
KDE bersiap menutup satu era penting di desktop Linux. Dukungan sesi X11 di Plasma akan dihentikan setelah Plasma 6.7, sehingga Plasma 6.8 nantinya berjalan penuh dengan Wayland.
Langkah ini muncul saat mayoritas pengguna KDE Plasma sudah meninggalkan X11. Data internal KDE menunjukkan lebih dari 95% pengguna Plasma 6.6 kini memakai Wayland, sementara penggunaan X11 terus menyusut dari rilis ke rilis.
Wayland Jadi Arus Utama
Perubahan ini menandai titik balik yang sudah lama dipersiapkan KDE. Menurut kontributor KDE, David Edmundson, transisi Plasma dari X11 ke Wayland sebenarnya sudah diumumkan sekitar 15 tahun lalu.
Kini, keputusan untuk benar-benar menghapus sesi X11 dinilai makin sulit dihindari. Bukan hanya karena pengguna beralih ke Wayland, tetapi juga karena pengujian dan pengembangan Plasma di X11 praktis sudah tidak lagi menjadi fokus komunitas.
Edmundson menyebut metrik internal KDE menunjukkan hampir tidak ada lagi yang menguji atau mengembangkan Plasma di X11. Dalam praktiknya, platform lama itu disebut sudah ditinggalkan oleh para kontributor KDE.
Situasi tersebut membuat beban pemeliharaan X11 kian sulit dibenarkan. Ketika pengguna aktif, penguji, dan pengembang sama-sama bergeser ke Wayland, dukungan terhadap sistem lama menjadi semakin lemah secara teknis maupun sumber daya.
Plasma 6.7 Jadi Rilis Terakhir dengan X11
KDE menetapkan Plasma 6.7 sebagai rilis terakhir yang masih menyertakan dukungan X11. Setelah itu, Plasma 6.8 akan menjadi fase ketika proyek ini sepenuhnya bertumpu pada Wayland.
Artinya, pengguna yang masih menjalankan sesi Plasma berbasis X11 perlu mulai bersiap. Arah pengembangan desktop KDE ke depan akan dipusatkan pada satu jalur utama, yaitu pengalaman desktop berbasis Wayland.
Bagi KDE, fokus tunggal ini juga memberi ruang untuk konsolidasi pengembangan. Alih-alih membagi perhatian antara dua sistem tampilan, tim dapat memusatkan pemeliharaan, pengujian, dan peningkatan fitur pada platform yang sudah dipakai hampir seluruh basis pengguna.
Kenapa X11 Dihentikan Sekarang
X11 selama bertahun-tahun menjadi fondasi banyak desktop Linux. Namun dalam lanskap saat ini, semakin banyak proyek Linux yang meninggalkan X11, baik di level distribusi maupun lingkungan desktop.
KDE bukan proyek pertama yang bergerak ke arah itu. Tren yang lebih luas menunjukkan tim pengembang Linux kini makin mengandalkan alat kompatibilitas untuk menjaga aplikasi lama tetap berjalan, sambil memindahkan fondasi utama sistem ke Wayland.
Dalam konteks KDE, angka adopsi Wayland yang menembus 95% menjadi argumen paling kuat. Jika hampir semua pengguna Plasma 6.6 sudah berada di Wayland, mempertahankan sesi X11 untuk porsi pengguna yang sangat kecil menjadi keputusan yang sulit dipertahankan.
Faktor lain adalah minimnya aktivitas pengembangan di sisi X11. Sebuah platform bisa tetap tersedia lebih lama jika masih banyak yang menguji, melaporkan masalah, dan memperbaiki bug, tetapi menurut KDE kondisi itu kini nyaris tidak ada lagi untuk Plasma di X11.
Apa yang Masih Tersisa untuk Aplikasi Lama
Meski sesi Plasma berbasis X11 akan dihapus, itu tidak berarti seluruh ekosistem lama langsung berhenti berfungsi. KDE menekankan bahwa XWayland masih tersedia untuk membantu menjalankan aplikasi lawas yang masih bergantung pada X11.
Edmundson juga menyebut dukungan Plasma terhadap XWayland berada pada level yang sangat kuat. Dengan pendekatan ini, aplikasi lama tetap bisa digunakan di lingkungan desktop yang sudah beralih ke Wayland.
Selain itu, Plasma Login Manager tetap memberi opsi untuk masuk ke versi X11 dari lingkungan desktop lain. Jadi, penghentian ini spesifik pada sesi X11 milik Plasma, bukan berarti semua jalur penggunaan X11 di sistem Linux hilang seketika.
Bagi pengguna akhir, perbedaan ini penting. Mereka mungkin tidak lagi bisa memilih sesi Plasma on X11 saat Plasma 6.8 hadir, tetapi masih memiliki jalur kompatibilitas untuk aplikasi lama melalui XWayland atau menggunakan desktop lain yang masih menyediakan sesi X11.
Dampak untuk Pengguna KDE
Kabar ini kemungkinan paling terasa bagi kelompok pengguna yang masih mempertahankan alur kerja lama berbasis X11. Namun angka penggunaan menunjukkan kelompok tersebut kini menjadi minoritas yang sangat kecil di ekosistem Plasma.
Untuk mayoritas pengguna, perubahan ini justru menegaskan kondisi yang sebenarnya sudah berlangsung. Wayland bukan lagi fitur tambahan atau opsi baru, melainkan pusat utama pengembangan KDE Plasma.
Karena itu, penghentian sesi X11 di Plasma 6.8 lebih terlihat sebagai pengesahan atas realitas penggunaan saat ini daripada perubahan mendadak. KDE hanya meresmikan arah yang dalam praktiknya sudah dipilih oleh sebagian besar pengguna dan kontributornya.
Dengan Plasma 6.7 sebagai rilis terakhir yang mendukung X11, fase berikutnya akan menjadi momen ketika KDE menaruh seluruh taruhannya pada Wayland. Data penggunaan, pola pengembangan, dan strategi kompatibilitas yang disiapkan menunjukkan keputusan ini bukan sekadar pemangkasan fitur lama, melainkan penyederhanaan arah desktop KDE untuk generasi berikutnya.
Source: www.xda-developers.com








