MacBook Neo langsung mencuri perhatian karena banderolnya yang jauh lebih ramah di kantong dibanding seri MacBook Air. Namun, harga murah itu datang dengan kompromi yang cukup jelas di beberapa sisi penting, mulai dari layar, konektivitas, hingga kapasitas memori.
Buat pembaca yang sedang membandingkan laptop Apple untuk kerja ringan, sekolah, atau kebutuhan kreatif, perbedaan Neo dengan MacBook Air M1, M3, dan M5 justru ada di detail kecil. Di atas kertas, Neo memang terasa menarik, tetapi seri Air masih membawa paket yang lebih matang untuk penggunaan yang lebih serius.
Desain dan tampilan fisik
MacBook Neo hadir dengan bodi yang sedikit lebih tebal dan mungil dibanding jajaran Air. Sudut bodinya juga lebih membulat, sehingga perangkat ini terasa kokoh untuk dibawa setiap hari.
Neo punya daya tarik visual lewat pilihan warna ceria seperti Citrus dan Indigo, lengkap dengan tuts keyboard putih yang senada. Sebaliknya, MacBook Air mempertahankan profil super tipis dengan warna netral yang lebih berkesan mapan dan profesional.
Di sisi layar, semua model yang dibandingkan sama-sama menawarkan kecerahan maksimal 500 nits. Bedanya, layar Neo tidak mendukung True Tone dan akurasi warna gamut P3, sehingga tampilannya bisa terasa lebih pucat untuk kebutuhan edit warna profesional.
Neo juga unggul dari sisi estetika layar karena tidak memakai poni hitam di bagian atas. Tampilan layar penuh ini menjadi pembeda visual yang cukup mencolok karena poni tetap hadir pada MacBook Air M1 dan generasi Air yang lebih baru.
Kenyamanan pakai dan keamanan
Pengalaman mengetik di MacBook Neo disebut nyaman dan setara dengan MacBook Air generasi M2 dan yang di atasnya. Meski begitu, keyboard Neo tidak punya lampu latar, jadi pengguna perlu lebih beradaptasi saat mengetik di ruangan gelap.
Pada keamanan biometrik, Neo juga tidak sepenuhnya merata di semua varian. Sensor Touch ID hanya tersedia pada versi penyimpanan 512 GB, sedangkan varian termurah masih mengharuskan pengguna memasukkan kata sandi secara manual.
MacBook Air masih lebih unggul dalam urusan navigasi berkat trackpad kaca haptik. Sistem ini memberi sensasi klik yang merata dan senyap di seluruh permukaan, sementara Neo masih memakai trackpad mekanis konvensional dengan bunyi klik yang lebih terdengar.
Audio, kamera, dan port
Untuk speaker, MacBook Air M3 dan M5 tampil paling kuat karena suaranya lebih lantang. Meski begitu, suara stereo MacBook Neo justru terdengar lebih kaya dan mampu melampaui kualitas speaker MacBook Air M1.
Di sektor kamera web, Neo justru tertinggal dari MacBook Air M1. Tingkat resolusi dan ketajaman kamera depan Air M1 masih lebih unggul dibanding kamera bawaan Neo untuk panggilan video.
Keterbatasan Neo juga terlihat pada port konektivitas. Laptop ini hanya menyediakan dua colokan USB Type C, dan salah satunya masih memakai USB 2.0, yang terasa lambat untuk pemindahan file berukuran besar.
Performa, chip, dan penyimpanan
Perbedaan paling besar ada di sektor performa inti. MacBook Air M5 unggul di kelas atas karena dibekali RAM 16 GB, sedangkan MacBook Neo hanya memakai chip iPhone A18 Pro dengan RAM 8 GB.
Kapasitas itu membuat Neo lebih cocok untuk komputasi harian yang ringan. Jika dipaksa membuka banyak tab browser sekaligus menjalankan software berat, perangkat ini akan cepat tersendat.
Namun, Neo tetap punya kejutan di sisi grafis. Berkat dukungan hardware ray tracing bawaan, Neo bisa menyelesaikan render 3D di Blender lebih cepat daripada MacBook Air M1 dan M3.
Di sisi lain, kecepatan baca dan tulis file pada penyimpanan internal Neo tercatat paling lambat di antara model yang dibandingkan. Akibatnya, instalasi aplikasi dan pemindahan data bisa memakan waktu lebih lama.
Pada akhirnya, pilihan paling masuk akal tetap bergantung pada kebutuhan dan anggaran. MacBook Neo cocok untuk pengguna dengan dana terbatas yang hanya butuh laptop ringan untuk tugas sekolah atau hiburan, sedangkan MacBook Air lebih pas bagi pengguna yang mengejar memori luas, port lengkap, dan transfer file yang lebih cepat.
Source: www.idntimes.com






