Fitur yang selama ini identik dengan PC kini mulai memberi dorongan besar bagi pengalaman bermain game PC di Android. Seorang pengembang telah memindahkan Lossless Scaling Frame Generation, atau LSFG, ke Android, membuka jalan bagi peningkatan frame rate di sejumlah game.
Perkembangan ini menarik karena frame generation bukan sekadar interpolation biasa. Teknologi ini membuat frame tambahan untuk menghadirkan tampilan yang terasa lebih mulus, dan kini sudah mulai bisa dipakai di ponsel Android melalui aplikasi GameNative.
LSFG dikenal sebagai utilitas yang awalnya tersedia di Steam. Alat ini memakai Vulkan untuk menghadirkan frame generation di berbagai game, termasuk judul yang tidak punya dukungan frame generation atau scaling bawaan.
Kehadirannya di Android menjadi penting karena ekosistem ini mulai serius mengejar gaming PC portabel. Bagi pengguna yang menjalankan game PC lewat perangkat Android, fitur seperti ini bisa menjadi salah satu peningkatan paling terasa dalam penggunaan sehari-hari.
Sudah terpasang di GameNative
Kabar baiknya, fitur tersebut sudah terintegrasi ke dalam GameNative versi 0.9.1. Opsi pengaturannya juga ditempatkan di menu quick access, sehingga pengguna bisa mengubah setelan dengan lebih praktis saat bermain.
Namun, ada syarat yang tidak bisa diabaikan. Port mobile ini tetap memerlukan salinan aplikasi PC Lossless Scaling seharga $7.
Catatan perubahan GameNative menjelaskan bahwa jika fitur diaktifkan lewat container settings, pengguna akan diminta mengunduh aplikasi lossless scaling bila memang memilikinya di Steam. Jika tidak, aplikasi akan memberi tahu bahwa pengguna perlu membelinya terlebih dahulu.
Dari sisi perangkat, dukungannya juga belum berlaku luas untuk semua ponsel Android. Fitur ini tampaknya membutuhkan prosesor Snapdragon dengan GPU Adreno seri 600 atau yang lebih baru.
Kenapa fitur ini terasa besar untuk Android
Frame interpolation sudah lama dipakai untuk membuat animasi game terasa lebih halus. Tetapi frame generation melangkah lebih jauh karena sistem ini membuat frame tambahan, yang di platform lain biasanya dikaitkan dengan pendekatan berbasis AI.
Di Android, kemunculan LSFG memberi manfaat nyata bagi pengguna yang mengejar sensasi visual lebih mulus tanpa harus menunggu dukungan bawaan dari tiap game. Ini sangat relevan untuk game PC yang dijalankan lewat lapisan kompatibilitas atau container dan belum memiliki teknologi serupa secara native.
Video yang dibagikan akun X milik GameNative menunjukkan contoh hasil yang cukup mencolok. Dalam demonstrasi itu, The Last of Us Part 1 disebut bisa naik dari 30fps menjadi lebih dari 80fps dengan solusi frame generation tersebut.
Laporan pengguna lain juga menggambarkan lonjakan serupa, meski bervariasi tergantung game dan perangkat. Ada yang menyebut peningkatan dari 30fps ke 60fps, sementara yang lain melaporkan dari 60fps ke 120fps.
Ada kompromi yang perlu diperhatikan
Peningkatan frame rate itu tidak datang tanpa konsekuensi. Pengembang port Android ini menjelaskan bahwa versi mobile memiliki tambahan latensi sekitar 50 hingga 80 milidetik dibanding versi Linux.
Penyebabnya terkait keterbatasan teknis Android non-root. Tidak ada mekanisme setara Vulkan implicit layer seperti di Linux, dan Android 12 ke atas secara eksplisit memblokir pemuatan kode eksternal ke proses yang tidak dapat di-debug.
Akibatnya, aplikasi ini tidak bisa langsung mengait ke Vulkan swapchain dari aplikasi lain. Frame generation akhirnya berjalan lewat aliran tangkapan layar MediaProjection, lalu hasilnya ditampilkan melalui overlay sistem di atas aplikasi target.
Pendekatan itu membuat fitur ini lebih mudah diterapkan di Android modern, tetapi juga memunculkan jeda yang signifikan. Karena itu, pengguna sebaiknya berhati-hati saat mengaktifkannya pada game yang menuntut refleks sangat cepat.
Game aksi kompetitif atau judul yang bergantung pada respons instan bisa terasa kurang nyaman jika latensinya terlalu tinggi. Sebaliknya, game yang lebih sinematik atau tidak terlalu menuntut reaksi sepersekian detik mungkin masih bisa mendapat manfaat lebih besar dari peningkatan kelancaran visualnya.
LSFG juga bukan solusi ajaib untuk semua kondisi. Jika perangkat Android sejak awal sudah kesulitan menjaga frame rate pada level yang layak dimainkan, hasil akhirnya tidak bisa diharapkan spektakuler.
Persaingan fitur frame generation mulai bergerak
GameNative bukan satu-satunya aplikasi yang bergerak ke arah ini. Aplikasi GameHub juga baru memperoleh fitur AI frame generation melalui versi 6.0.1, meski belum jelas apakah implementasinya memakai dasar LSFG atau pendekatan lain.
Masuknya fitur sejenis ke lebih dari satu aplikasi menunjukkan arah baru dalam PC gaming di Android. Fokus pengembang kini bukan hanya membuat game bisa berjalan, tetapi juga membuatnya tampil lebih halus dan lebih enak dimainkan di layar ponsel.
Untuk saat ini, LSFG di Android tampak paling menarik bagi pengguna yang sudah berada di ekosistem GameNative dan memiliki perangkat yang kompatibel. Selama ekspektasi tetap realistis soal latensi dan beban perangkat, fitur ini bisa menjadi salah satu lompatan paling penting untuk membawa pengalaman gaming PC di Android ke level yang lebih tinggi.
Source: www.androidauthority.com






