Setelah sebulan memakai laptop Snapdragon X2 sebagai perangkat kerja penuh waktu, kesan yang muncul justru jauh lebih positif dari yang semula diperkirakan. Perangkat ini bukan hanya sanggup menjalankan rutinitas harian tanpa hambatan berarti, tetapi juga mengubah cara bekerja karena daya tahan baterainya yang panjang dan performanya yang konsisten.
Keraguan terhadap Windows on Snapdragon sebenarnya sudah muncul sejak Qualcomm memperkenalkan generasi pertama Snapdragon X SoC pada 2023. Saat itu, efisiensi di dunia nyata, performa, dan dorongan besar ke fitur AI lewat Copilot+ belum terlihat sebagai keunggulan yang meyakinkan bagi pengguna sehari-hari.
Namun, perkembangan berikutnya membuat peta persaingan berubah. Snapdragon X generasi pertama ikut mendorong revolusi kecil di pasar Windows PC dan menekan sorotan yang selama bertahun-tahun hampir selalu mengarah ke Intel dan AMD.
Salah satu titik baliknya datang dari ASUS Zenbook A14 yang rilis pada awal 2025. Laptop itu disebut sangat ringan, sangat awet, dan menawarkan nilai yang tinggi, sampai membuat tim Windows Central meninjau ulang posisi laptop Snapdragon X dalam daftar rekomendasi mereka.
Pengalaman penuh pertama dengan Snapdragon X2 datang lewat Lenovo Yoga Slim 7x (Gen 11). Inilah laptop pertama yang benar-benar memberi pengalaman menyeluruh terhadap silicon Snapdragon X2, setelah sebelumnya hanya sempat mencoba Windows on Snapdragon dengan chip Qualcomm generasi awal.
Performa yang nyaris tak terasa bekerja keras
Pada benchmark, Snapdragon X2 Elite Extreme (X2E-94) memang berada di puncak, sementara Snapdragon X2 Elite (X2E-88) di Yoga Slim 7x hanya sedikit di bawahnya. Chip ini melampaui Core Ultra 9 285H pada Yoga Pro 9i (Gen 10) dan juga Intel Core Ultra X7 358H “Panther Lake” di Samsung Galaxy Book6 Pro.
Di sisi single-core, chip M5 pada MacBook Air 13 inci masih unggul tipis. Tetapi dalam performa multi-core, Qualcomm justru menang cukup jelas.
Yang lebih penting, performa itu terasa stabil dalam penggunaan harian. Aktivitas seperti mengedit foto beresolusi tinggi, browsing berat, menulis, spreadsheet, panggilan video, Slack, dan streaming bisa dijalankan tanpa membuat chip terasa kewalahan.
Kipas laptop juga hampir tidak pernah terdengar. Suara kipas hanya muncul saat uji rendering Cinebench dengan semua inti chip bekerja, sementara di luar itu perangkat tetap senyap baik saat terhubung ke charger maupun saat tidak.
Efisiensi daya yang mengubah kebiasaan kerja
Efisiensi menjadi bagian paling menonjol dari pengalaman ini. Setelah laptop terbukti mampu bertahan satu hari kerja penuh tanpa diisi daya, penggunaan pun bergeser menjauh dari meja kerja dan adaptor AC.
Yoga Slim 7x (Gen 11) memakai baterai 70Wh, dan laporan baterai Windows menunjukkan waktu pakai rata-rata sedikit di atas 14 jam sebelum harus diisi ulang. Bahkan setelah satu minggu penggunaan harian, rata-rata itu hanya turun sekitar lima menit.
Angka itu membuat laptop ini cukup untuk dipakai bekerja seharian, lalu dipakai streaming video pada malam hari, dan diisi daya semalaman untuk siap dipakai lagi keesokan hari. Daya tahan siaga juga disebut sekitar 350 jam, sehingga perangkat tidak langsung habis meski lupa dicolok semalaman.
Laporan baterai Windows dinilai lebih akurat dibanding rundown streaming video atau tes PCMark 10. Tes lain memang berguna untuk perbandingan, tetapi laporan baterai dinilai lebih representatif untuk membaca kebiasaan pakai nyata.
Kompatibilitas aplikasi yang makin tidak jadi masalah
Keberatan terbesar terhadap Windows on Snapdragon biasanya datang dari soal kompatibilitas aplikasi. Karena Qualcomm memakai arsitektur ARM64, aplikasi untuk chip x86 Intel dan AMD tidak selalu bisa berjalan secara native.
Masalah itu mulai mengecil berkat dua hal. Yang pertama adalah semakin banyak pengembang merilis versi ARM64 native, sementara yang kedua adalah lapisan terjemahan Prism dari Microsoft yang memungkinkan aplikasi x86 berjalan di sistem ARM64.
Dalam penggunaan sehari-hari, hambatan itu hampir tidak terasa. Aplikasi utama seperti Slack, GIMP, Spotify, Telegram, dan Edge sudah tersedia dalam versi ARM64 native, dan hanya sebagian kecil software khusus seperti Adobe Premiere Pro atau AutoCAD yang masih lebih sering bergantung pada emulasi.
Untuk pengguna Windows kasual, kompatibilitas ARM64 disebut nyaris tidak menjadi masalah. Gaming tetap menjadi titik lemah terbesar, terutama jika game memakai sistem anti-cheat khusus tanpa dukungan native.
Meski begitu, pengalaman bermain game ARM64 disebut terus membaik, terutama untuk judul ringan. Tetapi untuk laptop gaming, Intel atau AMD tetap lebih aman dipilih agar masalah kompatibilitas bisa dihindari.
Pada akhirnya, kombinasi performa tinggi, baterai yang sangat tahan lama, dan kompatibilitas aplikasi yang jauh membaik membuat Snapdragon X2 terasa mudah direkomendasikan. Qualcomm juga disebut mampu menjual chip ini dengan harga lebih rendah dibanding spesifikasi Intel dan AMD yang sekelas, sehingga laptop Snapdragon X2 masuk kategori salah satu nilai terbaik di pasar saat ini.
