OpenAI menghadapi gugatan class action di Amerika Serikat atas tuduhan membagikan data pengguna ChatGPT kepada Google dan Meta tanpa persetujuan yang memadai. Gugatan ini langsung menarik perhatian karena data yang dipersoalkan disebut mencakup kueri pengguna, detail pribadi, hingga alamat email.
Perkara itu diajukan di pengadilan federal California pada Rabu. Inti tuduhannya adalah data pengguna di ChatGPT.com diduga dikumpulkan melalui alat pelacak yang tertanam di situs lalu dikirim secara otomatis ke Google dan Meta.
Kasus ini menjadi sensitif karena chatbot AI kerap dipakai seperti ruang pribadi digital. Banyak pengguna memasukkan pertanyaan soal kesehatan, masalah hukum, kondisi keuangan, dan persoalan pribadi dengan asumsi percakapan itu tidak diperlakukan seperti lalu lintas iklan biasa.
Dalam dokumen gugatan, penggugat menilai pengguna memiliki ekspektasi privasi yang wajar saat memakai chatbot AI. Mereka juga menekankan bahwa isu privasi di ChatGPT memiliki dampak luas terhadap kendali individu atas data pribadi mereka.
Dugaan alat pelacak di balik pengumpulan data
Gugatan menyebut OpenAI menanamkan kode yang disediakan Meta dan Google untuk kebutuhan analitik dan periklanan di situs ChatGPT. Dua nama yang disebut secara spesifik adalah Meta Pixel dan Google Analytics.
Teknologi semacam ini lazim dipakai operator situs untuk mengukur trafik dan mendukung penargetan iklan. Dalam praktik umum di internet, alat tersebut dapat membantu menampilkan iklan yang disesuaikan dengan aktivitas pengguna di sebuah situs.
Ilustrasinya sederhana. Saat seseorang mencari televisi baru di internet lalu kembali melihat iklan televisi di situs lain, sistem pelacakan dan penargetan iklan seperti inilah yang sering bekerja di belakang layar.
Jika tuduhan dalam gugatan terbukti, konsekuensinya bisa jauh lebih serius dari sekadar analitik kunjungan web. Gugatan itu menyiratkan bahwa kueri pengguna di ChatGPT berpotensi dipakai untuk membantu penayangan iklan tertarget secara online.
Mengapa isu ini dinilai besar
Dokumen perkara menyoroti cara orang menggunakan chatbot AI dalam kehidupan sehari-hari. Tidak sedikit yang memakainya untuk mencari saran kesehatan, membahas masalah uang, atau menanyakan persoalan hukum yang sangat sensitif.
Gugatan juga mengutip laporan Cyberhaven yang memperkirakan sekitar 1 persen data yang ditempelkan karyawan ke ChatGPT bersifat rahasia. Kekhawatiran itu kemudian diperluas ke penggunaan oleh individu yang memasukkan informasi pribadi saat meminta bantuan dari chatbot.
Bila data semacam itu benar ikut terbaca oleh alat pelacak pihak ketiga, masalahnya bukan lagi soal kebiasaan menjelajah internet. Fokusnya bergeser ke kemungkinan paparan informasi yang biasanya dianggap sangat privat oleh pengguna.
Perkara ini karena itu tidak hanya menyoal satu platform, tetapi juga cara ekosistem AI generatif diperlakukan dalam kerangka privasi digital. Semakin banyak orang bergantung pada chatbot, semakin besar pula perhatian terhadap bagaimana data mereka diproses di balik layanan tersebut.
Ruang lingkup gugatan dan dasar hukum
Gugatan ini mencakup warga Amerika Serikat yang memasukkan kueri ke ChatGPT.com. Penggugat menuduh perusahaan melanggar California Invasion of Privacy Act dan Electronic Communications Privacy Act, yang juga disebut sebagai CIPA dalam dokumen tersebut.
Selain ganti rugi, gugatan itu meminta penghentian praktik yang dituduhkan. Dengan kata lain, perkara ini tidak hanya mengejar kompensasi, tetapi juga perubahan pada cara data pengguna diduga dikumpulkan dan dibagikan.
Sampai laporan ini ditulis, OpenAI belum memberikan tanggapan atas pengajuan gugatan tersebut. Karena itu, tuduhan yang ada saat ini masih berada pada tahap klaim hukum dan belum diuji di persidangan.
Status itu penting untuk dicatat. Pengadilan belum memutus apakah OpenAI benar melakukan pelanggaran seperti yang dituduhkan dalam berkas perkara.
Bukan kasus pertama yang menyerempet chatbot AI
Gugatan ini juga muncul setelah keluhan serupa pernah diajukan terhadap Perplexity AI terkait dugaan penggunaan pelacak Meta dan Google. Namun, perkara tersebut kemudian dibatalkan secara sukarela.
Meski kasus sebelumnya tidak berlanjut, kemunculan gugatan baru terhadap OpenAI menunjukkan bahwa penggunaan alat analitik dan iklan di layanan AI kini berada di bawah sorotan yang lebih tajam. Isu utamanya bukan hanya teknologi pelacakan itu sendiri, melainkan jenis informasi yang mungkin disentuh ketika layanan yang dipakai adalah chatbot percakapan.
Bagi pengguna, perkara ini menyoroti jurang antara cara perusahaan melihat data untuk analitik dan cara publik memandang percakapan dengan AI sebagai ruang yang lebih personal. Itulah sebabnya sengketa ini berpotensi menjadi salah satu ujian penting bagi batas privasi di era chatbot generatif.
Source: www.indiatoday.in