
OpenAI memperluas akses Codex berbasis GPT-5.5 ke seluruh karyawan Nvidia. Langkah ini menandai dorongan baru OpenAI dalam persaingan alat bantu coding AI, sekaligus menunjukkan dukungan kuat dari Nvidia terhadap penggunaan AI di lingkungan kerja skala besar.
Sam Altman menyebut uji peluncuran Codex di seluruh perusahaan bersama Nvidia berjalan sangat baik. Di sisi lain, CEO Nvidia Jensen Huang mendorong adopsi yang lebih luas lewat pesan internal kepada karyawan dengan kalimat singkat, “Let’s jump to lightspeed. Welcome to the age of AI.”
Codex kini dipakai lintas divisi di Nvidia
Menurut posting blog Nvidia, para insinyur perusahaan itu telah mendapat akses ke GPT-5.5 melalui aplikasi Codex selama beberapa minggu. Nvidia menyatakan hasilnya sudah bisa diukur, bukan sekadar klaim awal tanpa bukti penggunaan nyata.
Nvidia mengatakan lebih dari 10.000 karyawan telah memakai Codex bertenaga GPT-5.5. Pengguna itu berasal dari berbagai fungsi, mulai dari engineering, product, legal, marketing, finance, sales, HR, operations, hingga developer programs.
Perusahaan itu menyebut respons internal terhadap alat tersebut sangat positif. Dalam blog resminya, Nvidia menulis para karyawan menggambarkan hasil yang mereka rasakan sebagai sesuatu yang “mind-blowing” dan “life-changing”.
Bagian dari persaingan alat coding AI
Perkembangan ini muncul ketika pasar coding AI sedang memanas. Artikel referensi menyoroti kenaikan popularitas Anthropic, yang banyak dikaitkan dengan Claude Code, sebuah alat AI untuk pemrograman yang mampu menulis ratusan baris kode secara mandiri.
Tekanan dari pertumbuhan Anthropic disebut ikut mendorong OpenAI memperkuat posisi Codex. Dalam beberapa bulan terakhir, OpenAI mengembangkan Codex dari alat pelengkap penulisan kode menjadi ekosistem rekayasa perangkat lunak yang lebih agentic dan lebih luas cakupannya.
OpenAI juga telah menggulirkan model GPT-5.5 terbaru ke dalam Codex. Integrasi ini menjadi inti dari kolaborasi dengan Nvidia, termasuk dalam pengujian penggunaan pada infrastruktur komputasi milik perusahaan chip tersebut.
Keunggulan efisiensi jadi sorotan
Salah satu alasan penting di balik langkah ini diduga berkaitan dengan efisiensi token. Artikel referensi menyebut token adalah satuan pengukuran kerja model AI, sehingga tugas yang lebih berat akan mengonsumsi token lebih banyak.
Konteks ini menjadi relevan setelah pengguna Anthropic sempat mengeluhkan batas token Claude lebih cepat habis dibanding sebelumnya. Dalam situasi seperti itu, efisiensi token menjadi nilai jual penting bagi penyedia model AI yang ingin menarik pelanggan perusahaan.
OpenAI menyatakan Codex dapat menyelesaikan tugas yang sama dengan penggunaan token yang jauh lebih sedikit. Klaim itu diposisikan sebagai keunggulan ganda, karena berarti sistem tidak hanya lebih efisien tetapi juga tetap mampu menangani pekerjaan yang kompleks.
Didukung sistem Nvidia GB200 NVL72
Nvidia menjelaskan Codex dijalankan di atas sistem rack-scale GB200 NVL72. Infrastruktur inilah yang disebut menjadi fondasi penting untuk menjalankan inferensi model frontier pada skala perusahaan.
Dalam blognya, Nvidia menyebut sistem tersebut mampu menghadirkan biaya 35 kali lebih rendah per juta token. Perusahaan juga mengklaim output token per detik per megawatt bisa 50 kali lebih tinggi dibanding sistem generasi sebelumnya.
Bagi perusahaan besar, angka itu penting karena berhubungan langsung dengan biaya operasional dan kecepatan kerja. Nvidia menilai ekonomi seperti ini membuat inferensi model mutakhir menjadi layak diterapkan secara luas di level enterprise.
Dampaknya disebut terasa pada ritme pengembangan perangkat lunak. Nvidia menulis siklus debugging yang sebelumnya memakan waktu berhari-hari kini bisa selesai dalam hitungan jam, sementara eksperimen pada codebase kompleks yang dulu butuh berminggu-minggu kini dapat bergerak hanya dalam semalam.
Sinyal kuat dari Jensen Huang dan Sam Altman
Pernyataan Sam Altman di X memperlihatkan OpenAI melihat peluncuran massal Codex di Nvidia sebagai eksperimen penting. Ia menulis bahwa perusahaan mencoba cara baru bersama Nvidia untuk menggulirkan Codex ke seluruh organisasi, dan hasilnya dinilai sangat memuaskan.
Di sisi Nvidia, dukungan datang langsung dari pucuk pimpinan. Jensen Huang, menurut referensi, mengirim email ke seluruh perusahaan dan meminta karyawan memanfaatkan Codex, sebuah sinyal bahwa adopsi AI tidak lagi dipandang sebagai proyek sampingan.
Pesan Huang juga mempertegas arah strategis Nvidia. Dengan kalimat “Welcome to the age of AI,” ia menempatkan Codex bukan hanya sebagai alat bantu coding, tetapi sebagai bagian dari perubahan cara kerja yang lebih luas di dalam perusahaan.
Kolaborasi ini sekaligus menunjukkan hubungan yang semakin erat antara penyedia model AI dan penyedia infrastruktur komputasi. Di tengah persaingan dengan Claude Code milik Anthropic, OpenAI tampak ingin menunjukkan bahwa Codex tidak hanya kompeten dari sisi kemampuan, tetapi juga siap dipakai secara masif dengan hasil yang terukur di lingkungan kerja nyata.
Source: www.indiatoday.in







