Tarik Mobil Murah Melemah
Ada beberapa faktor yang membuat segmen ini tertekan. Salah satu yang paling menonjol adalah melemahnya daya beli masyarakat kelas menengah, yang selama ini menjadi basis utama pembeli mobil pertama.
Selain itu, konsumen semakin berhati-hati mengambil kredit jangka panjang. Saat pendapatan tidak tumbuh secepat pengeluaran rumah tangga, keputusan membeli mobil baru cenderung ditunda meski produk yang ditawarkan berada di kelas harga terjangkau.
Secara umum, pembelian mobil sangat bergantung pada rasa aman finansial. Ketika ketidakpastian ekonomi meningkat, rumah tangga lebih memilih menjaga likuiditas daripada menambah kewajiban cicilan bulanan.
Nasib LCGC pada 2026
Prospek LCGC pada 2026 sangat bergantung pada kondisi ekonomi domestik. Jika daya beli membaik, inflasi terkendali, dan kepercayaan konsumen pulih, segmen ini masih punya peluang bangkit karena tetap menyasar kebutuhan dasar mobilitas.
Namun jika tekanan ekonomi berlanjut, pasar LCGC berpotensi tetap tertahan. Kondisi itu bisa membuat produsen harus bekerja lebih keras lewat strategi promosi, skema pembiayaan yang lebih ringan, serta penyegaran produk agar tetap relevan bagi pembeli pemula.
Berikut faktor yang akan menentukan arah pasar LCGC pada 2026:
- Pemulihan daya beli kelas menengah.
- Stabilitas suku bunga dan cicilan kredit kendaraan.
- Kenaikan atau penahanan harga mobil baru.
- Besaran insentif dan kebijakan otomotif nasional.
- Tingkat kepercayaan konsumen terhadap kondisi ekonomi.
Di tengah perubahan ini, LCGC masih memegang peran penting sebagai segmen mobil paling terjangkau bagi banyak rumah tangga. Namun data penjualan terbaru menunjukkan bahwa label “murah” saja tidak lagi cukup, karena keputusan membeli mobil kini makin ditentukan oleh seberapa kuat kondisi ekonomi menopang kebutuhan nonprimer.






