
Banyak gamer ternyata tetap memilih Steam Deck OLED meski harganya naik dan berada di sekitar $790. Pilihan itu muncul di saat Lenovo Legion Go S dibanderol mulai $499.99 dan ASUS ROG Xbox Ally punya MSRP $599, tetapi perangkat Valve tetap cepat habis terjual setelah penyesuaian harga.
Fenomena ini memunculkan pertanyaan yang jelas: mengapa perangkat yang lebih mahal masih diburu, padahal ada opsi lain yang lebih murah dan lebih bertenaga di atas kertas? Jawabannya, menurut percakapan pengguna, tidak hanya soal performa, tetapi juga soal pengalaman pakai yang dianggap lebih praktis.
Bukan sekadar kecepatan
Di diskusi Reddit, banyak pengguna menilai Steam Deck bukan dari tenaga mentahnya saja. Mereka menyukai Valve dan merasa integrasi dengan Steam berjalan sangat mulus.
Bagi pemilik koleksi game Steam, alurnya terasa sederhana. Cukup menyalakan perangkat, masuk ke akun, lalu langsung bermain tanpa banyak langkah tambahan.
Kenyamanan itu menjadi nilai jual besar saat dibandingkan dengan kompetitor. Di segmen handheld, kemudahan akses ke perpustakaan game sering kali lebih penting daripada angka performa semata.
Fitur yang masih dianggap unggul
Walau kalah dalam performa mentah, Steam Deck OLED masih punya beberapa kelebihan teknis yang sering disebut pengguna. Layar OLED menjadi salah satu alasan utama karena memberi pengalaman visual yang lebih menarik.
Trackpads juga kembali sering disebut dalam percakapan itu. Fitur kecil ini bekerja seperti touchpad mini dan memberi kontrol mirip mouse, sehingga navigasi terasa lebih mudah.
Bagi banyak pemain, trackpads juga membuat game strategi lebih nyaman dimainkan. Selain itu, Valve’s handheld dinilai unggul dalam daya tahan baterai dan kualitas speaker.
Harga naik, nilai jual diuji
Kenaikan harga membuat posisi Steam Deck berubah. Sebelumnya, kekuatan utamanya adalah value for money yang kuat, dan banyak kritik menilai Valve justru kehilangan keunggulan paling penting itu.
Di media sosial, perangkat itu bahkan kerap disebut “dead”. Meski begitu, respons pasar tidak sepenuhnya mendukung anggapan tersebut karena perangkat tetap habis terjual tidak lama setelah harga disesuaikan.
Kondisi ini menunjukkan bahwa loyalitas pengguna masih punya pengaruh besar. Valve sekarang harus membuktikan bahwa Steam Deck tetap menarik, meski harganya sudah jauh lebih tinggi dari sebelumnya.
Mengapa tetap dipilih
Bagi sebagian gamer, pilihan ini bukan soal mencari handheld paling kencang. Mereka lebih menghargai perpaduan antara kemudahan, fitur yang spesifik, dan ekosistem Steam yang sudah akrab.
Itulah sebabnya Steam Deck OLED tetap dibeli meski ada Legion Go S dan ROG Xbox Ally di kelas harga lebih rendah. Di pasar handheld PC, nilai sebuah perangkat ternyata tidak selalu ditentukan oleh angka performa paling tinggi.
Source: www.notebookcheck.net








