
HP akhirnya mengakui apa yang selama ini sudah lama terlihat di pasar PC: banyak pelanggan belum siap pindah dari Windows 10. Dalam penjelasan kepada investor, perusahaan menyebut sekitar 30 persen basis pengguna terpasangnya masih berada di Windows 10, meski dukungan resmi sistem operasi itu sudah dihentikan Microsoft.
Situasi ini menunjukkan transisi ke Windows 11 berjalan lebih lambat dari yang diharapkan. HP menilai penundaan migrasi itu justru menjadi peluang jangka pendek bagi bisnisnya, karena masih ada perangkat yang perlu diganti atau diperbarui.
Pergeseran yang tidak terjadi secepat harapan Microsoft
Microsoft menghentikan dukungan Windows 10 pada 14 Oktober 2025. Keputusan itu membuat sekitar 400 juta PC terdampak karena tidak memenuhi persyaratan perangkat keras yang ketat untuk naik ke Windows 11.
Data HP juga sejalan dengan indikasi dari Dell pada September 2025, ketika kedua pembuat PC itu menyebut hingga 50 persen PC masih menjalankan Windows 10. Angka terbaru HP memang turun, tetapi masih cukup besar untuk menunjukkan bahwa adopsi Windows 11 belum berlangsung merata.
Ketan Patel, presiden personal systems HP, mengatakan ada sekitar 30 persen basis terpasang yang masih harus di-refresh. Ia menyebut kondisi itu sebagai “tailwind” atau dorongan positif yang masih bisa dimanfaatkan dalam jangka pendek.
Wilayah tertentu masih tertinggal
Karen Parkhill, CFO HP, menyampaikan hal serupa dan menegaskan bahwa tren ini sangat terasa di wilayah EMEA dan APJ. Untuk FY26Q2 yang berakhir pada 30 April, pendapatan HP naik 9 persen secara tahunan menjadi $14.41 miliar.
Pernyataan itu memperlihatkan bahwa laju peralihan tidak sama di semua pasar. Menurut HP, penyegaran Windows 11 yang sudah didorong di EMEA dan APJ kini mulai mendekati tingkat yang terlihat di Amerika Utara.
ESU jadi solusi sementara, bukan jawaban utama
Microsoft sempat mengabaikan desakan dan petisi pengguna yang meminta perpanjangan dukungan Windows 10. Sebagai kompromi, perusahaan membuka program Extended Security Updates atau ESU, yang bisa diikuti gratis dengan menyinkronkan pengaturan PC ke cloud melalui Microsoft Account, atau dibayar $30 atau 1.000 Microsoft Reward points.
Microsoft kemudian mengubah kebijakan itu untuk wilayah European Economic Area. Di kawasan tersebut, akses ke pembaruan keamanan Windows 10 diperluas secara gratis bagi pengguna yang tidak memenuhi syarat cadangan cloud.
Meski begitu, langkah itu belum meredakan kritik. The Restart Project, yang ikut mengembangkan toolkit “End of 10” untuk membantu pengguna Windows 10 yang tidak bisa pindah ke Windows 11, menilai pembaruan keamanan tambahan itu hanya seperti tombol snooze di menit terakhir.
Kritik soal obsolesensi dan akses perangkat
Sejumlah pengkritik menyebut akhir dukungan Windows 10 sebagai bentuk programmed obsolescence dari Microsoft. Mereka menilai kebijakan itu pada praktiknya mendorong jutaan PC yang masih berfungsi ke masa pensiun dini hanya karena tidak lolos syarat perangkat keras Windows 11.
Public Interest Research Group juga memperingatkan bahwa penghentian dukungan Windows 10 akan berdampak besar pada perangkat lama. Kelompok itu menilai langkah Microsoft dapat memperlebar kesenjangan digital, terutama bagi pengguna yang tidak punya dana untuk membeli perangkat baru.
Belum semua pengguna bergerak
Microsoft sudah berusaha keras mendorong migrasi ke Windows 11. Kampanye itu mencakup iklan pop-up layar penuh, pesan multi-halaman, dan penekanan pada Copilot+ PC serta fitur AI generasi baru, termasuk klaim bahwa “Windows 11 PCs are up to 2.3x faster than Windows 10 PCs.”
Namun, dorongan itu belum sepenuhnya efektif. Rendahnya minat terhadap AI PC yang lebih canggih dan terbatasnya daya beli ikut menjelaskan mengapa banyak pengguna memilih bertahan di Windows 10.
Di sisi lain, masih belum jelas berapa banyak pengguna yang benar-benar sudah mendaftar ESU dan berapa banyak yang tetap memakai Windows 10 tanpa pembaruan keamanan. Di celah ketidakpastian itulah Microsoft masih harus menghadapi kenyataan bahwa perpindahan besar dari Windows 10 ke Windows 11 ternyata jauh lebih sulit dari yang diperkirakan.









