China Genjot Teknologi Digital, Robot Menang Lomba Lari dan Layanan Lansia Makin Canggih

Author: Qoo Media

Integrasi teknologi digital di China bergerak semakin cepat dan mulai terlihat langsung dalam aktivitas publik. Di Beijing, lebih dari 100 robot humanoid ikut dalam setengah maraton Beijing E-Town 2026, sementara di kawasan yang sama robot layanan untuk moksibusi dan pijat sudah dipakai membantu perawatan lansia.

Fenomena itu menunjukkan bahwa digitalisasi di China tidak lagi berhenti pada tahap uji coba. Pemerintah dan industri kini mendorong teknologi masuk ke layanan masyarakat, manufaktur, dan infrastruktur secara lebih luas.

Dorongan paten AI dan infrastruktur digital

Kecerdasan buatan menjadi salah satu motor utama dalam akselerasi tersebut. Pada kuartal pertama tahun ini, jumlah paten terkait AI yang disetujui di China naik 31,2 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Kenaikan ini berjalan seiring dengan fondasi infrastruktur yang besar. Hingga akhir 2025, China telah mengoperasikan lebih dari 4,8 juta stasiun pemancar 5G, dengan basis pengguna internet mencapai 1,125 miliar orang.

Dari jumlah itu, 602 juta pengguna tercatat memakai AI generatif. Data tersebut memperlihatkan skala adopsi teknologi digital yang sangat luas di pasar domestik China.

Ekonomi digital menjadi sumber pertumbuhan

Kontribusi sektor digital juga terlihat di sisi bisnis. Kementerian Perindustrian dan Teknologi Informasi China menyebut ekonomi digital negara itu menghasilkan pendapatan 38,3 triliun yuan dan laba 3,1 triliun yuan pada tahun lalu.

Laba tersebut banyak didorong oleh aplikasi industri, bukan hanya oleh platform konsumen. Artinya, teknologi digital kini semakin kuat dipakai untuk meningkatkan efisiensi produksi dan operasi sektor riil.

Internet industri disebut telah diterapkan di semua sektor utama. Kementerian yang sama juga menyatakan ada 100 pabrik canggih berbasis 5G yang memenuhi standar global terkemuka.

Pabrik-pabrik itu melaporkan hasil yang cukup signifikan. Rata-rata kapasitas produksi naik 25 persen, kualitas produk meningkat 21 persen, dan biaya operasional turun 19 persen.

Arah kebijakan menuju 5G-A dan 6G

China tidak berhenti pada perluasan 5G yang sudah berjalan. Rencana Lima Tahun ke-15 mengusulkan pembangunan infrastruktur baru yang lebih maju, termasuk 500.000 stasiun basis 5G-A, riset lanjutan 6G, serta jaringan internet satelit orbit rendah.

Arah ini menunjukkan bahwa pemerintah ingin menjaga momentum modernisasi digital dalam jangka panjang. Fokusnya bukan hanya pada konektivitas, tetapi juga pada integrasi teknologi dengan industri, layanan, dan ruang publik.

Zhang Ping, akademisi dari Akademi Teknik China, mengatakan 6G akan membawa peningkatan besar dalam kinerja komunikasi. Ia menyebut teknologi itu akan menggabungkan komunikasi, penginderaan, komputasi, AI, dan keamanan secara lebih mendalam.

Menurut Zhang, 6G berpotensi menjadi mesin pertumbuhan ekonomi baru setelah tahun 2030. Pernyataan itu menegaskan ekspektasi bahwa era berikutnya dari transformasi digital akan bergerak lebih jauh dari sekadar kecepatan internet.

Teknologi untuk layanan publik dan tata kelola

Selain industri, China juga menyiapkan digitalisasi untuk layanan masyarakat. Rencana tingkat atas tersebut mencakup pembangunan jaringan layanan publik digital dan cerdas, dengan perluasan penggunaan di bidang kesehatan, perawatan lansia, dan dukungan bagi penyandang disabilitas.

Di lapangan, arah itu sudah mulai tampak melalui penggunaan robot layanan di area perawatan lansia. Kehadiran teknologi di ruang publik memperlihatkan bahwa digitalisasi diarahkan untuk menjawab kebutuhan sosial, bukan hanya mendorong pertumbuhan ekonomi.

Di saat yang sama, regulator memperkuat rambu hukum. Hingga akhir 2025, China telah memperkenalkan lebih dari 180 undang-undang dan peraturan terkait dunia maya.

Undang-Undang Keamanan Siber yang direvisi dan mulai berlaku pada 1 Januari memberi penekanan lebih besar pada etika AI dan pemantauan risiko. Jiang Xiaojuan, direktur komite penasihat ahli data nasional, menekankan bahwa AI harus memberi manfaat nyata bagi kehidupan masyarakat dan tetap selaras dengan penilaian publik.

China juga aktif mendorong kerja sama internasional dalam tata kelola digital. Melalui Inisiatif Global tentang Keamanan Data dan Inisiatif Tata Kelola AI Global, negara itu ingin memperkuat kerangka kerja global di bawah PBB sekaligus mempersempit kesenjangan digital dan mengarahkan kemajuan teknologi agar lebih selaras dengan kebutuhan umat manusia.

Terbaru