
Peluang kerja bagi profesional India pemegang visa H-1B di perusahaan teknologi besar Amerika Serikat kini terlihat lebih ketat. Data pengajuan federal menunjukkan Google dan Amazon sama-sama mengurangi jumlah persetujuan perekrutan H-1B, sehingga persaingan untuk masuk ke pasar kerja AS diperkirakan makin keras.
Perubahan ini penting karena kedua perusahaan selama ini dikenal sebagai pemberi kerja utama bagi talenta asing. Bagi banyak pekerja terampil dari India yang ingin pindah ke AS, penurunan ini menandakan bahwa jalur sponsor visa di sektor teknologi tidak lagi selonggar sebelumnya.
Google mencatat sekitar 2.200 persetujuan H-1B pada kuartal kedua tahun ini. Angka itu turun tajam dari sekitar 5.100 persetujuan pada periode yang sama setahun sebelumnya.
Amazon juga mengalami penurunan yang nyata. Persetujuan H-1B perusahaan ini turun dari sekitar 6.100 menjadi 4.300.
Secara gabungan, penurunan di Google dan Amazon menunjukkan pengurangan hingga sekitar 2.900 posisi dibanding periode yang sama tahun lalu. Data itu memberi sinyal bahwa perekrutan tenaga kerja asing di sebagian industri teknologi AS sedang melambat.
Bagi pemegang H-1B atau pelamar baru, dampaknya bukan hanya soal jumlah lowongan yang berkurang. Saat pintu masuk menyempit di perusahaan-perusahaan besar, persaingan antarkandidat cenderung meningkat karena lebih banyak pelamar berebut kesempatan yang lebih sedikit.
Kebijakan imigrasi ikut membentuk tekanan baru
Tren ini muncul ketika pemerintahan AS mendorong agenda imigrasi yang lebih ketat. Lingkungan kebijakan yang lebih keras tampaknya membuat perusahaan yang sebelumnya sangat bergantung pada pekerja H-1B menjadi lebih berhati-hati dalam memberikan sponsor.
Tahun lalu, pemerintahan Trump memperkenalkan biaya pengajuan visa H-1B sebesar $100,000. Kebijakan itu disebut ditujukan untuk mencegah perusahaan lebih mengutamakan pekerja asing dibanding tenaga kerja yang lahir di AS.
Menurut Menteri Keamanan Dalam Negeri Markeayne Mullin, ada 286.000 pelamar visa H-1B secara year-to-date. Dari jumlah itu, lebih dari 200.000 memilih membayar biaya $100,000 agar proses pengajuan bisa dipercepat.
Mullin mengatakan skema tersebut memungkinkan pemrosesan dalam sekitar 15 hari. Sementara itu, pelamar lain tetap menghadapi waktu tunggu yang jauh lebih lama.
Kondisi itu menambah ketidakpastian bagi pekerja asing yang ingin masuk atau bertahan di pasar kerja AS. Bagi profesional India, situasi ini menjadi sangat relevan karena mereka menyumbang lebih dari 70 persen visa H-1B yang disetujui.
Nvidia justru masih membuka ruang
Di tengah perlambatan di Google dan Amazon, Nvidia menunjukkan arah yang berbeda. Perusahaan pembuat chip AI itu memperoleh sertifikasi untuk sekitar 1.200 posisi H-1B selama dua kuartal pertama fiskal 2026, naik dari sekitar 1.000 pada periode yang sama tahun lalu.
Kenaikan ini menunjukkan Nvidia masih agresif mencari talenta di tengah persaingan AI yang semakin intens. Perekrutan perusahaan tersebut mencakup peran rekayasa perangkat keras, pengembangan perangkat lunak, dan posisi yang berhubungan langsung dengan pelanggan untuk membantu implementasi sistem AI.
Permintaan global terhadap infrastruktur AI ikut mendukung ekspansi itu. Kenaikan harga saham Nvidia juga disebut memperkuat paket kompensasi, dengan insentif ekuitas menjadi daya tarik besar bagi pekerja terampil.
Dokumen federal hanya menampilkan gaji pokok, bukan kompensasi berbasis saham atau bonus. Meski begitu, data itu tetap memberi gambaran tentang upaya Nvidia untuk menarik talenta terbaik dari pasar global.
CEO Nvidia Jensen Huang, yang lahir di Taiwan, sebelumnya pernah menegaskan pentingnya imigran bagi misi perusahaan. Sikap itu memperkuat kesan bahwa Nvidia masih terbuka terhadap tenaga kerja internasional ketika sebagian perusahaan lain mulai menahan laju sponsor.
Kekhawatiran pekerja asing belum sepenuhnya hilang
Tren perekrutan ini datang bersamaan dengan kekhawatiran yang lebih luas di kalangan pekerja asing soal aturan imigrasi AS. Awal tahun ini, usulan perubahan pada aturan pemrosesan green card sempat memicu ketakutan bahwa pemegang H-1B harus meninggalkan AS dan menyelesaikan proses residensi permanen dari negara asal mereka.
Kekhawatiran itu kemudian mereda setelah US Citizenship and Immigration Services memberikan klarifikasi. Lembaga tersebut menyatakan pekerja yang pekerjaannya memberi manfaat ekonomi atau melayani kepentingan nasional masih dapat diizinkan tetap berada di AS saat menjalani proses menuju residensi permanen.
Bagi profesional India, penjelasan itu sangat penting karena kelompok ini mendominasi penerima H-1B yang disetujui. Namun, dengan turunnya persetujuan di Google dan Amazon, peluang di perusahaan teknologi besar kini tampak lebih selektif, meski sektor AI masih menyisakan ruang di perusahaan seperti Nvidia.
Source: www.indiatoday.in








