MacBook Neo mulai banyak dibicarakan setelah muncul ulasan pemakaian selama satu minggu yang menyorot dua hal sekaligus. Di satu sisi, laptop ini dinilai cukup kencang dan nyaman untuk kebutuhan harian hingga editing ringan, tetapi di sisi lain ada beberapa pemangkasan fitur yang membuat Apple disebut terlalu pelit.
Sorotan lain yang paling menarik justru datang dari posisi produk ini di pasar. MacBook Neo dianggap berpotensi “memakan” segmen produknya sendiri karena harus berhadapan langsung dengan MacBook Air M2 yang selisih harganya dinilai tidak terlalu jauh, sementara spesifikasi Air M2 di atas kertas masih lebih unggul di beberapa aspek.
Performa masih meyakinkan meski pakai chip kelas iPhone
Berdasarkan testimoni yang diunggah kreator teknologi Joerdy melalui akun @joerdy.s, MacBook Neo menggunakan chip A18 Pro. Chip ini dikenal sebagai platform yang juga dipakai pada iPhone 16 Pro, sehingga sejak awal sudah memunculkan rasa penasaran soal performanya di perangkat laptop.
Dalam pemakaian selama satu minggu, performanya disebut masih “oke banget” walau RAM yang dibawa hanya 8GB. Penilaian ini penting karena menunjukkan MacBook Neo masih sanggup menjalankan macOS untuk kebutuhan produktivitas umum, konsumsi hiburan, dan sebagian pekerjaan kreatif ringan.
Untuk skenario kerja nyata, perangkat ini dipakai mengedit konten selama beberapa hari. Rekaman yang diproses disebut menggunakan format 4K 30fps 10-bit 4:2:2, sebuah format yang cukup berat untuk laptop entry level.
Hasilnya, MacBook Neo dinilai masih cukup untuk kreator konten. Namun, gejala lag mulai muncul ketika timeline video menumpuk dan ada aplikasi lain yang berjalan bersamaan, terutama saat preview diputar pada kualitas penuh tanpa proxy.
Agar lebih ringan, penggunaan proxy dan penurunan kualitas preview disarankan. Saat rendering video Full HD H.264 30 fps dengan bitrate tinggi, performanya disebut tidak berbeda jauh dari MacBook Air M3 yang selama ini dipakai pembanding oleh pengulas.
Masalah besar justru datang dari saudara sendiri
Kritik paling tajam bukan tertuju pada performa dasar, melainkan pada posisi produk. Joerdy menilai MacBook Neo harus bersaing langsung dengan MacBook Air M2, padahal harga keduanya disebut sudah tidak berbeda jauh.
Ini menjadi masalah karena MacBook Air M2 masih terlihat lebih kuat di atas kertas. Dalam konteks pasar, kondisi seperti ini bisa membuat calon pembeli bingung karena MacBook Neo yang semestinya menjadi pintu masuk ke ekosistem Mac justru dibayangi model lama yang masih sangat kompetitif.
Bagi Apple, benturan internal semacam ini bukan hal kecil. Jika selisih harga terlalu tipis, konsumen cenderung membandingkan nilai yang didapat dari tiap perangkat secara lebih ketat, termasuk performa, fitur, dan kenyamanan pemakaian jangka panjang.
Layar cukup enak untuk hiburan, belum ideal untuk kreator visual
Dari sisi layar, MacBook Neo dinilai memadai untuk menikmati konten hiburan. Warna yang dihasilkan disebut cukup nyaman untuk menonton dan penggunaan kasual sehari-hari.
Namun, keterbatasannya mulai terasa untuk editing foto dan video yang menuntut akurasi warna tinggi. Alasannya, panel yang digunakan masih berada di cakupan sRGB, sehingga belum ideal untuk pekerjaan profesional yang bergantung pada reproduksi warna presisi.
Apple dikritik pelit di fitur dasar
Salah satu poin yang paling banyak disorot adalah absennya Touch ID pada varian 256GB. Menurut ulasan tersebut, keputusan ini justru menyulitkan pengguna karena fitur biometrik sudah dianggap sebagai kebutuhan dasar untuk laptop modern.
Kritik terhadap Apple juga muncul pada keyboard backlit. Meski tombol masih terlihat di ruangan gelap berkat pantulan cahaya layar, ketiadaan backlit tetap dianggap sebagai bentuk pemangkasan yang terlalu jauh untuk perangkat di kelasnya.
Berikut poin fitur yang dipersoalkan:
- Varian 256GB tidak memiliki Touch ID.
- Keyboard disebut tidak dibekali backlit.
- Trackpad Neo masih mekanikal, bukan haptic seperti MacBook Air dan MacBook Pro.
Trackpad mekanikal ini membuat sensasi klik terasa berbeda. Saat ditekan, bunyinya disebut masih agak berisik dibanding trackpad haptic di lini MacBook yang lebih tinggi.
Meski begitu, kenyamanan mengetik tetap mendapat nilai positif. Keyboard-nya disebut masih khas Apple dan tetap nyaman dipakai dalam durasi lama.
Speaker dan suhu jadi nilai tambah
Di tengah sejumlah pengurangan fitur, MacBook Neo masih punya sisi yang cukup diapresiasi. Speaker yang hanya berjumlah dua unit ternyata tidak dianggap mengecewakan, bahkan dinilai enak untuk ukuran laptop tipis.
Suhu perangkat juga disebut tergolong adem saat dipakai mengedit proyek berjam-jam. Kondisi termal yang stabil ini ikut membantu baterai tetap efisien, sehingga laptop tidak cepat boros saat dipakai untuk pekerjaan produktif.
Secara umum, MacBook Neo terlihat menarik bagi pengguna baru yang ingin masuk ke ekosistem macOS dengan harga lebih terjangkau. Namun sebelum memilih, calon pembeli perlu mencermati detail seperti Touch ID, kualitas layar, tipe trackpad, serta kedekatan harganya dengan MacBook Air M2 yang sampai sekarang masih menjadi lawan terberatnya di rak yang sama.







