SOHO Menyaksikan Komet MAPS Hancur Dekat Matahari, Debu Sisa Terpantau Dari Jauh

Author: Qoo Media

Pesawat-pesawat antariksa NASA berhasil merekam detik-detik akhir komet C/2026 A1 (MAPS) saat melintas sangat dekat dengan Matahari. Data yang dikirimkan SOHO menunjukkan komet itu sempat tampak utuh sebelum akhirnya lenyap dan menyisakan awan debu.

Peristiwa itu terjadi saat MAPS bergerak pada jarak sekitar dua kali jarak rata-rata Bulan ke Bumi dari Matahari. Bagi pengamat komet, objek ini sempat dianggap berpotensi bertahan dari panas ekstrem, tetapi pengamatan terbaru justru mengonfirmasi kehancuran totalnya.

Pantauan dari koronagraf SOHO

SOHO, singkatan dari Solar and Heliospheric Observatory, merupakan misi gabungan NASA dan Badan Antariksa Eropa atau ESA. Instrumen koronagraf di wahana ini menutupi piringan Matahari agar objek redup di sekitarnya tetap bisa terlihat.

Dari pengamatan itu, komet MAPS terlihat mendekat sebelum menghilang di balik cakram koronagraf. Beberapa jam kemudian, yang tertangkap justru hanya awan debu dari sisi lain piringan, tanda komet telah hancur.

Karl Battams dari Laboratorium Penelitian Angkatan Laut AS mengatakan, "Komet itu jelas hancur." Ia menambahkan bahwa keruntuhan itu kemungkinan terjadi beberapa jam sebelum titik terdekatnya dengan Matahari.

Sudut pandang berbeda dari STEREO

Gambaran kehancuran MAPS tidak hanya datang dari SOHO. Misi STEREO atau Solar Terrestrial Relations Observatory memberikan perspektif lain yang membantu menjelaskan apa yang terjadi di dekat Matahari.

STEREO melihat komet dari sudut 54,5 derajat dari garis Matahari-Bumi. Dari sudut itu, MAPS tampak sedang mengitari Matahari ketika tubuhnya mulai hancur akibat suhu yang sangat ekstrem, bukan karena menabrak permukaan Matahari.

Jejak pengamatan dari armada heliofisika NASA

Selain SOHO dan STEREO, misi PUNCH atau Polarimeter to Unify the Corona and Heliosphere juga ikut melacak pergerakan komet ini. Ketiganya menjadi bagian dari armada heliofisika NASA yang disusun untuk mengamati pengaruh Matahari terhadap tata surya dari berbagai arah.

Pendekatan multiwahana ini membuat proses kehancuran komet bisa dilihat dari banyak sudut sekaligus. Hasilnya memberi gambaran lebih jelas tentang bagaimana objek kecil seperti komet bereaksi ketika masuk ke wilayah panas di sekitar Matahari.

Asal-usul komet MAPS

Komet MAPS pertama kali ditemukan pada 13 Januari 2026 oleh teleskop di Chile yang terhubung dengan program MAPS. Program itu dibentuk oleh astronom amatir Alain Maury, Georges Attard, Daniel Parrott, dan Florian Signoret.

MAPS juga termasuk keluarga komet Kreutz sungrazing, yaitu kelompok komet yang orbitnya sangat dekat dengan Matahari. Keluarga ini diyakini berasal dari pecahan sebuah komet raksasa yang terpecah berabad-abad lalu.

Pengamatan terhadap MAPS menambah daftar contoh bagaimana komet sungrazing dapat runtuh saat melewati panas Matahari yang ekstrem. Data dari SOHO, STEREO, dan PUNCH kini menjadi bahan penting untuk memahami perilaku benda langit rapuh yang menempuh lintasan berisiko tinggi di dekat bintang pusat tata surya itu.

Source: mediaindonesia.com
Terbaru