
Pengguna perangkat audio pribadi mulai melirik lagi earphone kabel, termasuk dari kalangan Gen Z yang selama ini identik dengan TWS. Pergeseran ini menarik perhatian karena TWS sempat dianggap sebagai simbol kenyamanan dan teknologi yang lebih modern.
Di saat yang sama, sebagian generasi milenial justru merasa pilihan mereka sejak dulu mulai tervalidasi. Bagi kelompok ini, earphone kabel dinilai tetap unggul dalam beberapa hal penting, mulai dari harga, kualitas suara, hingga kepraktisan sehari-hari.
TWS atau True Wireless Stereo adalah headset tanpa kabel yang terhubung secara nirkabel. Saat pertama kali populer, perangkat ini memberi kesan futuristis karena pengguna bisa mendengarkan audio tanpa repot kabel yang menjuntai.
Namun tren pasar menunjukkan arah yang tidak sepenuhnya sejalan dengan citra tersebut. Penjualan earphone kabel disebut meningkat 20 persen, menandakan minat terhadap perangkat audio berkabel belum hilang dan justru kembali menguat.
Kenapa earphone kabel kembali diminati
Salah satu alasan paling menonjol adalah soal harga. Earphone kabel umumnya lebih murah, sehingga lebih mudah dijangkau oleh pengguna yang ingin perangkat audio fungsional tanpa harus mengeluarkan biaya lebih besar.
Faktor kedua adalah kualitas suara yang dianggap lebih baik. Secara teknis, audio pada earphone kabel tidak perlu dikompres melalui sinyal Bluetooth, sehingga pengalaman mendengar dinilai lebih stabil dan tanpa delay.
Bagi sebagian pengguna, perbedaan kecil dalam latensi ini cukup penting. Kondisi tanpa jeda membuat earphone kabel terasa lebih nyaman untuk mendengarkan musik, menonton video, atau aktivitas lain yang menuntut sinkronisasi audio yang presisi.
Keunggulan lain yang sering disebut adalah tidak adanya baterai. Earphone kabel tidak perlu diisi daya, sehingga bisa langsung dipakai kapan saja tanpa harus khawatir kehabisan daya di tengah penggunaan.
Aspek ini juga membuat earphone kabel dianggap lebih praktis dalam rutinitas harian. Pengguna tidak perlu membawa casing pengisian atau mengingat jadwal charging seperti pada perangkat TWS.
Selain itu, perangkat berkabel disebut lebih ramah lingkungan secara teknis. Tidak adanya baterai menjadi salah satu alasan mengapa sebagian pengguna melihat earphone kabel sebagai pilihan yang lebih sederhana dan lebih minim beban perangkat tambahan.
Gen Z mulai mencoba, milenial merasa sudah lebih dulu tahu
Fenomena ini juga dibaca sebagai perubahan selera antargenerasi. Gen Z tumbuh ketika smartphone dan TWS sudah menjadi bagian dari keseharian, sehingga tidak semua dari mereka sempat benar-benar merasakan masa ketika earphone kabel menjadi pilihan utama.
Karena itu, ketika tren earphone kabel kembali naik, ada kesan bahwa sebagian Gen Z baru mulai menemukan kelebihan yang selama ini sudah akrab bagi pengguna yang lebih dulu melewati era perangkat berkabel. Bagi milenial, preferensi terhadap kabel bukan hal baru.
Komentar warganet pun menunjukkan nada serupa. Ada yang menyebut generasi milenial memang sudah lebih suka menggunakan kabel sejak dulu, dan tren saat ini membuat pilihan tersebut kembali dianggap relevan.
Perubahan ini bukan berarti TWS langsung ditinggalkan sepenuhnya. Perangkat nirkabel tetap punya daya tarik tersendiri, terutama karena bebas kabel dan memberi kemudahan mobilitas yang tinggi.
Soal keamanan, bukan Bluetooth yang paling dikhawatirkan
Di tengah tren kembali ke kabel, muncul juga pertanyaan soal keamanan TWS, terutama terkait radiasi. Kekhawatiran ini kerap muncul karena perangkat Bluetooth digunakan sangat dekat dengan telinga dalam durasi yang sering kali lama.
Namun menurut dokter, belum ada bukti kuat bahwa earphone Bluetooth lebih berbahaya dibanding earphone kabel. Sinyal dan radiasi pada perangkat tersebut disebut berenergi rendah.
Dengan kata lain, perangkat wireless dan non-wireless dinilai setara dari sisi risiko umum yang sering dikhawatirkan pengguna. Yang justru perlu diperhatikan adalah kebiasaan penggunaan, bukan semata jenis koneksinya.
Risiko utama muncul jika volume dipasang terlalu tinggi dan dipakai terlalu lama. Pola penggunaan seperti itu dapat menjadi sumber masalah pendengaran, baik saat memakai TWS maupun earphone kabel.
Kondisi ini membuat pilihan antara kabel dan nirkabel kembali bergeser ke kebutuhan masing-masing pengguna. Sebagian mengutamakan kebebasan bergerak, sementara yang lain lebih memilih suara stabil, harga lebih terjangkau, dan tidak perlu mengisi daya.
Di tengah dominasi perangkat serba nirkabel, earphone kabel ternyata belum kehilangan tempat. Bagi banyak pengguna, termasuk sebagian Gen Z yang mulai beralih, perangkat sederhana ini justru menawarkan hal-hal dasar yang paling dicari: suara bagus, harga masuk akal, dan langsung bisa dipakai kapan saja.









