Aravind Srinivas menilai iPhone tidak sedang terancam tergeser oleh tren kecerdasan buatan atau AI. CEO Perplexity itu menyebut AI belum menjadi faktor yang cukup kuat untuk mengubah posisi iPhone di pasar ponsel premium.
Pandangan itu muncul saat banyak produsen ponsel berlomba menonjolkan fitur AI di perangkat mereka. Namun, data pasar dan kekuatan ekosistem Apple menunjukkan bahwa minat terhadap iPhone tidak semata ditentukan oleh seberapa canggih fitur AI yang dibawanya.
AI dinilai belum mengganggu posisi iPhone
Dalam episode terbaru podcast This Week in AI, Srinivas mengatakan iPhone “sebenarnya tidak sedang didisrupsi oleh AI sama sekali”. Ia bahkan menilai semakin baik AI bekerja, iPhone justru bisa menjadi semakin penting dalam kehidupan digital pengguna.
Menurut dia, perangkat itu telah berkembang menjadi semacam “paspor digital”. Penilaian tersebut mengacu pada peran iPhone yang kini menyimpan banyak aspek penting kehidupan pengguna, mulai dari dompet digital hingga data pribadi.
Pernyataan itu muncul di tengah penantian terhadap WWDC pada Juni. Acara itu disebut-sebut akan menjadi panggung Apple untuk meluncurkan Siri versi AI dan fitur AI lain yang lebih luas.
Apple sendiri sudah mengumumkan pembaruan besar Siri pada 2025. Namun, peluncurannya disebut mengalami beberapa kali penundaan sejak saat itu.
Sementara itu, iPhone terbaru memang telah membawa Apple Intelligence berbasis AI. Meski begitu, fitur tersebut dalam artikel referensi dinilai belum seimpresif sejumlah kemampuan AI yang sudah hadir di ponsel Android.
Ekosistem Apple disebut jadi penopang utama
Srinivas menekankan bahwa kekuatan Apple tidak hanya terletak pada asisten virtual seperti Siri. Ia menyebut keunggulan merek, ekosistem, chip, dan perangkat keras sebagai faktor yang memberi Apple ruang untuk bergerak lebih lambat tetapi tetap kuat.
Ia mengatakan banyak orang punya pendapat berbeda soal kualitas Siri. Meski demikian, Apple tetap memiliki “kemampuan untuk mengambil waktu” karena perusahaan itu ditopang oleh merek yang sangat dipercaya pengguna.
Menurut Srinivas, efek penguncian ekosistem atau ecosystem lock-in kerap diremehkan. Ia juga menilai perangkat tambahan Apple, keunggulan chip, dan integrasi perangkat keras menjadi nilai besar yang belum sepenuhnya diperhitungkan banyak pihak.
Pandangan ini sejalan dengan laporan Counterpoint. Firma riset itu mencatat Apple meraih pangsa pasar 21% dan pertumbuhan tahunan 5% pada kuartal pertama 2026.
Counterpoint juga menyebut “kelekatan ekosistem” sebagai salah satu pendorong pertumbuhan volume secara keseluruhan. Itu terjadi meski kondisi makro disebut lebih lunak.
iPhone dianggap melekat pada aktivitas harian
Srinivas juga menyoroti alasan praktis mengapa iPhone tetap kuat, terlepas dari perlombaan AI. Menurut dia, posisi iPhone sudah terlalu sentral dalam kehidupan banyak orang.
Ia menyebut iPhone menyimpan dompet, kartu, berbagai pass, dan catatan kesehatan. Perangkat itu juga dipakai untuk terhubung dengan orang lain lewat panggilan, FaceTime, serta menyimpan foto momen penting.
Argumen ini menegaskan bahwa nilai iPhone bagi pengguna tidak hanya datang dari fitur AI. Ada lapisan fungsi personal dan kebiasaan digital yang membuat perangkat tersebut sulit digantikan hanya oleh inovasi AI semata.
Meski Srinivas mengakui pandangan itu mungkin tidak sepenuhnya berlaku di India, arah besarnya tetap sama. iPhone dinilai sudah menjadi pusat banyak aktivitas yang tidak berhubungan langsung dengan AI.
Persaingan AI tetap penting, tetapi bukan penentu tunggal
Pernyataan CEO Perplexity memberi sudut pandang berbeda di tengah narasi bahwa AI akan segera mengubah peta persaingan ponsel. Dalam pandangan ini, fitur AI bisa memperkuat pengalaman pengguna, tetapi belum otomatis mengguncang fondasi bisnis iPhone.
Apple juga masih punya ruang untuk mengejar ketertinggalan persepsi pada fitur AI. Jika peningkatan AI terus hadir, Srinivas menilai hal itu justru dapat memperkuat peran iPhone, bukan melemahkannya.
Karena itu, diskusi soal masa depan iPhone tidak hanya berkutat pada siapa yang paling dahulu menghadirkan AI paling mencolok. Data pasar, kekuatan merek, dan peran iPhone sebagai pusat identitas digital pengguna masih menjadi alasan utama mengapa perangkat ini tetap bertahan kuat di tengah gempuran tren AI.
